
Dengan hati dongkol, akhirnya Pandu menurut dan membiarkan Rasya untuk menyelesaikan urusannya. Namun, dalam hati dia terus saja menggerutu karena perutnya sudah lapar.
"Ayo kita masuk lagi. Biar aku bilang pada manager restoran ini supaya enggak jadi mecat kamu," ajak Rasya, tetapi Andra menggeleng dengan cepat.
"Tidak usah, Nona. Biar saya cari kerja di restoran lain saja." Andra menjawab sopan.
"Kenapa?" tanya Rasya, keningnya mengerut dalam hingga membuat alisnya saling bertautan.
"Tidak apa-apa, Nona. Saya sepertinya memang tidak cocok di restoran ini karena terus saja melakukan kesalahan, Nona." Andra menolak. Namun, Rasya tetap bersikukuh.
"Kalau begitu bagaimana kalau kamu bekerja di Restoran Gama saja. Biar aku bilang pada pemilik restoran itu," cetus Rasya.
Rasya terdiam saat merasakan tangan Pandu yang meremas pinggangnya. Rasya sedikit mendongak dan melihat raut wajah Pandu yang tampak begitu datar. Tidak ada senyuman sama sekali. Dalam hati Rasya tergelak sendiri. Dia yakin kalau suaminya saat ini pasti sedang cemburu dan itu membuat Rasya makin ingin menggoda suaminya.
"Kenapa, Mas?" tanya Rasya berlagak tidak tahu apa pun. Pandu tidak menjawab sama sekali. Dia malah melengos saat tanpa sengaja tatapan matanya bertemu dengan Rasya yang saat ini sedang tersenyum meledek.
Melihat gurat kemarahan terlihat di wajah Pandu, membuat Andra makin menunduk. Apalagi tadi dia sempat melihat tatapan Pandu seolah penuh benci kepadanya.
"Terima kasih atas kebaikan Anda, Nona, tapi saya nanti akan cari sendiri saja. Kalau begitu saya pamit, Nona. Maaf mengganggu acara makan Anda dan keluarga," pamit Andra. Dia hendak beranjak dari sana, tetapi lagi-lagi Rasya menahannya.
__ADS_1
Dengan terpaksa Andra bergeming di tempatnya tanpa berani mengangkat kepala. Takut pada sorot mata Pandu yang penuh amarah.
"Tunggu sebentar." Rasya mengambil ponsel dari saku celana dan akan menghubungi Gatra. Namun, dengan cepat Pandu merebut ponsel tersebut dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Hapeku, Mas!" pekik Rasya. Berusaha mengambil ponsel tersebut, tetapi percuma.
"Kamu mau apa?" tanya Pandu datar.
"Telepon Mas Gatra, memang apalagi?" Rasya menjawab ketus, tetapi itu justru makin menyulut kemarahan Pandu.
"Untuk apa kamu menghubungi lelaki itu? Kamu akan menerima cintanya?" tukas Pandu.
"Kenapa kamu malah tertawa?" Pandu makin kesal. Hampir saja dia menyentil kening istrinya kalau tidak bisa menahan diri.
"Mas, aku tahu kamu cinta mati sama aku. Percayalah, aku cuma mau bilang Mas Gatra supaya menerima Andra sebagai karyawannya." Rasya melembutkan nada bicaranya supaya amarah Pandu perlahan surut.
"Nomor lelaki itu sudah kuhapus." Pandu menggigit bibir karena sudah keceplosan. Namun, dia mencoba terlihat tenang supaya Rasya tidak marah padanya. Namun, percuma karena Rasya sudah memasang wajah cemberut.
"Kenapa dihapus, Mas?" tanya Rasya marah. Dia bahkan melepaskan tangan Pandu begitu saja.
__ADS_1
"Untuk apa kamu menyimpan nomor lelaki lain? Aku tidak mau ada nama kontak cowok di ponselmu."
"Kamu yang benar saja! Lalu, nomor bapak, Mas Agus, dan lainnya suruh aku kasih nama siapa? Termasuk namamu juga."
"Kalau itu pengecualian," timpal Pandu.
"Tidak ada pengecualian. Pokoknya namamu di kontak aku ganti jadi Mbak Panu."
"Kamu kurang ajar sekali!" seru Pandu.
"Biarin!"
Rasya melipat tangan di depan dada. Namun, sesaat kemudian dia terkejut saat merasakan sebuah ciuman mendarat di lehernya. Rasya menggigit bibir saat Pandu menyesap lehernya hingga terciptalah tanda kepemilikan di sana. Andra yang melihat itu pun segera memalingkan wajah. Dia yang melihat, tetapi justru dia sendiri yang merasa malu.
"Mas! Kamu mesum sekali!" Rasya memukul dada bidang Pandu untuk meluapkan kekesalan setelah menyadari kalau mereka saat ini sedang di tempat umum.
Bukannya kesakitan, Pandu justru terbahak-bahak. Emosi lelaki itu sudah lenyap entah ke mana. Tanpa aba-aba dia membopong Rasya dan kembali mencium pipinya.
"Itu balasan karena sudah membuatku kesal." Pandu tersenyum puas, sedangkan Rasya menunjukkan wajah jengkelnya.
__ADS_1