
Pandu menidurkan Rasya di atas tempat tidur lalu menindih dengan segera supaya tidak kabur. Rasya ingin sekali meronta, tetapi dia kalah tenaga dengan Pandu. Akhirnya, Rasya hanya memilih pasrah saat Pandu mulai melakukan sentuhan demi sentuhan yang membuatnya terhanyut.
Rasya pun mulai mengimbangi tanpa melakukan perlawanan. Namun, di saat sedang asyik-asyiknya menjelajah, perut Rasya tiba-tiba berbunyi. Membuat Pandu menghentikan gerakannya secara mendadak.
"Kamu lapar?" tanya Pandu heran karena belum lama mereka baru selesai makan.
"Iya, Mas. Makanan tadi cuma dikit. cuman jadi selilit doang," jawab Rasya tanpa malu-malu.
"Astaga. Kamu ini memang rakus." Pandu menggeleng tidak percaya.
"Biarin, sih. Yang penting cantik." Rasya menjawab santai. Pandu pun dengan gemas mencium seluruh wajah Rasya.
"Kamu mau makan apa?" tanya Pandu menawari. Dia mengambil ponsel untuk menghubungi Arga.
"Mie ayam atau bakso kayaknya enak, deh." Rasya membayangkan makanan yang begitu menggugah selera.
"Seleramu rakyat sekali," hina Pandu. Rasya duduk lalu memasang wajah marah.
"Jangan jadi julidun, deh, Mas." Rasya melipat tangan di depan dada.
"Apa itu julidun?" Kening Pandu mengerut dalam. Bingung dengan ucapan Rasya.
"Suaminya si Julidah." Rasya menjawab asal, tetapi membuat Pandu makin bingung.
"Tidak jelas!" cebik Pandu saking kesalnya.
"Enggak papa, Mas. Yang penting cintaku kepadamu sangat jelas." Rasya berbicara dengan nada genit. Tidak lupa dia kembali mengusap dagu Pandu hingga membuat lelaki itu tidak kuasa dan segera menindih tubuh Rasya lagi.
"Kita olahraga dulu sambil menunggu Arga membawa tukang mie ayam ke sini." Pandu meletakkan ponsel lalu bersiap untuk menerkam Rasya, tetapi dengan segera Rasya menahannya.
"Tunggu dulu. Jangan bilang kamu bakal datengin penjual mie ayam dari Indonesia ke sini." Rasya begitu menuntut.
Pandu tidak menjawab, tetapi bibirnya yang tersenyum tipis seolah menandakan jawaban lelaki itu kalau perkiraan Rasya memang benar.
__ADS_1
"Astaga, Mas! Kamu jangan gila! Kemarin tukang seblak, sekarang kamu mau datengin penjual mie ayam, besok apa lagi? Kenapa enggak sekalian kamu bawa Kang Asep tukang cilok kesini!" Rasya sewot.
"Ah, iya! Biar aku suruh Arga sekalian bawa si Asep itu ke sini." Pandu hendak mengambil ponselnya untuk menghubungi Arga, tetapi Rasya dengan cepat menepisnya. Bahkan, ponsel Pandu sampai terjatuh di lantai.
"Kumala Rasya Putri!" teriak Pandu kesal.
"Matilah aku!" Rasya menutup wajah karena takut melihat kemarahan Pandu.
"Kamu harus bertanggung jawab!" seru Pandu kesal.
"Aku enggak hamilin kamu lalu untuk apa aku bertanggung jawab?" tanya Rasya sok polos.
"Kalau begitu aku yang akan menghamilimu!" ucap Pandu tegas.
"Kamu harus bertanggung jawab." Rasya menunjuk wajah Pandu sembari menatap tajam.
"Aku ini suamimu. Kamu pikir aku tidak akan bertanggung jawab atas darah dagingku sendiri? Bahkan sepuluh anak pun, aku akan menyayangi mereka sepenuh hati!"
"Asekkk! Kita main tebak-tebakan dulu baru setelah itu kita main tembak-tembakan," ujar Rasya.
"Aku memang masih kecil, Paman. Rasya! Namaku Rasya!"
"Kurap!" sela Pandu, menahan kekesalan.
"Apa, Mas Panuku, Sayang." Rasya begitu manja.
"Sudahlah. Jangan kelamaan." Pandu Rasanya sudah tidak sabar. Apalagi saat adiknya sudah mulai bereaksi.
"Kapas sekilo sama batu sekilo lebih berat mana? Kalau salah maka kita tidak akan anu-anu malam ini, kalau benar maka aku bersedia melakukan dua ronde!" Rasya berkata dengan menunjukkan kelima jarinya.
"Itu lima bukan dua," ralat Pandu.
Rasya cengengesan, "Aku lupa." Rasya hendak melipat jari supaya menunjukkan dua angka, tetapi dengan segera Pandu menahan.
__ADS_1
"Lima, sesuai jari kamu ini. Kalau benar kita akan bercinta lima kali." Pandu menyeringai, sedangkan Rasya menelan salivanya susah payah. "Jangan menjadi seorang pecundang, Kurap."
Rasya mendengkus kasar, "Baiklah. Aku enggak takut." Rasya berkata tegas karena dia yakin jawaban Pandu pasti salah.
"Oke, jawabannya adalah sama-sama berat karena mereka sama-sama satu kilo." Pandu tersenyum puas.
"Salah!" timpal Rasya hingga membuat senyum Pandu memudar seketika.
"Bagaimana bisa salah. Kapas sekilo sama batu sekilo jelas sama beratnya. Tidak ada yang lebih berat di antara mereka." Pandu mulai meninggikan suaranya. Kesabarannya mulai kembali di uji.
"Ada yang lebih berat dari itu."
"Apa?" tanya Pandu tidak sabar.
"Cintaku ke kamu, Pandu Nugraha Andaksa."
"Ya Tuhan." Pandu mengusap wajah kasar, apalagi saat melihat Rasya yang mengerlingkan sebelah mata untuk menggoda.
"Aku benar-benar akan menerkammu tanpa ampun!" Pandu menindih tubuh Rasya, tidak peduli meski Rasya terus meronta. Dia sudah terlalu gemas dengan istrinya tersebut.
"Satu ronde aja. Aku capek." Rasya berusaha menolak sembari menahan gelora yang mulai dirasakan.
"Lima ronde. Tidak ada penolakan."
"Astaga, Mas!" Rasya mengembuskan napas kasar, tetapi dia tetap menurut saat Pandu kembali melakukan pemanasan dan percintaan itu pun akhirnya terjadi juga.
•••
mampir ke karya temen Othor juga yukk
ini juga
__ADS_1