
Dua hari kemudian, Lisa menjemput Rasya karena mereka akan menyiapkan kejutan ulang tahun untuk Pandu. Lisa sengaja menyiapkan di rumah utama karena jika di rumah Pandu, yang ada kejutan itu bisa saja gagal.
Berbagai perlengkapan pesta sudah disiapkan. Dengan sangat antusias mereka menyiapkan semua itu. Bahkan Rasya mengajak ketiga sahabatnya untuk membantu. Rumah Lisa yang biasa sepi kini terasa sangat ramai, apalagi saat Rasya dan ketiga sahabatnya terus saja berceloteh.
"Suk, gimana pekerjaan elu? Enak 'kan kerja di Restoran Gama?" tanya Rasya. Tangannya sibuk membungkus kado untuk suaminya.
"Enak lah. Mas Gatra orangnya baik. Ya, walaupun dia terkadang seperti lelaki yang tidak bisa tersentuh," sahut Zety. Kening Rasya mengerut dalam saat mendengarnya.
"Maksudnya?"
"Mas Gatra itu baik, tapi dia kadang bersikap dingin gitu, Ra. Kayaknya dia belum sepenuhnya move-on dari elu, deh, Ra," tebak Zety. Rasya menghela napas panjangnya.
"Udahlah, jangan bahas lelaki lain apalagi Mas Gatra. Yang ada, ntar si Kurap bertengkar lagi sama lakinya." Margaretha berusaha menghentikan pembicaraan itu karena dia masih ingat bagaimana Rasya dan Pandu bertengkar kala itu.
"Kalian bahas apa? Asyik banget," ucap Lisa yang baru saja bergabung dengan mereka.
"Bahas cowok cakep, Mom." Rasya menjawab asal, tetapi Lisa justru terkekeh.
"Kamu ada-ada saja, Ra. Oh iya, Ra, sebentar lagi orang tua kamu akan tiba di sini," terang Lisa. Wajah Rasya berbinar bahagia saat mendengarnya.
Benar saja, belum lama Lisa berbicara seperti itu, Paijo dan Marlina sampai di rumah Lisa. Rasya menyambut mereka dengan bahagia. Rasya memeluk kedua orang tuanya secara bergantian. Paijo dan Marlina membalas mencium wajah Rasya tidak lupa mengucapkan selamat karena akhirnya putri mereka yang dulu kecil, kini sudah pandai mencetak anak kecil bahkan langsung jadi. Memang Pandu benar-benar top-cer.
"Ibu senang akhirnya sebentar lagi punya cucu, Kum." Marlina mengusap puncak kepala Rasya penuh sayang.
"Kukum baru mau cek lagi, Bu. Kemarin masih samar. Tapi kata mommy Kukum udah hamil." Rasya bergelayut manja di pelukan Marlina.
"Belum kamu cek lagi?" tanya Paijo.
"Nanti, Pak. Setelah ini selesai." Rasya memejamkan mata sembari memeluk Marlina erat.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, mereka terdiam saat mendengar dengkuran halus dari Rasya. Padahal, baru beberapa menit Rasya berbicara, tetapi sekarang sudah tertidur lelap. Mereka pun memaklumi karena wanita hamil memang ada saja kelakuannya. Bukan hanya kelakuan, tetapi biasanya mereka ngidam aneh-aneh juga.
***
Rasya terbangun dan terkejut saat melihat jam sudah menunjuk pukul lima sore. Dia bergegas turun dari tempat tidur dan bersiap untuk menyambut suaminya. Ketika sampai di lantai bawah, semua terheran melihat Rasya yang tampak tergesa.
"Kamu mau ke mana, Ra?" tanya Lisa saat Rasya baru saja duduk di samping Paijo.
"Mau pulang, Mom. Mas Pandu pasti sekarang nyariin aku." Rasya menatap jam dinding. Dia yakin kalau Pandu saat ini sudah pulang bahkan bisa saja kelimpungan mencarinya karena dia tidak berpamitan dengan Pandu.
"Biarin saja. Mommy memang sengaja ingin buat Pandu kelimpungan nyariin kamu. Baru nanti tengah malam kita bikin kejutan."
"Tapi, Mom ...." Rasya menghentikan ucapannya saat Lisa menaruh telunjuk di bibir sebagai kode supaya Rasya diam.
Lisa menghubungi Pandu dan berpura-pura mengajak makan malam. Bahkan, Lisa bisa dengan santainya berbicara seolah Rasya sedang tidak di rumahnya saat ini. Lisa meminta Pandu harus datang dengan Rasya, kalau tidak bersama Rasya maka Lisa tidak akan mengizinkan Pandu masuk ke rumah. Rasya sebenarnya kasihan, tetapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa.
"Pokoknya kalau kamu tidak datang bersama Rasya, mommy tidak akan izinin kamu masuk ke sini!"
"Kasihan Mas Pandu, Mom." Rasya merengek. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana panik dan khawatirnya Pandu saat tidak mendapati dirinya di rumah.
"Sudahlah, lebih baik sekarang kamu test lagi." Lisa mengajak Rasya ke kamar mandi untuk kembali melakukan tespack. Mereka semua pun ikut mengekor di belakang Rasya karena sudah tidak sabar dengan hasilnya.
Ketika Rasya sedang berada di dalam, mereka menunggu di luar dengan harap-harap cemas. Dalam hati mereka berdoa semoga Rasya memang sedang mengandung saat ini.
Sementara Rasya yang berada di kamar mandi, segera melakukan test. Dia menaruh sedikit air kencingnya di sebuah wajah kecil. Setelahnya, dia mencelupkan sedikit alat tespack tersebut ke dalam wadah sesuai arahan.
Satu ... dua ....
Rasya terus menghitung detik yang berlalu karena dia sudah tidak sabar dengan hasilnya. Rasya sengaja menaruh alat tespack tersebut secara terbalik karena dia masih takut dengan hasilnya. Takut, apalagi ternyata tidak sesuai dengan perkiraan.
__ADS_1
Setelah satu menit berlalu, Rasya menutup kedua mata dengan satu tangan, sedangkan satu tangannya membalik alat tespack tersebut. Jantung Rasya berdebar kencang saat hendak membuka mata. Namun, Rasya memberanikan diri.
Rasya menghela napas panjang lalu membuka mata. Bibir Rasya mengembang sempurna saat melihat alat tersebut menunjukkan dua garis yang sama-sama jelas. Rasya tak kuasa lagi menahan haru. Dia mengusap perutnya dengan lembut. Tidak menyangka kalau akan mendapat amanah secepat ini.
"Baik-baik di dalam, Sayang." Rasya terus saja mengusap perutnya. Sungguh, kebahagiaan Rasya tidak bisa dijelaskan dengan cara apa pun.
Rasya bergegas keluar karena sedari tadi mereka terus memanggil namanya. Ketika baru saja membuka pintu, Rasya sudah diberondong dengan banyak pertanyaan.
"Bagaimana hasilnya, Ra?" tanya Marlina tidak sabar.
Wajah Rasya mendadak muram. Bahkan, isakan lirih mulai terdengar. Mereka yang melihat itu pun mendadak cemas dan khawatir. Zahra yang berada paling dekat dengan Rasya, merangkul bahu sahabatnya untuk menenangkan.
"Jangan sedih, Ra. Kalau kamu belum hamil tidak apa. Masih banyak waktu untuk kamu dan Pandu." Lisa berusaha menenangkan meski dari nada bicaranya terdengar penuh kecewa.
Bukannya diam, tangis pura-pura Rasya justru terdengar mengeras. Mereka pun makin panik.
"Sudahlah, Ra." Zahra mengusap bahu Rasya lembut.
"Huaaa ... akhirnya aku hamil." Rasya menunjukkan alat tespack yang menunjukan dua garis yang begitu jelas.
"Alhamdulillah." Kekhawatiran mereka beralih menjadi senyum bahagia.
"Astaghfirullah." Zahra mengembuskan napas kasar berkali-kali.
"Elu kenapa, Zae? Denger gue hamil, yang lain Alhamdulillah lah elu malah astaghfirullah sendiri. Elu enggak suka denger gue hamil?" Mood ibu hamil itu mendadak buruk.
"Bukan karena itu, beg*! Elu nginjek kaki gue. Kenceng pula!" Zahra menunjuk kakinya yang diinjak Rasya. Dengan segera Rasya mengangkat kakinya dan tersenyum lebar melihat Zahra yang kesakitan.
"Sakit, Ra!" Zahra merengek karena kakinya benar-benar merasa sakit.
__ADS_1
"Alah, segitu mah kecil. Lebih sakit malam pertama loh, Zae," timpal Rasya santai.
"Astaga."