
"Kamu bekerja, Ra?" tanya Lisa saat mereka sedang sarapan bersama.
"Iya, Mom. Aku jenuh harus di rumah terus," sahut Rasya sopan. Tatapan Rasya ke arah Gilang menajam saat lelaki itu tersenyum mengejek padanya. Pandu yang melihat itu hanya berdeham untuk mengalihkan perhatian.
"Padahal mommy ingin kamu di sini dulu." Lisa merengek. Rasya ingin sekali menolak, tetapi dia merasa tidak enak hati.
"Nanti aku telepon Mas Gatra aja, Mom. Aku libur sehari," kata Rasya pada akhirnya.
"Kamu yakin?" Wajah Lisa tampak berbinar bahagia. Rasya hanya mengangguk sembari tersenyum simpul. Pandu pun dalam hati merasa begitu senang karena ternyata Rasya bisa membuat ibunya bahagia.
Seusai sarapan, Rasya mengantar Pandu sampai teras rumah. Ingin sekali Pandu mengecup kening istrinya saat Rasya mencium punggung tangannya. Namun, gengsi Pandu masih setinggi langit. Lelaki itu langsung masuk ke mobil begitu saja dan menyuruh Arga segera mengemudikannya. Rasya hanya menghela napas panjang saat menatap mobil itu lenyap dari pandangan.
Lisa yang sudah menunggu di teras segera mengajak anak menantunya untuk masuk dan mengobrol bersama. Selama perbincangan mereka, Lisa lebih banyak tertawa karena guyonan ataupun cara bicara Rasya yang begitu blak-blakan.
Tanpa mereka sadari, Gilang menatap dua wanita itu dengan perasaan yang susah dijelaskan. Sudah lama sekali Gilang tidak melihat tawa ibunya yang sebahagia itu sejak kepergian Amira. Dulu, Lisa pun begitu dekat dengan Amira yang memiliki sifat dan sikap yang hampir sama dengan Rasya.
Gilang berjalan mendekati mereka. Tawa Lisa langsung terhenti saat Gilang duduk di sebelahnya, bahkan tangan putra bungsunya itu merangkul di pundak.
__ADS_1
"Mommy bahagia banget," ucap Gilang. Ekor mata lelaki itu mengarah kepada Rasya yang sedang memasang wajah malas.
"Mommy ngerasa lucu aja denger cerita si Rasya." Lisa membalas dengan disertai tawa yang mulai terdengar lagi. Gilang hanya membulatkan bibir, sedangkan Rasya membisu. Dia sudah tidak bersemangat lagi untuk bercerita.
Merasa keadaan begitu canggung, Lisa segera berpamitan ke kamar karena dia ingin memberi waktu kepada Gilang dan Rasya. Dia merasa ada sesuatu di antara putra dan anak menantunya. Selepas kepergian Lisa, Gilang mengajak Rasya untuk duduk berdua di taman belakang. Ingin sekali Rasya menolak, tetapi dia merasa tidak enak hati karena bagaimanapun juga, Gilang adalah tuan rumah di sini.
***
"Kenapa kamu menikah dengan Kak Pandu?" tanya Gilang penuh selidik saat mereka sudah berada di taman belakang. "Dan yang kudengar bahkan kamu meminta nikah siri."
"Kepo," ketus Rasya, tetapi Gilang justru terkekeh dan tanpa sadar mencubit pipi Rasya saking gemasnya. Namun, Gilang segera memalingkan wajah gugupnya. Dia merutuki dirinya yang sudah lepas kontrol.
"Aku tidak akan pernah mengatakan aku ini orang baik. Aku juga tidak akan pernah memuji diriku sendiri. Asal kamu tahu, aku tidak memiliki sedikit pun niat untuk merampas harta keluarga Andaksa!" ucap Rasya tegas. Satu sudut bibir Gilang tertarik saat mendengarnya.
"Lalu? Rencana licik apa yang sedang kamu susun rapi? Di saat banyak wanita yang ingin menikah dengan Kak Panu, kamu justru dengan sukarela meminta nikah siri. Kamu seperti wanita kelas rendahan!" Gilang tersenyum meledek. Wajah Rasya perlahan mulai terlihat muram.
"Memangnya kenapa? Aku dan Om Pandu sama-sama belum saling mencintai. Bukankah kamu tahu kalau jodoh itu ada di tangan Tuhan? Aku hanya ingin pernikahanku kelak, atas dasar cinta!"
__ADS_1
"Hahaha." Suara tawa Gilang begitu menggelegar. "Kamu benar-benar wanita terbodoh yang pernah aku kenal! Ingatlah, meski hanya menikah siri, tetapi pernikahan kalian sah di hadapan Tuhan."
Kali ini, Rasya yang membisu. Apa yang diucapkan Gilang memang sepenuhnya benar.
"Menikahlah secara resmi dengan Kak Pandu, rebutlah hatinya, dan gantikan posisi Kak Amira."
"Aku tidak akan pernah bisa!" sela Rasya. Tatapan Gilang kepada Rasya begitu menyelidik.
"Kenapa? Kamu sekarang adalah istrinya. Jika Kak Panu belum bisa mencintaimu maka berusahalah membuat dia jatuh cinta padamu." Gilang berkata tegas. Namun, Rasya menggeleng cepat.
"Aku tidak akan pernah bisa." Rasya berkata dengan diiringi helaan napas panjang. "Aku tidak mau memaksa seseorang harus jatuh cinta padaku."
"Pergilah kalau kamu tidak mau membuat Kak Pandu jatuh cinta padamu. Kalau masih ingin bertahan, belajarnya mencintai dan membuat Kak Pandu jatuh cinta. Percuma hidup bersama kalau kamu hanya akan membuat Kak Pandu kembali terluka." Gilang pergi begitu saja meninggalkan Rasya yang bergeming di tempatnya.
Sepeninggal Gilang, Rasya mengusap air mata yang menetes tanpa sadar. Ada rasa sesak yang terasa begitu menghantam dadanya. Membuat Rasya merasa sulit bernapas.
"Bagaimana aku bisa membuat Om Panu jatuh cinta, sedangkan hatinya masih milik Nona Amira, walau sekarang dia bilang sudah jatuh cinta dengan seseorang yang jelas-jelas bukan aku orangnya. Bagaimana aku akan belajar mencintai Om Panu, sedangkan dia tanpa perasaan mengajak wanita lain tinggal seatap denganku tanpa peduli pada perasaanku."
__ADS_1
Ciee mulai serius nih yaa, jangan lupa dukungan kencengin, mulai sedia tisu juga ya, wkwkwk