Gadis Somplak Milik Cassanova

Gadis Somplak Milik Cassanova
52


__ADS_3

Gea menatap Rasya dengan begitu menelisik. Sebagai seorang wanita, dia tahu bagaimana perasaan Rasya saat ini meski hanya dari meneliti gurat sendu di wajah gadis itu. Gea menarik perlahan sudut bibirnya, tersenyum samar.


"Kenapa kamu akan meminta cerai? Bukankah kamu mencintai Kak Pandu?" tanya Gea penasaran.


"Saya tidak akan pernah pantas bersanding dengan Tuan Pandu. Saya seharusnya sadar diri sejak awal dan menolak pernikahan ini." Rasya berkata lirih. Dengan berusaha sekuat tenaga menahan perasaan yang begitu bergejolak.


"Tapi kulihat Kak Pandu mulai suka padamu. Buktinya sejak kamu tidak di sampingnya, dia seperti kehilangan semangat hidup," kata Gea. Seolah memberi sedikit angin segar dalam napas Rasya yang terasa sesak.


"Nona, mendengar dari cerita Anda barusan, saya makin merasa rendah dan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Nona Amira, kakak Anda." Rasya berbicara setengah menyindir, dan Gea sepertinya sadar akan hal itu.


"Duduklah. Akan kuceritakan semuanya." Gea menepuk tempat kosong di sebelahnya. Awalnya Rasya tampak ragu, tetapi dia akhirnya menjatuhkan bokongnya di samping Gea. Namun, dia sama sekali tidak berani menatap wanita di sebelahnya.


"Jadi, sebelum pergi Kak Amira memberiku sebuah pesan ...."


Flashback


"Kakak dari mana?" tanya Gea, keningnya mengerut dalam saat melihat Amira yang begitu terburu-buru.


"Habis bertemu Mas Pandu." Amira menjawab singkat. Gea makin merasa heran saat melihat sorot mata Amira yang tampak berbeda. Tidak seperti biasanya.


"Ge, ada yang mau kakak bicarakan denganmu." Amira berkata lirih, dan itu mampu membuat hati Gea makin tidak karuan rasanya.


"Hal penting apa, Kak?" tanya Gea sangat tidak sabar. Amira mengajak adiknya duduk di sofa apartemen miliknya yang dibelikan Pandu dua bulan lalu sebagai hadiah ulang tahun.


"Ge, kamu mau tidak menjaga hati Mas Pandu untuk kakak. Pastikan dia tidak jatuh cinta dengan wanita yang salah," pinta Amira. Gea menatap kakaknya dengan makin heran.


"Emangnya kenapa, Kak?" tanya Gea lagi. Namun, Amira justru menutup rapat mulutnya begitu saja. Raut keraguan tampak memenuhi seluruh wajahnya.

__ADS_1


"Tidak perlu tanya mengapa, Ge. Bukankah kamu tahu kalau Mas Pandu adalah orang yang sangat kakak cintai. Jadi, kakak tidak mau Mas Pandu jatuh cinta dengan wanita yang hanya ingin memiliki hal tertentu saja dari keluarga Andaksa." Amira berkata tegas. Hati Gea makin ke sini makin merasa tidak nyaman. Apalagi saat Amira sedari tadi berusaha menghindar dari pandangan Gea.


"Emang kakak mau ke mana? Pergi?" Amira mengangguk cepat menanggapi pertanyaan adiknya. "Ke mana?"


"Kakak akan ke luar negeri. Kebetulan ada lowongan pekerjaan di sana."


"Kak, aku sama siapa?" Gea bertanya lirih.


"Kamu di sini saja. Nanti aku bilang sama Arga supaya dia menjagamu." Amira mengusap puncak kepala Gea dengan lembut.


"Aku tidak mau! Kak Arga itu menyebalkan!" Gea melipat tangan di depan dada.


"Lalu? Kamu mau sama siapa?" Amira tampak lesu. Dia sebenernya tidak ingin meninggalkan Gea sendirian, tetapi tidak mungkin dia membawa Gea bersamanya. Ada rahasia besar yang dia simpan rapat.


"Aku mau sama kakak. Tidak mau sama yang lain." Gea merengek. Sebagai anak yatim piatu yang hanya memiliki seorang kakak, tentu saja membuat Gea menjadikan Amira sebagai tempat segalanya untuknya. Amira mendes*h kasar, membujuk adiknya sama seperti ingin mencari jarum dalam tumpukan jerami. Sangat susah.


Setelah mendengar dengkuran halus dari Gea, Amira mendaratkan banyak ciuman di kening dan puncak kepala adiknya.


"Kamu harus hidup dengan baik meski tanpa kakak," ucap Amira lirih dan nada suaranya menyiratkan luka yang teramat dalam hingga tanpa sadar air mata Amira mengalir dari kedua sudut matanya.


***


Jam baru menunjukkan pukul empat pagi, tetapi Gea sudah terbangun saat merasakan tempat tidur di sebelah terasa hampa. Tidak ada keberadaan Amira di sampingnya. Gea mendadak begitu cemas apalagi saat melihat koper milik sang kakak sudah tidak berada di tempat yang seharusnya.


Dengan bergegas Gea segera turun dari tempat tidur dan mencari keberadaan sang kakak. Namun, Gea begitu terkejut saat melihat sang kakak sudah berdiri di samping mobil dengan telepon menempel di telinga kirinya. Gea mendekat cepat, tetapi dia masuk ke mobil dengan mengendap-endap. Dia yakin kalau sampai Amira tahu dia akan ikut, sudah pasti akan ditolak mentah-mentah oleh sang kakak.


Gea menunduk dengan tubuh meringkuk di belakang kursi sopir. Dia sengaja menempel ke kursi supaya Amira benar-benar tidak mengetahui keberadaannya. Jantung Gea berdegup kencang saat Amira mendudukkan tubuhnya di kursi sopir lalu melajukan mobil tersebut.

__ADS_1


Selama dalam perjalanan, Gea mengintip ke luar jendela karena begitu penasaran ke mana kakaknya akan pergi. Amira mencengkeram setir kemudi dengan cepat saat melihat sebuah mobil hitam melaju pelan di depan. Gea bergidik ngeri saat mendengar tangisan dan tawa Amira yang bergantian, tidak seperti biasa. Seperti suara tertawa orang yang tidak memiliki kewarasan.


"Lihat, saja. Aku akan membunuhmu!" ucap Amira. Dia menginjak pedal gas makin dalam. Gea begitu terkejut dan ketakutan.


"Kak Amira! Apa yang kakak lakukan!"


Tubuh Amira terjengkit karena terkejut mendengar suara Gea dari arah belakang. Dia menoleh ke arah Gea, tetapi lupa tidak menginjak pedal rem. Sampai akhirnya mobil tersebut menabrak mobil di depan tadi bahkan sampai terseret puluhan meter sebelum akhirnya menabrak pembatas jalan dan jatuh ke jurang.


Flashback Off


Rasya menatap iba ke arah Gea yang saat ini wajahnya sudah penuh dengan air mata. Dia merasa tidak tega apalagi mendengar cerita Gea yang begitu memilukan. Tangan Rasya merangkul pundak Gea untuk menenangkan wanita itu. Bukannya mereda, tetapi tangisan Gea justru makin terdengar mengeras.


"Yang sabar, Nona. Semua sudah jalan dari yang di atas. Biarkan Nona Amira tenang di alam sana," ucap Rasya dengan lembut.


Gea mengusap air mata yang masih mengalir dengan cukup kasar. "Seharusnya aku mati bersama Kak Amira. Kenapa Kak Amira harus meninggalkan aku sendiri dan tidak mengajakku."


"Ikhlaskan, Nona."


"Bagaimana aku bisa ikhlas kalau kecelakaan itu bukannya tidak sengaja, tapi Kak Amira sudah merencanakan semuanya karena dia ingin membunuh lelaki yang sudah menodai bahkan membuat sebuah nyawa tumbuh di dalam rahimnya."


Tubuh Rasya menegang mendengar ucapan Gea barusan. Dia menatap Gea dengan tatapan sangat tidak percaya. Namun, dalam hati Rasya percaya kalau Gea tidak akan mungkin berbohong apalagi untuk hal sepenting ini. Sorot mata Gea pun tidak bisa membohongi semuanya.


Siapa yang kangen Somplaknya Rasya?


Sabar bentar ya, wkwkkw


Othor kemaleman 😂 jangan lupa dukungan kalian, hari Senin waktunya sodakoh vote

__ADS_1


selamat malam dan selamat beristirahat.


__ADS_2