
Selepas kepulangan dari kampung, Pandu hanya uring-uringan sendiri di kamarnya. Sedari tadi dia terus saja berguling ke sana-ke mari hanya karena memikirkan Rasya. Jujur, dia sangat merindukan gadis itu. Bahkan, celotehan Rasya yang begitu blak-blakan selalu saja terngiang dalam pikirannya.
"Agghh!" Pandu melempar guling secara sembarang lalu duduk dan mengusap wajahnya secara kasar.
"Lama-lama aku bisa gila!" umpatnya pada diri sendiri. "Lebih baik aku mandi saja." Pandu bangkit berdiri dan bergegas menuju ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuh dan otaknya. Pandu berendam dalam air hangat, tetapi baru saja memejamkan mata, bayangan Rasya kembali datang dan begitu mengusiknya. Dia kembali mengumpat kesal.
Selesai membersihkan diri, Pandu segera turun untuk makan malam. Di sana sudah ada Gea yang duduk menunggu dengan senyum yang tidak sedikit pun memudar. Wajah Gea tampak berbinar bahagia karena tidak melihat keberadaan Rasya semenjak kepulangan Pandu dari kampung.
"Makan, Kak." Gea menyambut manja. Pandu hanya mengangguk lalu membiarkan Gea mengambilkan makan untuknya.
Selama makan, Pandu tampak sangat tidak bersemangat. Bahkan baru habis setengah piring, lelaki itu sudah meletakkan sendoknya begitu saja. Gea yang melihat itu pun mengerutkan kening karena heran.
"Kenapa tidak dihabisin, Sayang?" tanya Gea lembut. Pandu mendengkus kasar.
"Bukankah sudah kukatakan jangan memanggilku sayang!" seru Pandu tidak terima.
"Kenapa? Sejak kematian Kak Amira, aku selalu memanggil kamu sayang, tapi kamu tidak pernah protes." Gea berpura-pura tidak tahu apa pun.
"Sekarang keadaannya sudah berbeda!" Pandu menenggak segelas air putih sampai benar-benar tandas.
"Berbeda bagaimana? Jangan bilang kamu sudah melupakan Kak Amira dan menikahi gadis kampungan itu," tukas Gea. Dia terkejut saat Pandu meletakkan gelas dengan cukup kencang seolah hendak memecahkan kaca meja tersebut.
"Pulanglah ke Amerika. Sudah cukup kamu berada di sini," ucap Pandu mengusir. Gadis itu menatap Pandu dengan tidak percaya. Sejak kematian Amira tiga tahun lalu, baru kali ini Pandu begitu ketus padanya. Padahal dulu lelaki itu sangat memanjakan dirinya.
"Kamu mengusirku?" Suara Gea mulai naik satu oktaf. Pandu tidak menjawab, hanya mengusap bekas makanan di mulut dengan tisu lalu membuangnya secara sembarang.
"Kak! Kamu berubah sejak mengenal gadis kampung itu! Bahkan kulihat hubungan kalian tidak biasa," kata Gea menghentikan Pandu yang hendak bangun dari duduknya.
__ADS_1
"Jangan berbicara sembarangan!" hardik Pandu. Telunjuknya mengarah tepat di depan wajah Gea.
"Aku berbicara fakta dan bukan sembarangan!" elak Gea. Tangan Pandu terkepal erat. Jika tidak mengingat Gea adalah adik Amira—orang yang dia cintai— sudah pasti Pandu akan menampar mulut sialan gadis itu.
"Sekali lagi kamu menghina Rasya, aku akan mengantarmu pulang ke Amerika saat itu juga." Pandu memilih pergi sebelum emosinya benar-benar naik ke ubun-ubun, sedangkan Gea hanya menatap punggung Pandu yang perlahan menjauh dari pandangan.
"Aku akan menemui gadis itu. Kak Amira tenang saja, aku akan menyelesaikan tugas dari kakak supaya kakak bisa tenang di alam sana." Gea meremas sendok di tangan dengan cukup kuat.
***
"Sayang, kamu mencintaiku?" tanya gadis dengan rambut hitam sebahu yang kini duduk di samping kekasihnya.
"Tentu saja. Hanya kamu satu-satunya pemilik hatiku setelah Mommy Lisa tentunya." Pandu terkekeh. Amira mengerucutkan bibir hingga membuat Pandu merasa begitu gemas dan tanpa sadar mendaratkan sebuah ciuman di sana.
"Sayang, kalau suatu saat aku pergi darimu maka ingatlah kalau aku sangat mencintaimu." Amira berbicara penuh makna. Senyum di bibir Pandu perlahan memudar dan tatapannya ke arah Amira begitu susah dijelaskan.
"Berjanjilah kamu akan hidup baik-baik saja selama jauh dariku. Aku juga nitip Gea. Kamu tahu 'kan kalau Gea adalah satu-satunya harta yang kumiliki?" ucap Amira lirih. Pandu merangkul pundak Amira dan memeluk gadis itu dengan erat.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi. Duniaku bisa hancur kalau tidak ada kamu di sisiku. Hanya kamu satu-satunya wanita yang bisa membuat hidupku bahagia." Suara Pandu terdengar berat. Dia berusaha menepis perasaan tidak nyaman yang menelusup masuk ke hatinya. Mencoba berprasangka baik kalau semua akan berjalan sebagai mestinya.
"Aku mencintaimu." Pandu mendaratkan ciuman di puncak kepala Amira yang saat ini sedang membenamkan kepala di dada bidang milik Pandu.
"Aku juga mencintaimu. Bahkan sangat mencintaimu. Aku akan membawa cinta kita sampai mati ... sampai mati ... sampai ...."
"Amira!"
Mata Pandu terbuka lebar begitu saja dengan keringat dingin yang sudah membasahi dahi. Pandu menyentuh bagian dada saat merasakan jantungnya berdebar dengan sangat kencang. Dia juga merasakan hatinya terasa berdenyut sakit.
__ADS_1
"Amira, sampai kapan kamu akan berhenti menghantuiku?" Pandu bergumam lirih.
Pandu mengusap wajah secara kasar untuk menghapus keringat dingin yang sudah makin membasahi. Dia menghirup napas dalam-dalam lalu mengembuskan secara perlahan untuk kembali menormalkan detak jantungnya. Namun, hatinya masih saja merasa tidak karuan.
Akhirnya, Pandu memilih untuk turun dari tempat tidur dan berdiri di balkon kamar. Menatap langit malam tanpa peduli pada dinginnya angin yang berembus. Sebatang rokok yang tersemat di jari sebagai teman Pandu. Dia menghirup asap itu lalu mengembuskan dengan cepat.
Tiba-tiba sekelebat bayangan Rasya datang menghampiri. Bibir Pandu tersenyum tanpa sadar saat mengingat tingkah Rasya yang begitu menggemaskan. Tingkah gadis yang tidak seperti pada umumnya, tetapi mampu membuat hidupnya menjadi berwarna.
"Kenapa aku bisa teringat dengan gadis perusuh itu." Pandu menggeleng cepat. Berusaha mengusir bayangan Rasya yang justru tampak makin jelas. Namun, semua seolah percuma. Bayangan Rasya masih saja tak mau pergi, bahkan Pandu tertawa lirih saat bayangan Rasya menjulurkan lidah untuk meledek padanya.
"Astaga, aku benar-benar bisa gila kalau jauh dari si Kurap selama sebulan. Baru sehari aja dia udah buat aku kehilangan semangat hidup." Pandu bergumam lirih. Dia merogoh ponsel dari saku celana untuk menghubungi Arga.
"Selamat malam, Tuan. Anda belum tidur?"
"Belum, Ga. Kenapa kamu tidak menginap di sini saja. Bukankah besok kita harus rapat pagi?" tanya Pandu
"Tidak, Tuan. Lebih baik saya ke rumah Anda besok pagi."
"Ga, kapan kamu dan Gea akan ...."
"Ada perlu apa Anda menghubungi saya, Tuan?" sela Arga, mengalihkan pembicaraan. Pandu pun terdiam karena menyadari Arga tidak pernah mau jika membahas tentang Gea.
"Ga, soal rencana kejutan besok hari Minggu. Tolong kamu siapkan dengan benar-benar dan aku ingin kejutan itu sangat berkesan," suruh Pandu, tetapi Arga tidak menyahut sama sekali. Lelaki itu sedang terkejut di sana.
"Kejutan untuk siapa, Tuan?" tanya Pandu heran.
"Tentu saja untuk istriku, memang siapa lagi!" Pandu menjawab sewot. Arga dari seberang telepon hanya mengembuskan napas kasar.
__ADS_1