
Selama di dalam mobil, Rasya tidak berhenti bercermin. Menatap bibirnya yang sudah seperti ikan lohan. Pandu yang duduk di sampingnya pun hanya menutup tawanya supaya tidak meledak.
"Kecantikanku memudar." Rasya berpura-pura menangis hingga suaranya memenuhi mobil. Pandu yang merasa merasa terganggu langsung membekap mulut gadis itu.
"Diamlah!" Pandu melepaskan bekapannya dan membersihkan telapak tangannya dengan tisu.
"Astaga, Om kira aku rabies?" Rasya begitu ketus.
"Lihatlah betapa seksinya bibirmu itu," ledek Pandu. Rasya tidak menimpali, dan justru memajukan wajahnya dan hendak mencium Pandu untuk menggoda lelaki itu.
Pandu mendorong wajah Rasya supaya menyingkir, tetapi Rasya mengumpulkan tenaga dan makin memajukan tubuhnya. Arga yang melihat tingkah mereka yang kekanak-kanakan hanya menggeleng tidak percaya.
"Tuan, Anda sudah kehilangan wibawa sebagai seorang CEO." Ucapan Arga yang mengejek seolah menyadarkan Pandu. Dia duduk dengan tegap dan berpura-pura tidak terganggu sama sekali dengan Rasya.
"Om, aku pulang aja, ya. Aku enggak mau ketemu Nyonya Lisa dengan bibir seksi seperti ini," rengek Rasya. Menatap penuh memohon kepada Pandu.
"Panggil dia Mommy Lisa. Dia sekarang ibumu," protes Pandu. Rasya mendengkus kasar. "Lagi pula, tidak apa kamu bertemu mommy seperti itu."
"Aku malu, Om." Rasya memajukan bibirnya yang masih membengkak. Pandu yang merasa gemas, tak kuasa untuk tidak mencubit bibir itu.
"Om! Jangan sentuh bibir aku!" protes Rasya tidak terima. Bukannya berhenti, Pandu justru makin menggoda dengan mencubit pelan bibir tersebut. Kemudian, gelakan tawa Pandu terdengar mengeras. Arga yang mendengarnya bahkan sampai termangu sesaat.
__ADS_1
Sudah lama sekali Tuan Pandu tidak tertawa sebahagia ini sejak kematian Nona Amira. Mungkinkah sekarang Tuan Pandu sudah bisa membuka hatinya. Dia juga sudah tidak pernah bermain wanita lagi untuk menghilangkan kesedihannya karena kepergian Nona Amira.
***
Sebelum memasuki rumah utama, Rasya terlebih dulu memakai masker untuk menutupi bibirnya yang masih membesar. Pandu dan Arga hanya menggeleng saat melihatnya. Baru saja membuka pintu, mereka sudah disambut oleh Lisa juga Ferdinan. Kening Lisa mengerut saat melihat wajah Rasya yang ditutupi masker.
Rasya tak lupa menyalami kedua mertuanya. Sama persis seperti yang dilakukan Pandu. Bahkan, Lisa mencium pipi Rasya dengan penuh sayang.
"Kamu kenapa pakai masker?" tanya Lisa penasaran.
"Maaf, Nyonya. Saya sedang batuk, takut nular." Rasya menjawab cepat. Pandu yang berdiri tidak jauh dari mereka, hanya melipat bibir untuk menahan tawa. Melihat itu, Rasya mendelik ke arah Pandu.
"Jangan panggil nyonya, aku sekarang adalah mommy kamu." Lisa berbicara lembut. Rasya hanya mengangguk mengiyakan. Mereka pun duduk bersama di ruang keluarga. Sedari tadi, Lisa terus merangkul anak menantunya itu.
"Tidak bisa, Mom." Pandu menolak cepat.
"Kenapa?" Kali ini, Ferdinan yang bertanya karena dia juga sangat ingin putra sulungnya itu menginap di rumah utama.
"Lain kali aja, Dad. Untuk saat ini aku belum bisa menginap." Pandu masih menolak, Rasya terdiam karena dia tahu apa alasan Pandu tidak mau menginap. Kalau bukan Gea memang apalagi? Rasya mengembuskan napas secara kasar.
"Kamu mau menginap di sini, Ra?" tanya Lisa penuh harap. Rasya bingung, dengan menatap Pandu, tetapi lelaki itu justru melayangkan tatapan tajam.
__ADS_1
"Akhir pekan saja, Mom. Nanti akhir pekan aku mau menginap di sini." Rasya menjawab sekenanya.
"Baiklah. Mommy tagih janji kamu nanti, akhir pekan kamu menginap di sini." Lisa merasa sedikit bahagia.
"Bagaimana dengan malam ...."
"Kamu sudah datang, Kak?" Suara dari tangga mengalihkan perhatian mereka. Rasya begitu terkejut saat melihat Gilang sedang menuruni tangga dengan begitu santai. Rasya makin mengeratkan maskernya karena tidak mau Gilang sampai mengenali dirinya. Ya, walaupun itu pasti akan percuma.
"Sudah. Kamu habis ngapain? Kenapa baru turun?" Wajah Pandu terlihat sedikit tidak bersahabat.
"Aku? Habis tidur." Gilang mendudukkan tubuhnya di samping Pandu. "Dia istrimu?" tanya Gilang, dagunya menunjuk ke arah Rasya. Pandu hanya menjawab dengan anggukan kepala. Tatapan Gilang kepada Rasya begitu menelisik karena merasa tidak asing dengan postur tubuh gadis itu.
"Bisakah kamu membuka maskermu?" pinta Gilang, tetapi Rasya menggeleng.
"Ra, buka maskermu sebentar saja. Biar adik iparmu melihatnya." Bola mata Rasya membola saat Lisa mengatakan adik ipar. Dia tidak menyangka kalau lelaki menyebalkan itu adalah adik iparnya.
"Tidak, Mom." Rasya menolak, tetapi Lisa menatap Rasya dengan penuh harap hingga membuat gadis itu menjadi tidak tega. Dengan terpaksa Rasya membuka masker itu, tetapi sebelumnya dia menutup bibirnya yang membengkak. Pandu yang melihat itu pun hanya berusaha menahan tawa hingga membuat Rasya mengumpatinya di dalam hati.
"Kenapa kamu!" Suara Gilang yang menggelegar membuat mereka terkejut dan terheran, sedangkan Rasya kembali membenarkan maskernya. Pandu menatap Gilang dengan tajam dan seolah sangat menuntut jawaban.
Othor mau ingetin aja, Hari Senin waktunya kalian sodakohin vote buat Othor alias buat Kurap Panu ya 😁😁
__ADS_1
kasih Hadiah boleh banget. like komen jangan lupa kalau kalian suka dengan cerita ini.
selamat pagi, dan selamat beraktivitas guys 🤗