Gadis Somplak Milik Cassanova

Gadis Somplak Milik Cassanova
91


__ADS_3

Gatra merasa begitu gugup menunggu kedatangan Rasya. Wanita yang pernah mencuri hatinya meski akhirnya lamarannya ditolak kala itu. Gatra memang merasa sakit hati. Namun, dia mencoba untuk melupakan dan perlahan menghapus perasaannya. Dia yakin kalau akan ada gadis lain sebagai pengganti Rasya yang mampu merebut hatinya.


Sebelum keluar dari ruangannya, Gatra kembali berdiri di depan cermin untuk memastikan penampilannya sudah sempurna. Rapi, gagah, dan wangi. Setelah memastikan semua aman terkendali, Gatra segera keluar ruangan dan berdiri di samping meja kasir.


Berkali-kali Gatra melirik jam tangan sembari menghitung detik yang berlalu. Rasa tidak sabar untuk bertemu membuat waktu begitu terasa lama. Apalagi rasa rindu ingin melihat wajah Rasya.


Hampir setengah jam menunggu, bibir Gatra terseyum lebar saat melihat Rasya masuk bersama dengan seorang pria muda yang terlihat seumuran dengan wanita itu. Gatra yakin kalau lelaki itu adalah calon karyawan baru yang Rasya rekomendasikan padanya. Gatra bersikap ramah meski dalam hati dia merasa penasaran siapa sebenarnya lelaki itu.


Tak ubahnya Gatra, Rasya pun tersenyum saat melihat mantan bosnya meski dia sedikit canggung saat teringat lamaran Gatra waktu itu. Gatra dengan lembut mengajak mereka untuk masuk ke ruangan Gatra untuk sedikit berbincang-bincang karena Gatra juga tidak akan memasukkan sembarang orang sebagai karyawannya.


Hampir satu jam mereka berbincang di dalam ruangan Gatra. Berbagai pertanyaan Gatra berikan kepada Andra, dan Gatra menjadi yakin untuk menerima Andra sebagai karyawannya. Setelah itu, Andra pamit terlebih dahulu karena dia masih memiliki urusan lain. Gatra pun hanya mempersilakan, tetapi dia segera menahan Rasya yang juga ingin beranjak dari sana.

__ADS_1


"Ada apa lagi, Mas?" tanya Rasya. Jujur, dia merasa sedikit canggung karena sedari tadi beberapa kali tanpa sengaja melihat Gatra mencuri pandang padanya. Walaupun Rasya memilih untuk berpura-pura tidak tahu karena takut akan menyinggung Gatra.


"Aku masih memiliki sedikit pembicaraan denganmu." Gatra menahan lengan Rasya. Dengan gerakan lembut Rasya menyingkirkan tangan Gatra. "Maafkan aku." Gatra merutuki dirinya yang sudah kelepasan.


"Baiklah." Rasya benar-benar bingung bagaimana bersikap kepada Gatra yang tetap lembut padanya meski dia pernah menyakiti hati lelaki itu.


"Ra, bolehkah aku bertanya sesuatu?" Gatra menatap Rasya dengan begitu memohon. Rasya hanya mengangguk mengiyakan.


Rasya tersenyum simpul dan itu mampu membuat jantung Gatra berdegup kencang. "Makasih udah khawatir sama aku, Mas. Tapi kamu tenang saja, aku bahagia hidup dengan Mas Pandu. Meskipun terkadang menyebalkan, tetapi dia bisa menyayangi aku dengan sangat tulus."


Gatra menatap Rasya dengan lekat. Berusaha menelisik raut kebahagiaan dari wajah gadis itu. Mencari apakah ada kebohongan di sana. Namun, melihat senyum Rasya merekah sempurna membuat Gatra yakin kalau Rasya sudah bahagia dengan suaminya.

__ADS_1


Baru saja hendak melontarkan pertanyaan lagi, terdengar pintu ruangan diketuk. Gatra sedikit menggeram karena merasa terganggu. Namun, ketika pintu baru saja terbuka, kedua mata Gatra membola sempurna saat melihat pria gagah dan tampan sedang berdiri di ambang pintu. Gatra sedikit bergidik ngeri saat melihat sorot mata Pandu yang tampak begitu tajam.


"Di mana istriku?" Suara tegas Pandu membuat Gatra sedikit tergagap. Dengan cepat dia membuka pintu dan membiarkan Pandu untuk masuk dan menemui Rasya.


"Kamu sudah selesai rapat?" tanya Rasya. Pandu tidak langsung menjawab, dia mencium seluruh wajah Rasya terlebih dahulu. Tidak peduli pada Gatra yang sedang menatap nyalang pada mereka.


"Malu, Mas." Rasya sedikit merengek, tetapi Pandu justru terkekeh.


"Kenapa mesti malu? Kita ini suami istri sah." Pandu menarik sebelah sudut bibirnya. Dia yakin kalau saat ini Gatra sedang merasakan cemburu.


"Mas, ini di ruangan Mas Gatra. Seharusnya kamu bisa menjaga sikap."

__ADS_1


Senyum di bibir Pandu memudar seketika mendengar ucapan Rasya yang justru seperti sedang memojokkan dirinya.


__ADS_2