
Di apartemen milik Arga, lelaki itu berdiri di balkon kamar. Ada kebimbangan teramat besar yang dia rasakan sekarang. Dia tidak mengerti bagaimana jalan pikiran Pandu. Padahal lelaki itu tahu kalau dia sengaja menjaga jarak dengan Gea karena tidak ingin sakit hati lagi, tetapi Pandu seolah sengaja akan menyatukan dirinya dengan Gea.
Arga mendongak, menatap langit yang gelap tanpa ada cahaya bulan. Embusan napas kasar terdengar berkali-kali keluar dari bibir lelaki itu. Bayangan akan masa lalu yang sudah hampir terlupa, kini kembali mengusik pikirannya.
"Aku tidak mau sama kamu! Lelaki sepertimu tidak pernah pantas untukku!"
Ucapan yang pernah terlontar dari mulut Gea kembali terngiang dalam ingatan Arga. Di mana gadis itu dulu menolak mentah-mentah karena Arga hanyalah seorang asisten pribadi dari kekasih sang kakak.
"Aghhhh!!" Arga memukul udara untuk meluapkan emosi yang begitu membuncah di dada. "Sialan!" Dengan langkah tegas, Arga masuk kembali ke kamar, dia berniat mandi untuk menyegarkan kembali otak dan tubuhnya. Dia butuh berendam air hangat.
Andai bisa memilih, Arga lebih memilih untuk tetap di sini meski dua minggu harus berada di dalam apartemen. Daripada harus bersama dengan gadis yang selama ini selalu dia hindari. Bahkan, Arga menggeram saat teringat bagaimana Gea mendekati Pandu setelah kematian Amira.
Namun, keputusan Pandu tidak bisa diganggu gugat. Arga lebih memilih menahan emosi selama dua minggu di dekat Gea daripada harus kehilangan pekerjaan yang susah payah dia dapatkan. Toh, beberapa kali dia pernah berada di sekitar Gea saat gadis itu sedang liburan di sini.
"Sepertinya aku harus mencari gadis yang bisa mencintaiku dan menerimaku dengan tulus," gumam Arga. Dia memejamkan, merasakan hangatnya air di bathup menyentuh kulitnya.
***
Gilang menatap Gea yang sedang duduk di sofa. Tatapan mata gadis itu tampak kosong. Bahkan, Gea seolah tidak terusik sama sekali oleh suara Gilang yang memanggilnya berkali-kali. Saking gemasnya, Gilang menyentuh kedua pinggang Gea hingga tubuh gadis itu terlonjak.
"Gilang!" pekik Gea, memukul lengan Gilang karena kesal.
"Kamu kenapa, sih, Ge? Perasaan ngelamun mulu." Gea memalingkan wajah saat melihat Gilang yang sedang berpangku tangan dengan tatapan lekat ke arahnya.
"Ti-tidak papa, Lang," kilah Gea. Gilang tanpa sadar mengacak rambut Gea dengan lembut.
"Jangan berbohong. Ingat, Ge, kita sudah bersahabat sejak lama. Jadi, aku tahu apakah kamu berbohong atau tidak," tegas Gilang. Gea menghirup napas dalam lalu mengembuskan dengan perlahan.
"Aku hanya kepikiran Kak Arga." Gea menjawab lesu. Gilang yang mendengar itu hanya bisa mendes*h kasar.
"Untuk apa kamu memikirkan lelaki yang sama sekali tidak peduli padamu? Kamu ini harus jadi wanita yang punya harga diri," nasehat Gilang.
__ADS_1
"Lang, semua bukan salah Kak Arga, tapi aku ... aku yang sudah pernah melukai hatinya." Suara Gea terdengar parau karena menahan tangis.
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Lebih baik sekarang kamu fokus pada kehidupanmu saat ini. Ingat, kamu harus belajar jatuh cinta dengan orang lain, dan perlahan perasaan bersalahmu kepada Arga akan menghilang." Gilang mengusap puncak kepala Gea dengan lembut.
"Tapi aku ingin minta maaf dengan dia, Lang. Hanya itu yang membuat hatiku tenang." Gea berkata lesu.
"Besok kamu bisa minta maaf padanya karena selama dua minggu ke depan, Arga akan menemani kita di Amerika."
Mata Gea membola sempurna, "Me-menemani kita?" tanya Gea memastikan pendengarannya tidaklah salah. Gilang tidak menyahut, hanya mengangguk cepat sebagai jawaban.
"Tapi Lang ...."
"Sudahlah, jangan berbicara lagi." Gilang menaruh telunjuk di bibir Gea supaya gadis itu diam. "Lebih baik sekarang kamu tidur karena kita akan melakukan perjalanan jauh," suruh Gilang. Dengan terpaksa, Gea bangkit berdiri dan hendak menuju ke kamar, tetapi langkah Gea tiba-tiba terhenti. Dia berbalik dan menatap Gilang dengan tatapan yang susah dijelaskan.
"Ada apalagi, Ge?" tanya Gilang, keningnya mengerut dalam melihat raut wajah Gea.
"Lang, gimana dengan gebetan kamu?" tanya Gea lirih. Dia takut Gilang akan tersinggung. Namun, bibir Gilang justru tersenyum lebar.
"Aku masih berusaha merebut hatinya. Doakan aku bisa memilikinya," ucap Gilang dengan antusias. Gea menarik kedua sudut bibirnya, tersenyum getir.
Gilang menatap tubuh Gea yang perlahan lenyap dari pandangan. "Andai kamu tahu kalau gadis itu adalah kamu, apakah cintaku akan diterima, Ge? Sedangkan kamu selalu menutup pintu hatimu."
Gilang menyandarkan kepala di sofa lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Dia merasa begitu pecundang, tetapi dia tidak mau memaksa Gea untuk bisa mencintainya. Bayangan pertemuan dengan Rasya tiba-tiba datang menghampiri. Dulu, hampir saja Gilang jatuh cinta dengan sosok Rasya yang berbeda dengan wanita kebanyakan yang selama ini mendekatinya.
Kalau saja Gilang tidak cepat mengetahui kalau Rasya adalah kakak iparnya, mungkin dia sudah mengejar cinta gadis itu dan menghapus perasaanya kepada Gea. Namun, semua yang terjadi seolah rencana Tuhan yang menyuruh Gilang untuk tetap mempertahankan perasaannya untuk Gea dan berusaha lebih keras lagi untuk mendapatkan hati gadis itu.
"Semoga kelak kamu akan sadar akan perasaanku, setelah aku bisa meyakinkan kedua orang tuaku kalau kamu adalah wanita baik-baik dan wanita terbaik untukku, Ge."
Tidak mau larut dalam rasa galau, Gilang memilih pergi dari apartemen itu. Menuju ke klub malam tempat biasa dia nongkrong bersama dengan teman-temannya. Namun, sebelum pergi dari sana, tak lupa Gilang mengirim pesan kepada Gea supaya saat gadis itu terbangun nanti, tidak mencari keberadaannya.
Sementara itu di kamar, Gea menatap layar ponsel yang masih menyala. Perasaan Gea begitu tidak menentu setelah membaca pesan dari Gilang kalau lelaki itu akan bertemu dengan teman-temannya. Ingin sekali Gea mencegah, tetapi dia bukanlah orang yang berhak untuk melarang apa pun yang akan dilakukan lelaki itu.
__ADS_1
"Sadarlah, Ge. Kamu pikir, kamu ini siapa? Gilang hanya kasihan padamu setelah Kak Amira meninggal." Gea tersenyum getir sembari menggeleng untuk mengusir banyak pikiran yang begitu menghantuinya.
Gea meletakkan ponsel secara sembarang, lalu tidur telentang dan menatap langit-langit kamar. Embusan napas kasar dari mulut gadis itu, berkali-kali memecah keheningan di sana. Baru saja hendak memejamkan mata, tiba-tiba ponsel Gea berdering. Dengan segera dia mengangkat saat melihat nama Gilang tertera di layar.
"Hallo, Lang," sapa Gea saat panggilan itu telah terhubung.
"Selamat malam. Apa ini dengan Nona Gea?"
Gea mengerutkan kening saat mendengar suara yang sangat asing. Perasaan Gea mendadak gelisah, dan rasa khawatir yang teramat dalam tiba-tiba menyusup masuk ke hatinya.
"I-iya, ada apa ya, Pak?" tanya Gea terbata.
"Bisakah Anda datang ke rumah sakit? Tuan Gilang kecelakaan."
Tubuh Gea membeku. Bahkan bibirnya seolah terkunci rapat. Hatinya terasa berdenyut sakit saat aliran darah di tubuhnya terasa berdesir hebat.
"Hallo?" Suara keras dari seberang berhasil mengembalikan kesadaran Gea.
"Ba-baik, Pak. Saya ke sana sekarang." Gea pun mematikan panggilan itu dan bergegas menuju ke rumah sakit untuk melihat kondisi Gilang. Hati Gea benar-benar cemas, takut terjadi apa-apa dengan Gilang.
"Semoga kamu baik-baik saja, Lang." Gea memejamkan mata saat perasaan tidak nyaman makin menguasai hatinya.
•••
Ciee, adakah yang menunggu Othor?
adakah yang bahagia lihat notif sudah update dari Othor,
wkwkkw ngarep banget 😅
Jangan lupa dukungan kalian dibanyakin biar Othor makin banyak update juga 🙈
__ADS_1
Oh iya, cerita mulai tidak hanya tentang kurap panu ya, tapi mulai menceritakan beberapa tokoh biar kalian enggak bosen 🤭
selamat membaca, selamat siang dan selamat beraktivitas guys. 😘