
"Bukankah Om tahu kalau kita menikah tidak berdasarkan cinta? Aku bahagia kalau akhirnya Om bisa menemukan wanita yang tepat. Ya, walaupun aku belum tahu siapa wanita itu." Bibir Rasya tersenyum simpul, tetapi Pandu justru terdiam.
"Kamu tidak cemburu?" tanya Pandu penuh selidik. Dia pikir Rasya akan marah-marah padanya, tetapi semua salah total.
"Buat apa aku cemburu, Om?" Pertanyaan Rasya membuat Pandu terdiam merasakan hatinya berdenyut. Mungkinkah istrinya itu benar-benar tidak mencintai dirinya?
"Kamu seharusnya sadar kalau kamu adalah istriku." Nada bicara Pandu terdengar penuh emosi.
"Om, yang aku sadari, kita ini suami istri, tapi belum pernah malam pertama." Rasya tergelak, tetapi Pandu justru terperangah saat mendengarnya. Dia tidak menyangka kalau Rasya akan berbicara seperti itu.
"Aku tidak akan pernah menyentuhmu sebelum ...."
"Aku tahu itu, Om. Aku juga sadar diri. Selama ini teman duet Om di ranjang itukan gadis yang cantik, seksi, juga hot. Aku anak polos mana tau cara muasin di ranjang."
"Jaga bicaramu, Kumala Rasya Putri!" bentak Pandu, "kamu ini wanita yang punya harga diri dan bukan wanita murahan!"
"Lagi pula aku sangat berterima kasih sama Om Panu. Karena udah jaga aku. Setidaknya, jika kita belum melakukan anu, dan di saat Om sudah mendapatkan wanita yang Om Panu inginkan. Kita bercerai maka aku masih berstatus gadis." Rasya tertawa hambar.
Di saat Pandu hendak berbicara lagi, Raya justru beranjak bangun dan turun dari tempat tidur. Pandu pun ikut bangun dan duduk. Tatapan matanya tidak lepas dari Rasya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Pandu penuh selidik.
"Mau ke kamar mandi, Om. Perutku mules." Rasya memegang perut yang terasa melilit sembari berlari kencang menuju kamar mandi.
"Ada-ada saja. Dasar Kurap." Pandu menggeleng saat melihatnya. Suara dering ponsel yang tergeletak di atas kasur berhasil mengejutkan Pandu. Lelaki itu mengambil benda pipih itu dan melihat siapa yang menghubungi istrinya.
Darah Pandu terasa mendidih saat membaca nama Gatra tertera di layar. Dengan segera Pandu mengangkat panggilan itu.
"Ra, bagaimana? Kita dinner malam minggu ya."
Gigi Pandu bergemerutuk saat mendengarnya. "Ra!"
__ADS_1
"Rasya sedang di kamar mandi," sahut Pandu tegas. Panggilan itu hening sesaat, dan Pandu yakin kalau Gatra masih terkejut saat ini.
"Bagaimana bisa Tuan Pandu yang mengangkat panggilan ini?"
"Kebetulan kita baru selesai makan malam." Pandu menjawab beralasan. "Ada perlu apa kamu menghubungi Rasya?"
"Oh, kupikir ... jadi gini, Tuan, malam Minggu nanti saya mau mengajak Rasya makan malam, tapi dia bilang harus minta izin sama Anda terlebih dahulu. Saya mohon beri dia izin, Tuan."
"Kita ada acara keluar kota malam minggu besok." Pandu berbohong. Ingin sekali dia mematikan panggilan dari Gatra, tetapi dia masih sangat penasaran dan ingin melihat sedekat apa hubungan Rasya dengan Gatra.
"Kenapa Rasya tidak bilang kalau mau ke luar kota?" Gatra bergumam lirih, tetapi Pandu masih bisa mendengarnya.
"Memang ada hak apa dia harus laporan sama kamu!"
"Maafkan saya, Tuan." Gatra sedikit menciut mendengar suara Pandu yang meninggi. "Tuan, saya mohon dengan sangat. Saya ingin mengajak Rasya untuk makan malam bersama. Tolong beri dia libur atau izin walau hanya sebentar."
"Siapa yang telepon, Om?" Suara Rasya berhasil mengejutkan Pandu. Lelaki itu pun mematikan panggilan secara sepihak dan menaruh ponsel milik Rasya secara sembarangan. Kening Rasya mengerut saat melihatnya.
"Mas Gatra?"
"Siapa lagi?" sela Pandu sewot.
"Yaelah, santai aja kali. Kenapa sewot, sih, Om. Mas Gatra bilang apa?" Rasya duduk di samping Pandu dan menatap lelaki itu dengan lekat.
"Dia ingin dinner denganmu." Pandu berusaha menahan kekesalannya.
"Boleh ya, Om." Rasya begitu memohon.
"Aku bilang malam minggu depan kita akan ke luar kota." Pandu menjawab malas.
"Mau ngapain ke luar kota, Om?" tanya Rasya, keningnya terlihat mengerut.
__ADS_1
"Jalan-jalan." Pandu menahan sekenanya.
"Kalau begitu aku makan malam sama Mas Gatra besok aja, gimana?" Rasya menaik-turunkan alisnya, dengan bibir tersenyum menggoda.
"Kenapa kamu sangat ingin makan bersama dengan lelaki lain? Kamu harus ingat kalau kamu ini adalah wanita yang sudah bersuami!"
"Aku tahu, Om. Makanya aku minta izin sama Om," timpal Rasya.
"Kalau aku tidak memberi izin?" tanya Pandu meledek.
"Kenapa?" Rasya menjawab santai. "Om, aku cuma makan malam sama Mas Gatra enggak lebih. Kalau Om ngelarang juga, seharusnya Om inget, Om itu lelaki yang sudah beristri, tapi kenapa membawa wanita lain tinggal bersama?" sarkas Rasya. Bibirnya tersenyum miring melihat Pandu yang langsung terdiam seketika.
"Baiklah. Hanya makan malam tidak lebih!" Pandu akhirnya menyetujui karena dia sudah kalah dari Rasya. Namun, tubuh Pandu menegang seketika saat Rasya memeluknya dan mencium pipinya walau sesaat. Jantungnya berdebar kencang bahkan rasanya tidak terkendali lagi, sedangkan Rasya melipat bibir menahan tawa.
"Om, terima kasih banyak udah ngasih izin. Aku sayang kamu, Om." Pandu memutar bola mata malas saat mendengar ucapan Rasya.
"Aku sudah tidak bisa kamu bohongi lagi." Dengkusan kasar terdengar dari mulut Pandu.
"Aku enggak bohong, Om. Kali ini aku serius." Rasya berbicara dengan begitu yakin. Sudut bibir Pandu tertarik sedikit, tersenyum samar.
"Serius bohong maksudnya." Rasya tergelak keras melihat raut wajah Pandu yang sudah berubah kesal. Lelaki itu menindih tubuh mungil Rasya yang saat ini sudah terdiam karena terkejut.
"Sekali lagi kamu mengerjai seperti tadi maka aku tidak akan segan-segan menelanjangimu!" ancam Pandu, tatapannya ke arah Rasya seperti singa buas yang bertemu mangsa.
"Om, kenapa ada yang ngganjel banget di bawah sana?"
Pertanyaan Rasya membuat Pandu segera bangkit berdiri dan berjalan cepat menuju ke kamar mandi. Sementara Rasya hanya melongo karena belum tahu kalau senjata Pandulah yang mengeras.
harap maklum masih bocil 😅😅
Selamat pagi guys, selamat beraktivitas.
__ADS_1
jangan lupa dukungan kalian buat Othor biar makin semangat update nih.