Gadis Somplak Milik Cassanova

Gadis Somplak Milik Cassanova
67


__ADS_3

Melihat mereka bertiga, Arga menggeleng tidak percaya. Pantas saja Rasya seperti itu, karena ketiga temannya ternyata tidak jauh berbeda. Senyum Arga melebar saat melihat bibir Zahra yang maju beberapa centi tanda sedang kesal. Seolah menjadi daya tarik tersendiri untuknya.


"Jangan senyum, Tuan!" Ucapan Zahra membuat senyum di bibir Arga memudar seketika. Berganti dengan decakan lidah yang terdengar sampai ke telinga Zahra.


"Memangnya kenapa? Tidak ada yang melarang orang untuk tersenyum. Bukankah kamu tahu kalau senyum adalah ibadah." Arga menimpali dengan sedikit ketus.


"Ya, saya tahu. Tapi senyum Anda itu begitu meledek saya."


"Meledek di bagian mana? Aku hanya terhibur dengan tingkah kalian saja."


"Anda yakin?" Zahra memajukan tubuhnya, menatap Arga yang terlihat begitu gugup. Namun, sesaat kemudian, Arga memalingkan wajah.


"Zae," panggil Margaretha setengah berbisik.


"Apa!" sahut Zahra sewot.


"Kancing baju elu buka satu." Ucapan Margaretha membuat Zahra mengalihkan pandangan ke bajunya. Benar saja, satu kancing terbuka hingga membuat belahan dadanya terlihat. Pantas saja Arga langsung memalingkan wajah.


"Kenapa gue selalu sial kalau ketemu lelaki ini." Zahra ngedumel sambil membenarkan kancing bajunya. Arga menoleh dan menatap Zahra dengan tajam.


"Kenapa kamu menyalahkanku?" tanya Arga tidak terima. Zahra hanya menunjukkan rentetan gigi putihnya juga dua jari tanda damai.


"Lebih baik sekarang kalian makan. Cuma hal seperti ini aja kalian udah ribet!" ucap Arga. Ketiga gadis itu pun diam karena jika mereka menimpali lagi, yang ada tidak akan ada habisnya.


"Gue kok kangen Kurap, ya." Ucapan Zety menghentikan gerakan mereka sesaat yang sedang mengunyah makanan.


"Sama. Gue juga kangen sama tuh anak."

__ADS_1


"Woi!" Mereka mengalihkan pandangan setelah mendengar suara yang tidak asing, begitu melengking. Keempat orang itu terkejut melihat Rasya yang sedang berjalan dengan anggun disusul Pandu di belakang.


Arga menatap tidak percaya. Bahkan dia sampai mengucek mata. Selama dia menjadi asisten Pandu, baru kali ini lelaki itu melihat seorang Pandu Nugraha Andaksa masuk ke warung biasa seperti ini.


"Kurap!!" teriak ketiga sahabat Rasya hingga perhatian seluruh pengunjung tertuju ke arah mereka. Rasya hendak berlari mendekat, tetapi Pandu segera menahan lengan gadis itu.


"Jangan berlari-lari! Kamu bukan kelinci!" ketus Pandu. Rasya tersenyum lebar lalu mencium pipi Pandu tanpa malu. Pandu menggigit bibir untuk menahan senyumnya.


"Kurap agresif juga ternyata," ucap Zety, menggeleng tidak percaya.


"Iya, enggak sia-sia dia sering mantengin bok*p," ucap Margaretha tanpa sadar. Dia meronta saat Zahra sudah membekap mulutnya, sedangkan Arga tertegun mendengar ucapan Margaretha barusan.


"Gila! Gue hampir kehabisan napas!" Margaretha menghirup napas dalam-dalam untuk mengisi paru-parunya yang hampir kosong.


"Elu kenapa, Mar?" tanya Rasya saat sudah berdiri di tempat mereka.


"Selamat datang, Tuan Muda." Arga bangkit berdiri, bibirnya terlihat sekali sedang menahan tawa. Pandu tidak menyahut, hanya melirik sekilas. Pandu yakin kalau Arga sedang tertawa puas di dalam hati saat ini.


Melihat kedatangan pemimpin ADS group, pemilik warung soto tersebut terperangah. Dengan tergopoh-gopoh dia berjalan mendekat sambil menenteng dua buah kursi plastik.


"Tuan Pandu," sapa penjual tersebut hormat. Rasya yang melihat Pandu diam saja, dengan gemas menarik kedua sudut bibir suaminya supaya tersenyum.


"Jangan lupa senyum, Om." Rasya mendengkus malas. Pandu pun memaksakan senyumnya, dengan tangan melingkar di pinggang Rasya tanpa sadar.


"Suatu kehormatan bagi saya karena kedatangan seorang pemimpin ADS Group. Silakan duduk, maaf hanya ada kursi plastik." Lelaki itu mengusap kursi yang baru dibawanya tadi. Rasya pun mengajak Pandu duduk, lebih tepatnya memaksa.


"Pak, soto seperti biasa." Rasya memesan. Penjual itu mengangguk hormat.

__ADS_1


"Woi! Kenapa kalian bengong gitu?" Rasya menyadarkan ketiga sahabatnya.


"Ra, gue masih belum percaya kalau elu sekarang adalah seorang nona muda," ucap Zety. Dengan gaya angkuh Rasya mengibaskan rambut ke belakang.


"Hahaha. Gue juga enggak nyangka." Rasya tergelak sendiri, sedangkan Pandu memijat pelipisnya. Menghadapi Rasya saja butuh kesabaran penuh, apalagi ditambah dengan teman-temannya yang hampir sama seperti istrinya.


"Ga, sepertinya aku harus sering sedia obat sakit kepala mulai sekarang." Pandu bergumam lirih.


Arga tersenyum lebar lalu menepuk pundak Pandu, "Yang sabar ya, Bos."


"Awas kamu, Ga!"


••••


Othor bawa rekomendasi novel nihh


mampir yukk


sambil nunggu Othor ngetik bab selanjutnya



Buat yang suka Genre Fantasi


bisa mampir ke sini juga


__ADS_1


__ADS_2