
Zahra bertepuk tangan dengan heboh saat mendengar ucapan Rasya barusan. Berbeda dengan Rasya yang justru menatap Zahra penuh heran.
"Elu kenapa heboh banget, Zae?" Rasya menatap heran ke arah Zahra yang saat ini tampak begitu bahagia.
"Gue seneng aja denger elu hamil."
"Kapan gue ngomong kalau gue hamil?"
Pertanyaan Rasya mampu membuat tawa Zahra memudar seketika beralih menjadi dengkusan kasar. Zahra mengumpati sahabatnya sejak kapan Rasya menjadi bodoh dan lemot.
"Bukannya tadi elu bilang udah telat?"
"Gue telat, tapi bukan berarti hamil, Zaenab!"
"Ya siapa tahu emang beneran ada benih yang tumbuh di rahimmu, Ra. Gimana kalau kita cek aja?" ajak Zahra.
Wajah Rasya mendadak masam. "Gue takut, Ra."
"Oee, sejak kapan elu jadi penakut gini, Ra?" ledek Zahra.
"Zae ...."
"Udahlah, mendingan habis ini kita mampir ke apotek terus beli testpasck. Kita coba di rumah elu." Zahra menggandeng tangan Rasya dan mengajaknya ke mobil.
"Ogah. Gue malu beli gituan. Elu lihat dong, wajah gue masih kaya gadis remaja usia tujuh belas. Ntar dikira gue masih sekolah udah hamil duluan." Rasya menolak. Zahra mengembuskan napas malas mendengar ucapan Rasya.
"Biar gue yang beli." Zahra berkata yakin. Rasya pun setuju dan mereka bergegas menuju ke mobil.
Dani melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah. Namun, sebelumnya Rasya meminta Dani untuk berhenti di salah satu apotek yang mereka lewati nanti. Zahra turun untuk membeli tespack, sedangkan Rasya menunggu di dalam mobil bersama Dani.
Ketika sedang menunggu Zahra, ponsel Rasya terdengar berdering. Rasya menautkan alis saat melihat nama Arga tertera di layar. Rasya pun mengangkat panggilan tersebut.
"Hallo, Kak Arga. Ada apa?" tanya Arga.
"Nona, apakah Anda sudah sampai rumah?" tanya Arga.
"Belum. Aku barusan mampir di kontrakan njemput Zahra. Sekarang aku lagi nunggu Zahra di apotek."
"Apotek? Apa Anda sakit, Nona?"
__ADS_1
"Enggak, Kak. Aku cuman nganter Zahra beli tespack.
"Tespack?" Suara Arga terdengar penuh penekanan.
"Ya. Kenapa?" tanya Rasya heran.
Arga terdiam untuk sesaat, "Tidak apa, Nona. Saya hanya ingin mengatakan pesan dari Tuan Pandu kalau malam ini beliau akan lembur dan mungkin akan pulang tengah malam. Jadi, Anda tidak perlu menunggunya, Nona."
"Aku takut di rumah sendirian, Kak." Rasya merengek.
"Nona, pesan dari Tuan Pandu, kalau Anda takut maka Anda bisa meminta sahabat Anda untuk menginap atau bahkan Nyonya Lisa sekalipun."
"Baiklah. Nanti aku suruh Zaenab nemenin aku aja, deh." Rasya pun mematikan panggilan tersebut tepat ketika Zahra masuk ke mobil.
"Udah dapet?" tanya Rasya saat Zahra baru saja duduk di sampingnya. Zahra tidak menjawab, dia hanya menunjukkan tiga alat tespack berbeda merk. Rasya pun tersenyum puas lalu menyuruh Dani untuk melajukan mobilnya.
***
Ketika mobil yang dikendarai Dani sampai di kediaman Pandu, Zahra sangat terpukau saat melihat betapa megahnya rumah yang saat ini menjadi tempat tinggal sahabatnya. Rasya terkekeh, dan teringat saat pertama kali masuk ke rumah itu. Dulu, Raysa pun merasa kagum saat pertama melihatnya.
Setelah mobil tersebut berhenti, dua orang pengawal yang berjaga di depan pintu utama, segera membuka pintu mobil untuk nona muda mereka. Lagi-lagi Zahra dibuat kagum oleh itu. Rasya pun menarik tubuh Zahra untuk mengajaknya masuk.
"Gila, Ra. Rumah elu mewah banget." Zahra duduk di sofa empuk. Bahkan lebih empuk daripada kasur mereka di kontrakan.
"Sama aja keles. Harta suami adalah milik istri," ujar Zahra. Rasya menonyor kepala Zahra hingga membuat tubuh Zahra terhuyung.
"Ayo bikin sambal lutis." Rasya menarik tangan Zahra dan mengajaknya ke dapur.
Zahra tidak bisa menolak, dan menurut saja saat Rasya mengajaknya ke dapur yang lagi-lagi membuat Zahra terpukau. Beberapa pelayan yang sedang berkutat di dapur berdiri dan menunduk hormat saat melihat kedatangan Rasya.
"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" Joni—kepala pelayan—yang sedang mengatur para karyawan, bertanya kepada Rasya dengan sopan.
"Aku mau bikin sambal lutis, Pak."
"Biar pelayan yang membuatkan, Nona Muda," ucap Joni lagi.
"Tidak usah. Aku mau bikin sendiri aja." Rasya hanya meminta peralatan membuat sambal seperti cobek dan lainnya.
"Biar dibantu dibawakan, Nona?" tawar Joni, tetapi Rasya menggeleng cepat.
__ADS_1
"Tidak." Rasya kembali menolak. "Bawain, Zae."
"Ra, kenapa mesti gue? 'Kan tadi elu ditawari pelayan." Zahra berbisik pelan. Dia takut akan dimarahi Joni karena sedari tadi lelaki itu terus saja mengawasi.
"Enggak. Gue cuma mau berdua sama elu aja, enggak mau sama yang lain." Rasya bersikukuh.
Dengan sangat terpaksa, Zahra menerima cobek dan lainnya lalu membawanya ke taman belakang. Mereka duduk di sebuah Gazebo yang berada di sudut taman. Rasya menyuruh Zahra untuk membuat sambal, sedangkan dirinya mengupas buah.
"Zae, elu jadi daftar di perusahaan laki gue?" Rasya mulai membuka obrolan.
"Iya, kalau diterima. Gue kemarin habis masukin lamaran ke sana. Moga aja diterima dan gue bisa satu tempat kerja sama Mas Yudha." Wajah Zahra berbinar bahagia saat menyebut Yudha dan itu mampu membuat Rasya curiga.
"Gue curiga sama senyum elu, Zae." Rasya memajukan wajahnya untuk menelisik raut wajah Zahra. Namun, tubuhnya terhuyung ke belakang saat Zahra mendorongnya.
"Enggak usah mikir aneh-aneh," cebik Zahra. Rasya tergelak keras.
"Zae, ceritain hubungan elu sama Mas Yudha dong, jiwa kepo gue meronta-ronta." Rasya menatap Zahra dengan lekat.
"Ish! Elu nyebelin!" Zahra mendengkus kasar. "Bukannya gue udah pernah bilang sama elu kalau Mas Yudha itu kakak gue di panti."
"Iya, gue inget. Cuman, roman-romannya gue mencium bau cinta dari sorot mata elu, Zae."
"Enggak usah ngarang elu, Ra! Inget, gue bawa pisau." Zahra mengangkat pisaunya tinggi seolah hendak menusuk Rasya.
Niat hati Zahra hanya ingin bercanda, tetapi tiba-tiba datang pengawal Rasya yang langsung mencekal tangannya. Tubuh Zahra meringsut saat melihat pria berbadan kekar tersebut.
"Jangan pernah sekalipun kamu menyakiti nona muda!" hardik salah satu di antara mereka.
"Ra ...." Wajah Zahra terlihat memelas. Bukannya kasihan, tetapi Rasya justru tergelak keras. "Jangan banget elu, Ra."
"Lepasin dia," suruh Rasya.
"Tapi, Nona ...."
"Dia sahabatku, jadi tidak mungkin menyakitiku. Lebih baik kalian pergi karena aku hanya ingin berdua dengan Zaenab," perintah Rasya.
Pengawal tersebut terlihat ragu-ragu. Mereka khawatir akan terjadi apa-apa dengan Rasya. Melihat kebimbangan di wajah pria kekar tersebut, Rasya mengambil ponsel dan bersiap untuk menghubungi Pandu. Akan tetapi, kedua lelaki itu segera menahan.
"Baik. Kita akan pergi, Nona."
__ADS_1
Pengawal tersebut pun akhirnya pergi dan menjaga Rasya dari kejauhan. Melihat kepergian dua orang tadi, Zahra mengembuskan napas lega.
"Gila, Ra. Elu sekarang nyeremin. Banyak penjaganya. Lebih serem dari anjing herder." Zahra bergidik ngeri.