Gadis Somplak Milik Cassanova

Gadis Somplak Milik Cassanova
96


__ADS_3

Arga dan Zahra berdiri di depan rumah kontrakan sedari tadi. Bahkan, mereka berdua sudah merasa jengah karena hampir lima belas menit, Rasya dan Pandu belum juga keluar.


"Tuan Pandu benar-benar," gumam Arga. Melirik arloji di tangan dengan bibir terus menggerutu. Jika tahu akan seperti ini pada akhirnya, Arga tadi memilih tinggal di kantor dan menemani Tuan Ferdinan menemui klien.


"Tu-Tuan," panggil Zahra gugup.


"Apa?" Arga menjawab tidak peduli. Bahkan, dia hanya melirik Zahra sekilas saja.


"Apa Tuan doyan mangga?" tanya Zahra.


Arga menoleh ke arah Zahra, lalu beralih menoleh ke arah pohon mangga yang tumbuh tidak jauh dari pohon jambu yang berada di halaman rumah kontrakan.


"Memang kenapa? Jangan bilang kalau kamu ingin makan mangga, tapi tidak bisa memanjat jadi kamu menyuruhku untuk memanjat pohon itu," tukas Arga.


Zahra mengembuskan napas kasar.


"Tuan, saya cuma menawari. Anda tenang saja karena saya juga bisa memanjat seperti Rasya. Kalau Anda mau biar saya memetik untuk Anda sekalian. Lumayan, itung-itung bisa buat camilan selama pengantin baru memadu kasih." Zahra terkekeh sendiri.


Arga menatap Zahra cengo. Ternyata gadis di depannya sama seperti nona mudanya yang begitu aneh. Belum juga mendapat jawaban dari Arga, Zahra berjalan begitu saja mendekati pohon mangga lalu memanjatnya dengan sangat lincah. Bahkan, Arga sampai melongo dibuatnya.


Astaga. Apa cewek di kontrakan ini keturunan monyet semua.


Arga berjalan mendekat dan berdiri tidak jauh dari pohon tersebut. Bola matanya menatap dengan awas ke arah Zahra yang sedang memijak batang pohon dari satu batang ke yang lainnya. Arga yang melihat itu justru merinding sendiri karena jujur—dirinya tidak bisa memanjat.


Tatapan Arga sama sekali tidak terlepas dari Zahra. Dalam hati, Arga berkali-kali mengucap kekaguman kepada gadis tersebut. Gadis yang dengan begitu lihai memanjat dan mencari buah mangga yang telah matang.


"Awas, Tuan!" teriak Zahra dari atas hendak melempar buah mangga tersebut. Bukannya pergi, Arga justru berdiri di bawah pohon tepat dan bersiap untuk menangkap.


"Biar aku tangkap." Arga mengulurkan tangannya ke atas.


"Anda yakin bisa menangkapnya dengan baik, Tuan?" tanya Zahra ragu.


"Jangan meremehkanku!" ketus Arga.

__ADS_1


Zahra pun percaya dan langsung melempar mangga tersebut ke arah Arga. Namun, selang beberapa detik setelah Zahra melempar, terdengar teriakan dari bawah. Secara Refleks Zahra menoleh ke bawah dan melihat Arga yang sedang mengusap kepala. Zahra menelan ludah kasar apalagi saat Arga menatap tajam ke arahnya.


"Bisakah kamu melempar dengan benar!" bentak Arga marah.


"Bukan saya yang tidak melempar dengan benar, tapi Anda yang tidak bisa menangkap dengan baik, Tuan." Zahra menjawab dengan mengumpulkan segala keberaniannya karena dia merasa tidak bersalah.


"Kamu menyalahkanku?" hardik Arga, tetapi Zahra justru menghela napas panjang.


"Tuan, Anda harus ingat kalau di mana-mana cewek selalu benar," timpal Zahra.


Arga geram sendiri. Dia hendak melempar Zahra dengan mangga tadi, tetapi saat melihat Zahra yang sudah memasang wajah memelas membuat Arga tidak jadi melakukannya dan lebih memilih memendam kekesalannya di dalam hati.


***


Pandu dan Rasya yang sedang duduk berdua di dalam ruang tamu merasa begitu terganggu saat mendengar teriakan Zahra dan Arga dari luar rumah, terdengar seperti sedang bertengkar.


"Mas, mereka jangan-jangan jodoh kali ya, berisik banget." Rasya menajamkan pendengarannya untuk mendengar perdebatan sahabatnya.


"Ish! Aku mau comblangin mereka." Rasya melipat tangan di depan dada dengan bibir mengerucut.


Pandu tidak menanggapi, dia justru mendaratkan ciuman lagi di leher Rasya yang sudah penuh dengan stempel kepemilikan. Merasakan hangat bibir Pandu menyentuh kulitnya, Rasya segera menahan gerakan lelaki itu.


"Udah, Mas! Cukup!"


"Belum cukup. Kita bahkan baru akan memulai pemanasan."


"Astaga." Rasya menggaruk rambutnya dengan kasar. "Mas, sudah cukup kamu cap leherku. Aku udah malu banget, Mas. Apalagi tadi dilihatin Mas Gatra."


Mendengar nama Gatra disebut, Pandu makin merasa kesal. Dia pun menjadi penasaran dengan pertemuan Rasya dan Gatra lagi setelah dia keluar dari sana. Pandu merogoh saku celana dan menarik keluar ponsel dari dalam sana. Lalu, dia memutar kembali CCTV saat berada di ruangan Gatra.


Rasya yang awalnya penasaran justru menjadi tersentak saat melihat tampilan CCTV yang saat ini sedang diputar. Bahkan, kening Rasya mengerut dalam saking herannya dengan apa yang dia lihat saat ini.


"Itu kok bisa, sih, Mas?" tanya Rasya.

__ADS_1


Pandu tidak menjawab dan justru mengepalkan tangan saat mendengar ucapan dari Gatra yang bersedia memeluk Rasya kembali jika dirinya melukai wanita itu. Amarah Pandu tidak berhenti sampai di situ, dia kembali menggeram saat melihat bagaimana Bella merendahkan Rasya.


"Mas ...."


"Bukankah sudah kubilang aku mengawasimu!" bentak Pandu tanpa sadar. Emosi yang barusan berkumpul kini meluap, dan Pandu tidak menyadari kalau yang dibentak adalah istrinya.


Rasya segera turun dari pangkuan Pandu dan meneliti tubuhnya satu-persatu, tetapi Rasya tidak melihat apa pun yang mencurigakan. Berbeda dengan Pandu yang langsung menyentuh salah satu kancing yang terpasang di gaun Rasya untuk mematikan CCTV tersebut.


"Mas ...." Rasya kembali diam karena tidak bisa lagi mengungkapkan dengan kata-kata. Dia benar-benar merasa dongkol dengan suaminya yang ternyata seposesif itu.


Dulu, Rasya membayangkan mempunyai suami yang bucin dan possesif seperti di novel-novel. Kisah cinta yang indah, dan penuh dengan limpahan kasih sayang. Namun, semua tidak seindah yang dibayangkan selama ini. Pandu memang sangat menyayanginya, tetapi lelaki itu seolah menjerat kebebasan yang selama ini Rasya miliki.


"Bukankah sudah kubilang kalau aku hanya mengkhawatirkanmu?" Pandu mulai menurunkan suaranya. Bahkan dia merasa bersalah sudah membentak Rasya tadi.


Rasya tidak menyahut dan lebih memilih keluar rumah untuk melihat Zahra. Dia tidak mau beradu argumen di saat suasana sedang memanas. Pandu pun bergegas bangkit dan menyusul istrinya.


Ketika sampai di luar rumah, Rasya melongo sesaat ketika melihat Zahra sedang berada di atas pohon dan bersiap untuk turun, sedangkan Arga tampak cemas berdiri di bawah pohon. Rasya pun berjalan mendekat dan diikuti Pandu yang hanya diam.


"Zae! Elu ngapain kaya monyet!" teriak Rasya, mengejutkan Zahra yang sudah berada di dahan paling bawah.


Bug!


Preepeett!!


Zahra jatuh terjengkang karena tidak bisa menjaga keseimbangan. Arga berlari mendekat untuk menolong, tetapi tiba-tiba Arga memalingkan wajah.


"Tuan, tolong saya!" Zahra mengulurkan tangan untuk meminta pertolongan, tetapi Arga masih saja memalingkan wajah.


"Astaga, Zae! Celana elu sobek!" pekik Rasya yang baru saja berdiri di dekat Zahra.


Zahra refleks melihat ke arah celana yang telah sobek hingga membuat CD-nya terlihat. Dengan gerakan cepat Zahra menutup kedua kakinya rapat-rapat.


"Rasanya gue pengen ngubur diri idup-idup, Ra."

__ADS_1


__ADS_2