
"Kenapa kamu tidak menjawab, Ge?" tanya Gilang lagi. Jaraknya dengan Gea hanya beberapa centi saja. Bukannya menjawab, tetapi Gea justru menunduk malu. Tanpa menunggu lama, Gilang menarik tubuh Gea dan mendekapnya dengan erat.
"Katakan yang sejujurnya." Gilang begitu meminta, tetapi Gea justru bungkam. "Kalau aku bilang, aku sayang kamu, apakah kamu akan mengatakan perasaanmu yang sejujurnya?"
Gea melepas pelukan Gilang lalu menatap mata lelaki tersebut dengan begitu lekat. "Aku sedang tidak suka bercanda, Lang."
Gea memalingkan wajah, tetapi dengan segera Gilang menangkup kedua pipi Gea lalu menghadapkan ke arahnya. "Aku tidak bercanda, Ge. Aku memang sayang sama kamu lebih dari seorang sahabat."
"Bukankah kamu punya gebetan?" Kening Gea mengerut dalam.
"Ya, dan gadis itu adalah kamu." Gilang menjawab tegas. Gea kembali membisu, melihat kedua mata Gilang yang terlihat begitu tulus. Senyum di bibir Gilang seolah menjadi tanda kalau lelaki tersebut sedang tidak main-main saat ini.
"Tapi, Lang ...."
"Tapi apa?" sela Gilang. "Aku sudah lama sekali nyimpan perasaan sama kamu, tapi aku tidak memiliki keberanian, dan kini aku berani mengatakannya karena ternyata cintaku tidak bertepuk sebelah tangan." Gilang menggenggam erat tangan Gea.
__ADS_1
"Lang, meskipun kita sama-sama saling mencintai, aku tidak yakin kita akan bersama. Lebih baik aku mundur sebelum makin terluka," ucap Gea lirih.
"Kenapa?" Gilang tampak gusar.
"Karena aku yakin hubungan kita tidak akan pernah direstui oleh kedua orang tuamu." Gea menghela napas panjang untuk sedikit mengurangi beban yang menghimpit hati.
"Kamu tenang saja, Ge. Hubungan kita pasti akan direstui. Biar aku bilang sama mommy dan daddy. Bagiku, yang terpenting adalah kamu juga mencintaiku. Itu sudah cukup." Gilang menatap Gea penuh cinta yang membuat hati Gea menjadi luluh. Cukup lama mereka saling terdiam dan bertukar tatapan.
Namun, Gea terkejut saat melihat Gilang yang tiba-tiba berdiri setengah jongkok di depannya. "Ge, maukah kamu menjadi kekasihku atau kalau bisa langsung menjadi istriku?"
"Gilang!" pekik Gea saat tubuhnya terasa melayang karena Gilang membopong secara tiba-tiba bahkan berputar-putar. Secara refleks Gea mengalungkan tangan di leher Gilang.
Mereka tidak menyadari kalau di belakang ada seseorang yang sedari tadi diam mengawasi. Arga, hati lelaki itu rasanya makin remuk redam apalagi saat melihat senyum mengembang dari dua manusia yang sedang dimabuk asmara.
Arga memilih pergi sebelum hatinya makin memanas dan yang dia takuti adalah dia akan lepas kendali. Dengan bergegas Arga mengambil mobil di parkiran dan berniat pergi ke klub malam untuk menenangkan hatinya.
__ADS_1
Cengkeraman tangan Arga di setir kemudi menguat saat teringat dirinya yang terluka dua kali bahkan oleh orang yang sama.
"Bangs*t!" umpat Arga penuh amarah. Dia memukul setir kemudi dengan kencang. Bahkan, giginya sampai bergemerutuk. Dia kembali menambah kecepatan laju mobilnya. Namun, tiba-tiba tubuhnya terhuyung ke depan karena mengerem mendadak. Bukan tanpa sebab, ada tiga gadis yang menyeberang dan Arga tidak melihatnya tadi.
Dengan bergegas Arga segera turun dan melihat tiga gadis tersebut karena merasa sudah menabraknya. Mata Arga melebar sempurna saat mengetahui ternyata ketiga gadis itu adalah sahabat nona mudanya saat ini.
"Kamu baik-baik saja?" Arga berusaha membantu Zahra berdiri karena posisi gadis tersebut terduduk di atas aspal.
"Sa-saya tidak apa-apa, Tuan." Zahra bangkit berdiri dengan dibantu Arga. "Maaf, saya menyeberang sembarangan." Zahra menunduk dalam karena takut. Begitu juga dengan Zety dan Margaretha.
"Yakin elu baik aja, Zae?" tanya Zety setengah berbisik ini. Zahra mengangguk, tetapi dia terlihat menggigit bibir bawah untuk menahan nyeri yang menjalar.
"Kita ke klinik sekarang." Arga yang menyadari itu, segera mengangkat Zahra dan mendudukkan di jok samping sopir. Kaki Zahra terkilir bahkan mungkin terluka. Zety dan Margaretha pun ikut masuk ke sana.
"Tu-Tuan, saya ...."
__ADS_1
"Diamlah!" potong Arga, membuat Zahra terdiam seketika. Arga pun segera melajukan mobilnya kembali.