Gadis Somplak Milik Cassanova

Gadis Somplak Milik Cassanova
76


__ADS_3

Di meja restoran dekat jendela, Arga dan Gea duduk saling berhadapan. Sedari tadi Arga berusaha untuk menghindari pandangannya dari Gea. Dia tidak mau hatinya akan kembali merasakan luka. Sementara Gea, masih dengan gugup menundukkan kepala.


"Katakan apa yang akan kamu katakan. Aku tidak mau membuang waktuku secara percuma." Arga berbicara ketus tanpa menatap Gea.


Gea begitu ragu. Terlihat jelas saat dia menghirup napas dalam-dalam, "Kak ... aku minta maaf."


Arga terdiam sejenak, lalu menatap Gea yang masih menunduk. "Maaf? Untuk apa kamu minta maaf? Bahkan hubungan kita tidak pernah dekat." Arga berusaha menahan perasaan yang membuncah di dada.


"Aku sudah pernah menyakiti Kak Arga dulu." Gea berusaha mengangkat kepala hingga tanpa sengaja tatapan mereka berdua akhirnya bertemu. Namun, hanya sekilas karena Arga segera memalingkan wajah saat merasakan hatinya berdenyut sakit.


"Aku hampir lupa, tapi kenapa kamu harus mengingatkan itu?" Suara Arga terdengar berat.


"Maaf, Kak. Aku tidak mau ada yang mengganjal di hatiku. Aku ingin selesain semuanya." Ucapan Gea membuat tangan Arga terkepal erat.


"Apa yang mau diselesaikan? Bahkan kamu tidak mau memulai hanya karena aku ini seorang bawahan," sindir Arga. Gea menunduk kembali. Merasa bersalah karena ucapannya sendiri.

__ADS_1


"Karena itu aku mau minta maaf sama Kak Arga." Suara Gea terdengar begitu lirih bahkan nyaris tidak terdengar.


"Sudahlah. Jangan ungkit apa pun lagi. Jangan berbicara apa-apa lagi. Sejak kamu menghinaku waktu itu, seolah membuatku sadar kalau kamu adalah gadis angkuh yang hanya mau berkencan dengan lelaki kaya saja." Suara Arga begitu berat karena menahan gejolak di dalam dada.


"Kak, sebenarnya aku dekat dengan Kak Pandu karena ada sesuatu hal. Ada pesan terakhir dari Kak Amira yang harus kupenuhi," ucap Gea. Mengalihkan perhatian Arga hingga lelaki itu menatapnya dengan sangat lekat.


Gea menghela napas panjang dan mengembuskan secara perlahan, berusaha untuk menutupi kegelisahan yang menyelimuti hati. Arga hanya diam menunggu, tanpa memutus pandangan. Akhirnya, Gea pun menceritakan semuanya. Rahasia yang selama ini hanya Gea dan Gilang yang tahu.


Arga termangu sesaat, mendengar kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Gea. Berusaha mencermati. Tatapan mata Arga ke arah Gea begitu lekat karena dia berusaha mencari kesungguhan dari sorot mata gadis itu. Arga makin terdiam saat tidak melihat kebohongan di sana.


"Mungkinkah setelah ini aku masih memiliki harapan?" tanya Arga penuh harap.


Gea menghela napas panjang lalu mengembuskan secara perlahan. "Maaf, Kak. Tapi aku sudah jatuh cinta dengan orang lain."


Tangan Arga terkepal erat. Tanpa perlu dijelaskan dengan detail pun dia sudah tahu siapa lelaki yang sudah berhasil merebut hati Gea. Arga hendak bangkit berdiri, tetapi Gea segera menahan lengan lelaki tersebut.

__ADS_1


"Kak, maafkan aku." Gea berkata lirih.


"Untuk apa kamu selalu meminta seperti ini. Semua bukan salah kamu karena cinta tidak bisa dipaksa. Aku justru berterima kasih padamu karena setelah ini aku menjadi sangat yakin untuk menghapus perasaanku untukmu," tegas Arga.


Tatapan Gea begitu nanar. Hatinya merasa tidak nyaman dan ada rasa iba saat melihat sorot mata Arga yang begitu sendu.


"Kak ...."


"Berbahagialah dan semoga kamu bisa bersatu dengan orang yang kamu cintai. Aku tahu orang itu adalah Tuan Gilang," tebak Arga, membuat Gea terkejut.


"Da-darimana Kak Arga tahu?" tanya Gea gugup. Arga tidak menjawab, dan justru menarik sebelah sudut bibirnya.


"Apa semua benar, Ge?"


Gea makin terkejut saat mendengar suara Gilang. Dia berbalik dan terpaku saat melihat Gilang sedang menatap penuh selidik ke arahnya.

__ADS_1


__ADS_2