Gadis Somplak Milik Cassanova

Gadis Somplak Milik Cassanova
48


__ADS_3

Rasya yang baru saja sadar, menatap ke sekelilingnya. Dia melihat keluarga Andaksa berada di ruangan itu, dan Pandu duduk di sampingnya dengan raut wajah yang tampak cemas. Kepala Rasya masih begitu pusing, bahkan bekas pukulan Pandu pun masih terasa nyeri di hidungnya.


"Kamu sudah sadar?" tanya Pandu, suaranya terdengar sekali penuh khawatir. Rasya tidak menjawab, hanya menatap Pandu sekilas, mengangguk perlahan lalu membalik tubuhnya membelakangi suaminya itu.


"Maafkan aku." Suara Pandu begitu lirih bahkan nyaris tidak terdengar. "Aku sudah sangat menyakitimu."


"Enggak perlu minta maaf, Om. Aku baik-baik saja," sahut Rasya mencoba biasa saja.


"Menghadaplah ke sini kalau kamu tidak marah padaku," suruh Pandu, tetapi Rasya bergeming. Lisa yang melihat itu pun segera menyuruh Pandu untuk pergi terlebih dahulu. Pandu menolak pada awalnya, tetapi melihat sorot mata sang mama yang begitu memohon, dengan terpaksa dia berjalan mundur dan mendudukkan bokongnya di sofa, duduk di samping sang ayah.


"Sayang, kamu sudah mendingan?" tanya Lisa lembut. Rasya membuka mata dan menatap ibu mertuanya yang juga terlihat mencemaskan dirinya.


"Sudah, Mom." Rasya menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman manis.


"Syukurlah." Lisa mengusap puncak kepala Rasya, dan gadis itu hanya bisa memejamkan mata menikmati betapa lembutnya sentuhan sang ibu mertua.


"Setelah ini kita pulang ke rumah utama," kata Lisa. Wajah Rasya mendadak muram.

__ADS_1


"Aku enggak mau, Mom." Rasya menolak dengan ragu. Takut Lisa akan tersinggung. Pandu yang mendengar itu segera bangkit berdiri dan hendak mendekat, tetapi Lisa memberi kode menyuruh Pandu untuk berhenti.


"Kenapa?" tanya Lisa lembut, masih dengan mengusap puncak kepala Rasya.


"Aku sedang butuh waktu untuk sendiri, Mom. Aku sedang tidak mau diganggu siapa pun." Suara Rasya terdengar begitu berat.


"Tinggalah bersama mommy dan Pandu tidak akan mengganggumu atau menemui kamu untuk beberapa saat." Lisa merayu, tetapi Rasya menggeleng cepat. Lisa pun menghela napas panjang lalu mengembuskan dengan perlahan. "Lalu kamu mau bagaimana?"


"Aku mau tinggal di rumah kontrakan bareng temen-temen kalau tidak aku akan pulang ke kampung saja." Rasya menjawab yakin. Lisa terdiam, begitu juga dengan Pandu. Ferdinan dan Gilang yang sedari tadi duduk di sofa mengamati pun, akhirnya mengangguk tanda mengiyakan.


"Baiklah, kalau begitu mommy izinkan kamu menenangkan diri," kata Lisa setelah melihat kode dari suaminya.


Wajah Rasya mendadak gugup saat Pandu berjongkok di depannya hingga kini wajah mereka saling berhadapan. Rasya hendak berbalik, tetapi dengan sigap Pandu menahannya. Jantung Rasya berdegup kencang saat Pandu menatapnya dengan sangat lekat.


"Jangan pergi," pinta Pandu lirih. Rasya berusaha sekuat tenaga menahan air mata agar tidak terjatuh. Dia berusaha tidak bermain hati dengan Pandu. Dia tidak ingin terluka karena hubungan mereka bukanlah atas dasar cinta. Namun, kini ... hatinya seolah berkhianat. Menatap mata lelaki itu saja, hati Rasya seolah luluh.


"Tetaplah di sampingku agar aku yakin kalau hatiku sudah memilihmu." Pandu begitu meminta, dan Rasya terdiam untuk menimang.

__ADS_1


"Om, beri aku waktu satu bulan untuk menenangkan diri dan juga Om yakin pada perasaan Om." Rasya menatap Pandu dengan begitu memohon.


"Ra ...."


"Aku mohon." Rasya menangkup kedua tangannya.


Pandu makin lekat menatap wajah Rasya. Wajah yang tampak sedikit pucat, dan hidung yang memerah bekas pukulan. Namun, makin dia menatap dalam, senyum Rasya justru makin terlihat terlihat jelas.


"Jika dalam waktu sebulan Om udah bisa mencintaiku dengan sungguh maka kita akan melanjutkan pernikahan kita, tapi jika Om masih menyimpan perasaan untuk wanita lain. Maka kita jangan bertemu lagi. Aku yakin kita akan bahagia meski dengan jalan kita masing-masing." Rasya berbicara disertai senyuman getir. Pandu yang melihat itu pun merasakan hatinya berdenyut sakit.


Ingin sekali Pandu menolak permintaan Rasya dengan tegas, tapi jika dipikir-pikir tidak ada salahnya ada jarak di antara mereka. Setidaknya Pandu bisa yakin pada hatinya sendiri.


"Baiklah. Aku akan memberi waktu untuk kita saling menenangkan diri. Sekarang katakan padaku, ke mana kamu akan pulang? Rumah kontrakan atau rumah bapak? Biar aku mengantarmu." Pandu begitu memohon. Rasya pun mengangguk lemah sebagai jawaban.


"Jagalah dirimu baik-baik nanti saat jauh dariku."


Rasya terdiam saat merasakan jantungnya berdegup kencang karena Pandu mengecup keningnya dengan cukup lama. Air mata Rasya hampir saja lolos kalau tidak dibendung sekuat tenaga.

__ADS_1


Apakah memang hati wanita itu sama? Baik di dunia nyata ataupun novel? Hanya karena sebuah kecupan dan kata-kata lembut, langsung luluh begitu saja. Aku sangat benci diriku sendiri yang lemah seperti ini.


__ADS_2