
Setelah sama-sama tumbang dalam percintaan panas tersebut, Pandu dan Rasya kini tidur saling berpelukan. Tidak peduli pada kulit mereka yang telah lengket karena keringat. Bahkan, dengan tanpa gengsi lagi, Pandu menciumi seluruh wajah Rasya yang hampir saja terlelap.
"Aku ngantuk, Om." Rasya menarik selimut sampai menutupi leher.
"Kamu masih memanggilku, Om?" tanya Pandu ketus.
Rasya cengengesan, "Maaf, Mas."
Dengan gemas Pandu kembali mencium pipi Rasya. Mendengar istrinya memanggil semesra itu sudah membuat seorang Pandu Nugraha Andaksa merasa begitu bahagia.
"Lebih baik sekarang kamu tidur. Aku tahu pasti kamu sangat lelah," suruh Pandu lembut.
"Enggak cuman lelah, Mas. Tapi seluruh tulangku rasanya seperti patah," keluh Rasya. Meregangkan tangan supaya ototnya sedikit melemas.
"Mau kupijit?" tawar Pandu. Rasya menatap suaminya dengan lekat.
"Tumben amat kamu baik sama aku. Jangan-jangan ada maunya ya?" Rasya menunjuk wajah Pandu, tetapi segera ditepis oleh lelaki itu.
"Aku baik salah. Aku galak salah. Terus aku harus gimana?" tanya Pandu setengah kesal. Rasya terkekeh lalu mengusap pipi Pandu dengan lembut.
__ADS_1
"Tidur yuk, Om." Rasya menunjukkan rentetan gigi putihnya, sedangkan Pandu sudah menatap istrinya dengan tajam seolah hendak melahap habis wanita itu.
"Aku bukan ...."
"Mas Panu, Sayang." Rasya berbicara dengan lembut lalu mengecup pipi Pandu mesra. Menghentikan Pandu yang hendak marah-marah. Rasya segera berbalik karena malu. Pandu dengan gerakan cepat menarik tubuh Rasya hingga masuk dalam dekapannya.
"Kamu ini kenapa sangat menyebalkan tapi bikin gemes." Pandu berbisik di telinga Rasya hingga membuat tubuh wanita itu meremang.
"Ish! Geli, Mas." Rasya berusaha menyingkirkan tangan Pandu yang memegang pinggangnya.
"Geli, tapi bikin ketagihan," ucap Pandu diiringi seringai tipis.
"Lebay!" timpal Pandu. Bibir Rasya mencebik, dengan gemas Pandu menghujami dengan ciuman lalu mengeratkan pelukannya. "Ayo tidur dan bersiap setelah ini akan ada ronde kedua."
"Astaga."
***
Merasa jenuh terus berada di apartemen, Arga memilih berjalan-jalan keluar untuk mencari udara segar. Terbiasa berkutat dengan pekerjaan, dan sekarang dia merasa ada yang kurang saat harus bermain ponsel setiap hari. Hanya melihat berita-berita juga gosip yang tidak terlalu penting, menurutnya.
__ADS_1
Langkah Arga yang baru keluar lift harus terhenti saat berhadapan langsung dengan Gea yang hendak bergantian masuk. Arga terdiam sesaat sebelum akhirnya memilih melangkah melewati gadis itu begitu saja. Namun, tiba-tiba Gea menahan lengan Arga hingga membuat Arga kembali berhenti.
"Kak, ada yang ingin aku bicarakan." Gea berbicara lembut, tetapi Arga sama sekali tidak berbalik. "Aku mohon."
"Lima menit." Arga menjawab singkat. Namun, Gea justru terdiam. "Lebih dari lima menit aku akan langsung pergi dari sini."
"Aku tidak mau berbicara di sini, Kak. Aku tidak mau banyak orang yang memusatkan perhatian kepada kita," ucap Gea.
Arga mengedarkan pandangan dan melihat sekitar yang cukup ramai orang berlalu-lalang. Dengan terpaksa Arga mengajak Gea ke sebuah restoran yang terletak tepat di samping apartemen. Gea hanya menurut. Dalam hati dia merasa begitu gugup dan takut, tetapi harus tetap memberanikan diri untuk mengatakan apa yang mengganjal di hatinya.
••••
Selamat pagi Guys,
Othor mau kasih info nih. Karena hari ini kita sudah menjalankan ibadah puasa, jadi kisah kurap-panu mungkin agak sedikit berkurang dan Othor fokuskan ke kisah Arga dan lainnya. Karena nulis pengantin baru takutnya bab per-anuan dan bikin batal puasa 😁
terima kasih sebelumnya 🙏
selamat menunaikan ibadah puasa pagi yang menjalankan 😉
__ADS_1