Gadis Somplak Milik Cassanova

Gadis Somplak Milik Cassanova
54


__ADS_3

Berdiri di depan rumah untuk merasakan hangatnya sinar matahari pagi, Rasya sesekali merentangkan tangan untuk melemaskan otot di tubuhnya yang terasa begitu kaku karena semalam harus berbagi ranjang dengan Gea. Rasya tidak menyangka, di balik sikapnya yang begitu anggun ternyata Gea sangat rusuh saat tidur.


Bukan hanya membuat Rasya terjatuh beberapa kali dari tempat tidur, tetapi mereka juga harus berebut selimut. Luar biasanya lagi, saat ini Gea masih tertidur dengan sangat lelapnya.


Rasya memicingkan mata saat melihat sebuah mobil putih mengkilap berhenti tidak jauh dari tempatnya berdiri. Kening Rasya mengerut dalam mencoba mengamati siapa yang sedang duduk di kursi sopir karena sampai cukup lama, tidak ada tanda-tanda orang tersebut akan keluar.


Tidak kuasa menahan rasa penasarannya, Rasya berjalan mendekat lalu mengetuk kaca mobil berkali-kali. Ketika kaca diturunkan, mata Rasya membola sempurna saat melihat lelaki tampan yang sedang duduk dengan begitu gagah dan kacamata hitam bertengger. Namun, Rasya mendengkus kasar setelahnya saat menyadari siapa pria tersebut.


"Minggirlah, aku akan keluar." Gilang melepas kacamata dengan gerakan memelan, Rasya hampir terpikat lagi kalau saja teriakan dari dalam rumah tidak terdengar.


Rasya dan Pandu sama-sama menoleh ke arah Gea yang sedang berjalan mendekat. Wajah Gea masih begitu kusut dengan khas muka bantal. Rambutnya masih sangat berantakan. Gilang yang melihat itu pun hanya menggeleng tidak percaya.


"Aku lupa kalau kamu mau datang, Lang." Gea menunjukkan rentetan gigi putihnya, tersenyum manis ke arah Gilang.


"Aku tidak menyangka kalau bakal disambut Tarzan," ledek Gilang berusaha menahan tawa. Rasya yang mendengar itu pun ikut menahan tawa, sedangkan Gea justru berlari kembali ke dalam rumah untuk merapikan rambutnya.


Rasya tertawa, sedangkan Gilang segera turun dari mobil. "Kamu tidak mau menyuruhku masuk? Ingat, aku di sini adalah tamu," kata Gilang.


Rasya memutar bola mata malas. Dia baru ingat kalau adik iparnya ini adalah manusia menyebalkan yang kalau bicara seperti boncap level lima puluh. Dengan lesu, Rasya menyuruh Gilang untuk masuk.


"Rumahmu sepi sekali?" tanya Gilang saat baru saja masuk ke ruang tamu.


"Jangan julid!" protes Rasya kesal.


"Aku tidak julid, kamu itu tuh jangan sensian," balas Gilang. Rasya tidak lagi menyahut, meminimalisir agar tidak terjadi perdebatan antara dirinya dan Gilang. Setelah mempersilakan duduk, Rasya segera masuk ke dapur untuk membuatkan minum.


"Wah, ada tamu." Marlina begitu semringah saat melihat lelaki tampan sedang duduk di sofa. Paijo yang berdiri di belakang dengan membawa keranjang belanja hanya mengembuskan napas secara kasar.


"Lho, Bapak sama Ibu udah pulang kencan?" tanya Rasya meledek. Paijo makin terlihat kesal, sedangkan Marlina sibuk merapikan rambutnya yang diikat dengan karet gelang. "Mukanya asem banget, Pak?"


"Gimana enggak asem, Kum, kalau ibumu aja ...."

__ADS_1


"Apa?" sela Marlina. Dia bangkit berdiri dengan tangan berkacak pinggang dan mendelik ke arah Paijo.


"Ibumu cantik." Paijo menjawab sekenanya untuk membela diri.


"Kalau aku ganteng mana mungkin kamu mau sama aku, Pak," timpal Marlina. Dia kembali duduk di samping Gilang yang hanya menatap heran kepada mereka.


"Ya iyalah, jelek-jelek gini aku masih normal kali. Masih tahu mana pisang mana apem." Paijo bergumam lirih, tetapi masih bisa didengar baik oleh telinga Marlina.


Melihat istrinya yang kembali bangkit berdiri, Paijo segera berjalan masuk dengan dalih ingin buang air kecil. Rasya yang melihat kedua orang tuanya hanya menggeleng dengan bibir tersenyum lebar.


"On the way, kamu siapa?" tanya Marlina dengan gaya manja.


"On the way, on the way. Bu, sok inggris gitu, emang ibu tahu artinya on the way?" Rasya menatap Marlina dengan tidak percaya.


"Kata si Agus, on the way itu artinya ngomong-ngomong," sahut Marlina santai. Gilang menutup tawanya karena tidak enak dengan tuan rumah.


"By the way, Bu. Bukan on the way," ralat Rasya.


"Nanti sianglah, Bu. Kukum belum mandi, belum cuci muka juga."


"Pantes, ilernya masih kelihatan jelas banget," cibir Gilang. Secara refleks Rasya mengusap bibirnya untuk menghilangkan bekas iler. Marlina dan Gilang yang melihat itu hanya tersenyum meledek.


"Ish! Kalian menyebalkan!" cebik Rasya saat menyadari kalau dua orang itu sedang menjahilinya. "Silakan diminum, Tuan." Rasya menaruh secangkir kopi hitam di depan Gilang.


Mereka pun mengobrol ringan. Paijo dan Gea bergabung bersama mereka, sedangkan Agus sudah berangkat kerja sejak pukul lima pagi. Sambil mengobrol, Rasya menyiapkan barang-barang yang akan di bawa ke kota.


***


"Hati-hati di jalan, Kum." Paijo memeluk putrinya dengan sangat erat seolah tidak ingin melepaskan.


"Iya, Pak. Jangan sedih gitu, sih, Kukum di kota paling cuma seminggu nanti juga pulang lagi." Rasya berusaha menenangkan, tetapi justru mendapat tatapan tajam dari Paijo.

__ADS_1


"Memang kenapa? Ingat, Kum. Kamu ini sudah punya suami di kota. Jadi, belajarlah menjadi istri sholehah." Paijo memberi nasihat, Rasya hanya mengangguk cepat sebagai jawaban.


"Saya pamit dulu, Pak. Sampai bertemu lagi." Gea menyalami tangan Paijo dan Marlina bergantian. Gilang pun ikut menyalami mereka. Setelah berpamitan, tiga orang itu segera menuju ke kota dengan menggunakan mobil Gilang.


Selama dalam perjalanan, Rasya dan Gea berceloteh ria. Rasya tidak menyangka kalau Gea adalah gadis yang asyik diajak bercanda. Gilang pun sesekali menimpali, meski akhirnya akan berdebat ataupun beradu pendapat dengan Rasya, dan tugas Gea adalah sebagai penengahnya.


"Emang ya, di mana-mana namanya saudara ipar tidak pernah akur." Gea menyerah melerai mereka. Bukannya berhenti, tetapi perdebatan Rasya dan Gilang justru terus berlanjut.


"Berhenti!" teriak Rasya sebelum akhirnya tubuh mereka terhuyung ke depan karena Gilang mengijak rem secara mendadak.


"Bisakah kamu tidak menyuruhku berhenti mendadak!" seru Gilang saking kesalnya.


"Aku sengaja," seloroh Rasya diiringi gelakan tawa. Gilang mendelik tajam, tetapi Rasya justru menjulurkan lidah untuk mengejek.


"Kenapa kamu minta berhenti di sini, Ra?" tanya Gea menengahi. Sedari tadi dia terus saja memijat pelipis untuk mengurangi rasa pusing yang begitu mendera karena perdebatan dua manusia itu.


"Aku mau temu kangen dulu di sini. Jadi, terima kasih banyak atas tumpangannya, Tuan Muda." Rasya terkikis sendiri. Merasa geli dengan panggilan itu. Gilang pun sama. Wajahnya tampak marah saat mendengarnya.


"Aku pergi dulu." Rasya memilih keluar mobil dengan cepat sebelum Gilang makin marah padanya. Gea dan Gilang pun hanya duduk santai di dalam mobil. Sudut bibir mereka tertarik saat melihat Rasya yang sedang berjalan mendekati rumah kontrakan tersebut.


"Suketi ... Zaenab ... Marko ...." Rasya meronta saat tiba-tiba seseorang membekap mulut sebelum akhirnya gadis itu tidak sadarkan diri karena obat bius yang dioleskan ke sapu tangan tersebut.


•••


Sebenarnya masih ada satu bab lagi, tapi Othor lemes butuh penyemangat.


ayo dong, semangatin Othor 😂😂


lemes bestie enggak ada Ayang 🤭🤭


ciee yang udah enggak sabar buat lihat kejutan Pandu buat Rasya. Moga enggak dijahili Othor ya 😅

__ADS_1


__ADS_2