
Pandu melangkah mendekat dengan tergesa. Pengawal Rasya pun terkejut saat melihat kedatangan Pandu. Dengan segera mereka berdiri dan membungkuk di depan Pandu.
"Di mana istriku?" tanya Pandu tidak sabar.
"Nona Muda Rasya di rumah sakit, Tuan."
"Rumah sakit?"
Pengawal itu mengangguk cepat.
Plak!
Sebuah tamparan mendarat di pipi dua pengawal itu. Mereka tidak berani melawan, hanya menunduk dalam. Pandu pun tidak peduli pada perhatian orang-orang yang tertuju padanya.
"Apa kalian bodoh! Kenapa kalian di sini kalau istriku di rumah sakit! Tidak becus!" murka Pandu. Kedua pengawal itu hanya menunduk.
"Ga, pecat mereka!" Pandu berbalik dan kembali masuk ke mobil.
"Tuan—"
"Nanti biar aku bicarakan lagi dengan Tuan Pandu. Biarkan dia tenang dulu." Arga hendak meminta kronologi, tetapi Pandu sudah berkali-kali memanggil. Dengan terpaksa Arga bergegas ke mobil dan melajukannya ke rumah sakit.
Selama dalam perjalanan ke rumah sakit, Pandu terus saja merasa gelisah. Bahkan, dia memarahi Arga terus-menerus karena merasa laju mobilnya begitu lambat, padahal Arga sudah melajukan dengan kencang.
Setibanya di rumah sakit, Pandu bergegas menuju ke ruang IGD. Melihat kedatangan Pandu yang mendekat, ketiga sahabat Rasya yang menunggu di depan pintu ruangan pun segera bangkit berdiri dan membungkuk hormat.
"Di mana Rasya?" tanya Pandu tidak sabar.
"Di-di dalam, Tuan." Zahra menjawab gugup.
Pandu bergegas masuk dan memindai seluruh brankar untuk mencari istrinya. Pandu terdiam sesaat ketika melihat Rasya berdiri di samping brankar dengan seorang lelaki paruh baya terbaring di atas brankar tersebut.
Tanpa membuka suara, Pandu menarik tubuh Rasya dan mendekapnya erat. Rasya yang terkejut pun hanya bisa terdiam. Jantung Rasya berdebar kencang saat merasakan betapa eratnya pelukan Pandu.
"Mas," panggil Rasya setalah cukup lama mereka saling berpelukan.
"Kamu baik-baik saja?" Pandu melerai pelukan tersebut dan menangkup wajah Rasya. Dia meneliti seluruh tubuh Rasya. Pandu mengembuskan napas lega saat tidak melihat sedikit pun luka di wajah istrinya.
__ADS_1
"A-aku baik saja." Rasya menjawab terbata.
"Syukurlah." Pandu tersenyum senang. "Maafkan aku, Ra." Suara Pandu terdengar begitu lirih.
Rasya hanya menunjukkan senyum manisnya. Pandu memegang kedua lengan Rasya, tetapi dia terdiam saat melihat Rasya yang mengernyit, seperti orang kesakitan. Pandu menjadi curiga. Dia berusaha membuka lengan baju Rasya, tetapi wanita itu langsung menolaknya.
"Jangan, Mas." Rasya menahan Pandu dan itu makin membuat Pandu menjadi curiga dengan istrinya. Akan tetapi, Pandu sedikit memaksa hingga Rasya hanya bisa menerima.
Pandu menaikkan lengan Rasya dan terkejut melihat luka lecet di lengan Rasya. Bahkan luka itu cukup lebar hingga meninggalkan bekas di kaos yang Rasya kenakan.
"Kamu terluka!" Pandu mendadak cemas.
"Aku enggak papa. Ini hany luka kecil. Lihatlah Bapak ini." Rasya menunjuk lelaki yang memiliki beberapa luka di wajah.
Pandu tidak menjawab, dia memanggil seorang perawat dan menyuruhnya untuk segera mengobati luka Rasya. Mendengar titah suaminya, Rasya hanya bisa menurut. Dia tidak ingin berdebat seperti tadi lagi.
***
"Hati-hati. Apa kamu bisa mandi dengan baik?" tanya Pandu saat mereka sudah berada di rumah. Pertanyaan tersebut entah pertanyaan keberapa yang dilontarkan oleh Pandu.
Rasya mendengkus kasar setelah beberapa kali mendengar pertanyaan penuh kekhawatiran dari suaminya. Dia memang terluka, tetapi dia bukanlah seorang balita yang manja.
"Ingat, lukamu tidak bisa kena air." Pandu mengingatkan.
"Lihat ini, Mas." Rasya mengambil kantong kresek, menutupi lukanya dengan kresek tersebut lalu melekatkankan dengan isolasi. "Dah! Aku mau mandi dan luka ini enggak akan kena air."
Rasya berlalu ke kamar mandi, tetapi Pandu dengan segera menyusul bahkan langsung membopong tubuh Rasya hingga membuat wanita itu terkejut.
"Mas! Aku takut!"
"Pegangan kalau kamu takut jatuh, tapi aku tidak akan membiarkanmu jatuh. Aku mencintaimu." Pandu mengecup bibir Rasya dengan mesra. Mereka pun masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya dengan rapat.
Lebih dari satu jam mereka berada di kamar mandi. Pandu dan Rasya keluar dengan wajah yang sudah tampak segar. Pandu membantu mengeringkan rambut istrinya. Kemudian, dia melepas kresek yang menutup luka Rasya dan melihat keadaan luka tersebut.
"Kamu yakin tidak perih?" tanya Pandu khawatir.
"Tidak. Aku bukan anak kecil, Mas." Rasya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan membelakangi suaminya.
__ADS_1
"Maafkan aku. Kamu pasti masih sangat marah padaku." Pandu melingkarkan tangan di perut Rasya dan menarik tubuh Rasya supaya merapat padanya.
"Aku tidak marah. Aku hanya kecewa." Rasya menjawab jujur.
"Maaf." Pandu makin mengeratkan pelukannya.
"Sudahlah, Mas. Aku tidak apa-apa." Rasya berusaha terlihat baik-baik saja.
"Aku janji tidak akan membentak kamu lagi seperti tadi. Aku juga tidak tahu kenapa bisa lepas kendali. Mungkin karena aku terlalu cemburu," ujar Pandu.
"Aku tahu itu. Aku enggak nyangka kalau kamu sebucin itu padaku." Rasya terkekeh. Padahal jujur, hatinya masih terluka karena bentakan Pandu.
"Mulai sekarang, maukah kita saling berjanji untuk saling mengerti dan saling menerima?" Pandu bertanya penuh harap.
"Tentu saja. Kamu percaya enggak sih kalau satu tahun pertama sebuah pernikahan adalah masa-masa tersulit. Banyak hal yang menguji rumah tangga sebuah pasangan suami-istri." Rasya berbalik dan menatap Pandu dengan lekat.
Pandu tersenyum. Tangannya mengusap wajah Rasya dengan lembut. "Aku mencintaimu."
Pandu mendaratkan ciuman di kening Rasya dengan sangat lama. Menyalurkan segala perasaan yang dia miliki untuk wanita itu. Rasya pun memejamkan mata untuk menikmati ciuman itu.
"Aku juga mencintaimu, Mas." Rasya membalas.
Pandu mencium bibir Rasya setelah mendengar ucapan cinta dari wanita itu. lidah mereka pun saling berbelit satu sama lain. Menikmati ciuman yang membuat mereka seakan candu.
Perlahan, tetapi pasti. Pandu menurunkan ciumannya ke leher jenjang Rasya dan tangannya mulai memegang benda kenyal yang hampir tiap malam selalu dia sesap.
Rasya pun mulai terbuai. Dia menggigit bibir untuk menahan desah*n yang hampir keluar dari sana. Pandu kembali mencium kening dan seluruh wajah Rasya.
"Keluarkan desah*nmu, dan jangan pernah sekalipun kamu tahan, Sayang," bisik Pandu tepat di telinga Rasya hingga membuat bulu kuduk Rasya terasa meremang. Apalagi saat Pandu mencium belakang telinga Rasya, sungguh itu mampu membuat Rasya merasa tidak karuan.
lanjutin sendiri, lagi puasa
••••
Cie yang bentar lagi tamat 😅
Hayukk semangatin Othor. 😘
__ADS_1
selamat beristirahat 😁😁