Gadis Somplak Milik Cassanova

Gadis Somplak Milik Cassanova
68


__ADS_3

Rasya menuangkan dua sendok sambal ke mangkok Pandu. Walau merasa enggan untuk makan, tetapi Pandu tetap memaksa karena tidak mau istri kecilnya marah. Sementara Rasya dengan begitu bersemangat menyantap kuah yang bahkan masih mengepulkan asap panas. Yang membuat Pandu dan Arga heran adalah Rasya yang memesan dua mangkok hanya untuk dirinya sendiri.


"Kamu yakin bisa menghabiskan soto ini?" Pandu menggeleng melihat cara makan Rasya seperti orang yang sedang kelaparan.


"Tenang saja, Tuan. Rasya udah jagonya." Justru Zahra yang menjawab karena Rasya sedang sibuk mengunyah.


"Ra, elu bisa makan lebih anggun lagi enggak, sih. Elu tuh seorang nona muda yang harus terlihat cantik dan elegan, bukan urakan gini," bisik Zety memberi nasihat.


Rasya pun memelankan kunyahannya dan mencoba terlihat anggun. Bahkan gerakannya begitu lambat seperti putri Solo. Ketiga sahabat Rasya pun tak kuasa menahan tawa, sedangkan Pandu justru mengusap rambut istrinya diiringi senyuman tipis.


"Jadilah dirimu sendiri. Keluarga Andaksa tidak pernah menuntut anggota keluarga yang lama atau baru untuk bersikap anggun yang penting mereka bisa tahu bagaimana cara menjaga nama baik." Pandu berkata lembut.


Tatapan Rasya beralih ke arah suaminya yang sedang tersenyum lebar. "Jangan senyum, Om. Jelek!" kata Rasya yang mampu membuat senyum di bibir Pandu memudar seketika. Wajah Pandu tampak begitu datar karena merasa kesal dengan istrinya.


"Ngambek?" tanya Rasya menggoda. Pandu tidak menjawab, hanya memalingkan wajah menghindari tatapan Rasya. "Jangan ngambek, sih, Om. Aku cuma enggak mau kalau kamu tersenyum terus ketiga cecunguk ini makin klepek-klepek."


Pandu kembali menoleh dan termangu sesaat ketika melihat ketiga sahabat Rasya sedang memangku tangan dengan raut wajah seolah memuji dirinya. Tiba-tiba, tubuh Pandu merasa sedikit ngeri.


"Om." Mereka bertiga memanggil kompak. Bahkan alisnya pun naik-turun menggoda secara bersamaan.


"Astaga."


***


"Ra, kapan elu mau main ke kontrakan?" tanya Zety penuh harap. Rasya mengelap bibir karena baru saja menghabiskan dua mangkok soto tersebut.


"Kapan-kapan ya. Gue juga pengen banget tidur bareng kalian berempat. Anget," sahut Rasya.


"Suk! Jangan ngadi-adi, deh. Si Kurap tuh sekarang udah ada lakinya. Masa iya suruh tidur sama kita, terus ntar yang ngelonin lakinya Kurap siapa?" Zahra mendadak kesal.


"Kelonin gue juga enggak papa."


Brak!


"Allahuakbar!" Zety dan Margaretha mengusap dada karena terkejut dengan suara gebrakan meja dari Rasya. Tubuh Zety langsung meringsut saat melihat sorot mata Pandu yang menajam.


"Gue bercanda, Ra." Zety menangkup tangan di depan dada. Menunduk tanda meminta maaf.


"Gue juga bercanda." Rasya terbahak-bahak. Melihat wajah Zety yang ketakutan mampu membuat Rasya tak kuasa menahan tawa.

__ADS_1


"Kamu ini kenapa jahil banget, sih?" Pandu mencubit pipi Rasya saking gemasnya.


"Sakit, Om." Rasya merengek, membuat Pandu makin merasa gemas.


"Ga, kamu sudah bersiap-siap? Setelah ini kita akan langsung ke bandara."


"Sudah, Tuan."


"Kalau begitu nanti kita berangkat bersama," kata Pandu. Arga menatap atasannya dengan penuh selidik.


"Anda juga akan ikut ke Amerika?"


"Amerika?" pekik ketiga sahabat Rasya bersamaan. Suara mereka begitu memekik seolah akan memecahkan gendang telinga siapa pun yang mendengarnya.


"Biasa aja keles." Rasya mengusap wajah Zety yang paling dekat dengannya.


"Kurap!" sewot Zety kesal.


"Ra, elu mau ke Amerika?" tanya Zahra masih belum percaya. Rasya hanya mengangguk cepat.


"Elu enggak ngajak kita?" tanya Zety.


"Jahat banget!" tambah Zahra.


Rasya justru tergelak mendengar ketiga sahabatnya yang ngedumel. "Kalian mau ikut?" tawar Rasya. Ketiga gadis itu mengangguk cepat.


"Emang boleh?" Zahra menatap Rasya penuh harap.


"Boleh banget, tapi ...."


"Tapi apa!" potong mereka bertiga secara bersamaan.


"Tapi bayar sendiri! Gue enggak ada duit." Rasya kembali tergelak melihat wajah kesal ketiga sahabatnya.


"Bohong banget, Ra. Laki elu 'kan kaya."


"Laki gue yang kaya bukan gue. Lagian, gue aja sebenernya ragu mau ikut ke Amerika."


"Kenapa? Kamu sudah janji bersedia bulan madu di sana," sela Pandu ketus. Ketiga sahabat Rasya benar-benar merasa begitu iri.

__ADS_1


"Iya, Om. Aku cuma masih ragu, takut jet ... jet ... jet apalah itu namanya."


"Jetlag, Nona." Arga membenarkan.


"Aish! Susah banget. Intinya mabok." Rasya menghabiskan es jeruk miliknya.


"Ra, gue punya cara biar elu enggak mabok kendaraan," cetus Zahra.


"Apa? Minum ant*mo?" tukas Rasya. Namun, Zahra menggeleng dengan cepat. "Lalu?"


"Tempelin puser elu pakai Koyo," sahut Zahra. Bola mata Rasya membulat penuh.


"Elu yang bener aja, Zae!" Rasya sama sekali tidak percaya.


"Beneran, Ra. Gue udah pernah coba dan emang manjur, apalagi kalau Koyo yang cabai." Zahra berkata dengan sangat yakin.


Rasya pun bangkit berdiri dan menarik tangan Pandu supaya bergegas pergi dari sana. Pandu yang bingung pun hanya mengikut istrinya.


"Kurap! Elu mau ke mana?" tanya Zety setengah berteriak.


"Beli Koyo." Rasya menjawab. Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti dan dengan lebar kembali mendekati meja tadi.


"Katanya mau beli Koyo, terus apalagi?" tanya Zahra heran.


"Itu, Koyo cabe 'kan? Cabenya tuh cabe rawit apa cabe setan?"


"Cabe-cabean!" sahut mereka bertiga kompak dengan penuh kekesalan.


"Lah, itu mah kalian bertiga."


•••••


masih mau Lanjut enggak nih?


ayo, kencangin dukungan kalian. Kayaknya Othor butuh kopi ini 😂


ada yang masih anget nih, punya temen Othor


yang udah tamat juga ada, tinggal cek profile aja kak

__ADS_1


silakan mampir



__ADS_2