
Tubuh Bella meringsut saat melihat sorot mata Gatra yang menajam dan seolah hendak melahap habis dirinya saat ini juga. Bahkan, Bella tidak berani meski hanya sekedar mengangkat kepala.
"Kamu keterlaluan, Bel!" hardik Gatra. "Mulai detik ini kamu kupecat!"
Bella mendongak, menatap sorot mata Gatra yang penuh kilatan amarah. Rasya memegang lengan Gatra untuk meredakan emosi lelaki itu.
"Sudah, Mas. Dia tidak sengaja. Lagian aku baik-baik saja. Hanya bajuku yang kotor," ujar Rasya. Gatra menatap Rasya dan memastikan kalau wanita itu memang dalam keadaan baik-baik saja.
Bella yang melihat itu bukannya meminta maaf, tetapi justru makin merasa kesal dengan Rasya. Entah apa yang membuat Bella menjadi sedendam itu pada Rasya, padahal selama ini Rasya tidak membuat masalah apa pun dengan wanita itu.
Di saat Rasya masih memegang lengan Gatra untuk menenangkan, tiba-tiba Pandu dan Arga masuk dan membuat mereka semua tercengang. Tatapan Pandu tertuju ke arah tangan Rasya, dan sepertinya wanita itu belum menyadari. Semua menunduk dalam saat melihat sorot mata Pandu.
"Mas—"
"Bisakah kamu tidak memegang lelaki lain!" bentak Pandu tepat di samping Rasya.
Rasya yang menyadari itu langsung melerai pegangannya di lengan Gatra. Rasya mengumpati dirinya, dan merasa sedikit takut. Dia yakin kalau Pandu akan sangat marah padanya.
"Maaf, Mas." Rasya berdiri menunduk.
Pandu hendak meluapkan amarahnya, tetapi tiba-tiba perhatiannya terfokus pada celana Rasya yang basah dan masih ada bekas jus mangga di sana. Pandu mendekat, lalu berjongkok di depan Rasya dan melihat celana Rasya tersebut. Setelahnya, Pandu mengembuskan napas lega karena bukan air panas yang mengenai istrinya.
"Siapa yang melakukan ini!" Pandu menatap mereka yang berada di ruangan satu-persatu.
__ADS_1
"Mas, sudah. Ini cuma tidak sengaja tadi," timpal Rasya. Dia mengusap dada Pandu untuk menenangkan lelaki itu, tetapi Pandu justru menepis tangan Rasya dengan sangat kasar.
"Kamu membela orang yang sudah berbuat seperti ini padamu? Di mana otakmu! Dan kamu juga berani bersentuhan dengan lelaki lain padahal kamu ini wanita yang sudah berstatus sebagai wanita bersuami. Ke mana jalan pikiranmu!" murka Pandu. Tanpa sadar dia terus membentak Rasya untuk meluapkan emosi karena rasa cemburu yang sudah menguasai hatinya.
Pandu tidak menyangka kalau akan seperti ini yang dia lihat. Pantas saja hatinya sedari tadi merasa tidak tenang hingga akhirnya Pandu memilih kembali ke Restoran Gama dan menyuruh Ferdinan untuk mengganti dirinya.
Rasya memundurkan tubuhnya dan sedikit menjauh dari Pandu. Bahkan, terlihat sekali dia sedang berusaha menahan air mata. Salahkan bila Rasya merasa sakit hati? Dia hanya ingin menenangkan Gatra.
"Belajarlah menghargai perasaan suamimu! Aku sudah berusaha keras menjagamu! Berusaha memberikan yang terbaik untukmu! Kumala Rasya Putri! Hubungan kita ini bukanlah candaan!"
Entah setan apa yang merasuki Pandu hingga membuat lelaki itu hilang kontrol. Ketiga sahabat Rasya berdiri di samping Rasya. Bahkan, tangan mereka merangkul Rasya. Bukan apa-apa, tetapi mereka tahu kalau Rasya bukanlah wanita yang mudah mendapat bentakan sekeras itu.
"Ra—" Ucapan Pandu tercekat di tenggorokan. Dia tidak tahu harus memarahi yang bagaimana lagi. Melihat Rasya yang sedari tadi diam menunduk justru membuat Pandu mulai merasa bersalah.
"Diamlah!" bentak Pandu.
"Jaga emosi Anda, Tuan. Jangan sampai Anda menyesal." Arga berusaha mengingatkan. Melihat wajah Rasya yang begitu memelas, membuat Arga menjadi tidak tega.
"Maaf, Mas. Kalau aku udah nyakitin kamu, enggak ngehargai kamu sebagai suami. Aku minta maaf. Mungkin aku memang enggak bisa jadi istri yang baik untuk kamu. Kita menikah belum lama, dan aku sadar kita belum saling mengerti satu sama lain. Masih banyak hal yang membuat kita harus saling beradaptasi." Suara Rasya terdengar bergetar karena menahan tangis.
Rasya menghirup napas dalam-dalam lalu mengembuskan secara perlahan. "Mas, lain kali kalau kamu marah padaku, lebih baik kamu pukul aku saja. Aku lebih bisa menahan sakitnya sebuah pukulan daripada bentakan. Hatiku tidak sekuat itu jika dibentak, Mas." Rasya menyeka air mata yang perlahan turun. Ketiga sahabat Rasya pun merasa tidak tega dan masih berusaha menenangkan Rasya.
Mendengar ucapan Rasya itu, Pandu menjadi sangat menyesal. Dia berjalan maju hendak memeluk Rasya, tetapi Rasya justru memundurkan langkahnya.
__ADS_1
"Ra—" Suara Pandu terdengar lirih dan penuh sesal.
"Anterin gue pulang. Gue harus segera ganti baju." Rasya tidak acuh kepada Pandu yang sedang menatapnya.
"Elu yakin?" tanya Zety. Rasya mengangguk cepat. Zahra pun menatap Arga seolah memberi kode, dan Arga yang paham hal itu segera mengangguk.
"Mas Gatra, terima kasih sudah menerima Suketi di sini. Kalau begitu aku pamit dulu." Rasya membungkuk hormat lalu berlalu dari sana tanpa peduli pada Pandu yang masih berdiri mematung di tempatnya.
Pandu hanya melihat bayangan Rasya yang menjauh dengan cepat. Dia benar-benar bingung harus bagaimana. Akan tetapi, rasa sesal begitu memenuhi hati Pandu saat ini.
"Tuan, kalau Anda menyakiti Rasya maka saya akan merebut Rasya dari Anda, tidak peduli siapa pun Anda, dan apa pun yang harus saya pertaruhkan demi kebahagiaan Rasya," ucap Gatra tenang.
"Ingat! Aku tidak akan membiarkan siapa pun memiliki Rasya. Apalagi merebutnya dariku. Kalau sampai kamu berani, bukan hanya usaha dan keluargamu yang kuhancurkan, bahkan aku akan membuat kamu menikmati indahnya neraka!" Pandu menunjuk wajah Gatra, lalu beralih ke arah Bella yang sedang ketakutan.
"Kamu harus membayar semua ini karena kamu sudah berani mengusik istriku!"
"Tuan ... saya mohon, ampuni saya." Bella bersimpuh di depan Pandu, tetapi lelaki itu justru pergi begitu saja tanpa peduli pada Bella yang terus saja meminta maaf.
Langkah Pandu begitu cepat saat mengejar Rasya yang bahkan sudah tidak terlihat lagi. Pandu pun meminta Arga untuk melajukan mobilnya menuju ke rumah kontrakan. Pandu yakin kalau wanita itu pasti sedang di sana saat ini. Tak lupa, Pandu meminta informasi dari pengawal yang ditugaskan untuk menjaga Rasya. Pandu merasa sangat tidak tenang saat belum mendapat balasan sama sekali.
Arga yang duduk di balik stir kemudi pun hanya bisa diam. Karena jika dirinya berbicara saat ini yang ada akan makin menambah amarah Pandu.
"Lajukan mobilnya dengan cepat, Ga!"
__ADS_1
Bukannya lebih cepat, tetapi Arga justru memelankan mobilnya saat melihat sebuah kecelakaan di depan. Perasaan Pandu mendadak sangat cemas, apalagi saat melihat yang kecelakaan tersebut adalah mobil taksi. Pikiran Pandu sudah melayang jauh. Dia pun menyuruh Arga menghentikan mobilnya saat melihat pengawal Rasya berdiri di samping mobil tersebut.