
Rasya benar-benar tidak menyangka dengan suaminya. Bahkan, seblak tersebut adalah seblak langganan karena rasanya sangat tidak asing bagi lidah Rasya. Pandu pun tersenyum puas.
"Aku enggak nyangka kalau Om Panu bakal seromantis ini." Rasya menikmati seblak tersebut dengan antusias. Rasanya dia sudah sangat merindukan makanan yang sempat booming tersebut. Pandu menggeleng saat Rasya mengarahkan sesendok seblak di depannya. Bukannya tidak mau, tetapi Pandu tidak terlalu suka makanan dengan level pedas yang tinggi.
"Kamu suka?" tanya Pandu, mengusap bibir Rasya yang sedikit belepotan kuah seblak. Rasya mengangguk dengan cepat.
"Ini makanan favorit aku sama tiga cecunguk, Om. Sumpah, ini bakalan lebih nikmat lagi kalau dimakan bareng mereka bertiga," ucap Rasya di sela kunyahannya.
"Memangnya kalau sama aku, tidak nikmat? Begitu?" Pandu bertanya ketus. Rasya sedikit mendongak lalu tersenyum saat melihat wajah suaminya yang tampak begitu kesal.
"Bukan begitu, Om. Kalau sama mereka 'kan sesama pecinta pedas level dewa, jadi lebih nikmat aja," jelas Rasya, tidak mau Pandu salah paham.
"Kalau begitu, biar aku mencobanya." Pandu beranjak bangun lalu berdiri di samping Rasya.
"Jangan, Om." Rasya menahan tangan Pandu yang sudah menggenggam sendok, dan bersiap untuk mencicipi seblak tersebut. Namun, dengan segera Rasya menahannya.
"Kenapa?" tanya Pandu, menatap Rasya lekat.
"Aku enggak mau kalau sampai Om diare." Rasya menjawab santai. Dia terdiam saat Pandu sudah meraup bibirnya bahkan tanpa menunggu lama langsung memasukkan lidahnya. Rasya pun membalas. Bibir mereka yang sering bersentuhan membuat Rasya bisa membalas secara refleks.
"Kurap!" Teriakan dari arah belakang membuat ciuman tersebut terlepas.
"Om, kok aku denger suara si Suketi, ya." Rasya bergumam heran. Pandu menyeringai saat melihat raut wajah istrinya.
"Mana ada?" tanya Pandu, berusaha menahan tawa. Rasya berbalik, tetapi tidak ada siapa pun di sana.
"Beneran, Om."
"Tidak ada," kilah Pandu. Dia terdiam saat telunjuk Rasya berada di bibirnya dan gadis itu menyuruh untuk diam.
__ADS_1
"Kurap! I love you!" Teriakan itu kembali terdengar.
Rasya berbalik dengan cepat. Namun, lagi-lagi tidak ada siapa pun di sana. Pandu makin terkekeh, tetapi dia berusaha menutupi dari Rasya. Merasa begitu kesal, Rasya bangkit berdiri dan hendak pergi, tetapi baru saja satu langkah, dia langsung terdiam saat melihat ketiga sahabat baiknya sedang berdiri dengan tangan melambai.
"Suketi, Zaenab, Markonah," gumam Rasya tidak percaya. "Kalian!" teriak Rasya berlari kencang dan langsung berpelukan dengan mereka bertiga.
"Gue kangen sama elu, Ra!" Zahra mengeratkan pelukannya.
"Gue juga kangen banget sama kalian."
Cukup lama mereka berpelukan untuk saling melepas rindu, sedangkan Pandu dan Arga hanya menatap mereka.
"Kok kalian bisa di sini?" tanya Rasya penuh selidik saat pelukan mereka baru saja terlepas.
"Lah, kita juga enggak tahu, Ra. Tiba-tiba Tuan Arga datang terus ngajak kita buat liburan ke sini." Zety menjawab antusias. Wajah mereka tampak berbinar bahagia melihat pemandangan yang begitu luar biasa menurutnya.
"Tuan, Anda yakin mereka tidak akan mengganggu bulan madu Anda. Kalau sampai mereka mengganggu maka bukan salah saya, Tuan." Arga berkata tanpa melepas pandangan dari keempat gadis sengklek di depan.
"Aku mau ke toilet dulu." Pandu berpamitan sembari mengecup pipi Rasya tanpa malu. Ketiga sahabat Rasya justru bersorak kegirangan. Rasya hanya mengiyakan lalu mengajak ketiga sahabatnya untuk duduk.
Berbagai obrolan menemani mereka. Bahkan gelakan tawa terdengar menggelegar, tetapi mereka tidak peduli. Walaupun para pengawal Pandu yang berjaga di sekitar sedari tadi terus menatap heran ke arah mereka.
"Ra, elu luar biasa banget. Punya laki ganteng, tajir, baik, pengertian pula," kata Zety. Rasya hanya menanggapi dengan senyuman.
"Badan macho gitu pasti kuat di ranjang. Iya 'kan, Ra?" tanya Margaretha, tetapi Rasya justru mengangkat kedua bahunya secara bersamaan
"Mana kutahu." Jawaban Rasya tersebut membuat ketiga sahabatnya melongo.
"Gue curiga. Emang elu belum malam pertama?" tanya Zahra begitu menuntut. Rasya menggeleng cepat.
__ADS_1
"Kok bisa!" pekik mereka bertiga bersamaan. Rasya menutup telinganya yang berdenging dengan mulut mengomel.
"Teriakan kalian bikin gue budek. Astaga." Rasya menonyor kepala tiga sahabatnya secara bergantian.
"Kalian tahu sendiri 'kan kalau gue ini waktu nikah lagi datang bulan." Rasya menjawab santai.
"Emang sekarang belum kelar?" sela Zety penuh selidik.
"Udah kelar dari kemarin, tapi gue belum bilang sama Om Panu."
"Bilang apa?" Suara Pandu dari arah belakang membuat tubuh Rasya menegang seketika. Ketiga sahabat Rasya pun diam menunduk melihat sorot mata Pandu yang begitu tajam.
Dengan gugup, Rasya bangkit berdiri dan berbalik menatap Pandu yang juga sedang menatapnya. Tatapan Pandu seolah hendak melahap dirinya hidup-hidup. Rasya hanya bisa menelan ludah secara kasar.
"Kamu berbohong?" Suara Pandu terdengar penuh kekecewaan.
"Maafin aku, Om." Jari Rasya saling merem*s. Bahkan sudah berkeringat dingin.
"Kenapa kamu berbohong?" tanya Pandu setengah membentak.
"A-aku ...." Rasya terdiam saat Pandu menarik tangannya secara kasar. Sementara ketiga sahabat Rasya hanya saling menyenggol. Mereka merasa tidak tega, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka terlalu takut dengan Pandu juga semua pengawal yang di sana. Apalagi Arga yang juga memasang raut wajah datar.
"Tu-tuan, bagaimana dengan Rasya. Bolehkan kita menolongnya?" tanya Zahra, berusaha mengumpulkan keberaniannya.
"Lebih baik sekarang kalian istirahat. Nona Rasya akan baik-baik saja. Palingan juga dia hanya akan lemas dan seluruh tulangnya terasa patah." Arga pergi begitu saja tanpa peduli pada ketiga gadis yang sedang saling menatap.
•••
Ciee yang udah enggak sabar buat bab selanjutnya
__ADS_1
kencengin sabuk pengaman yukk 😁😁
mumpung belum puasa