Gadis Somplak Milik Cassanova

Gadis Somplak Milik Cassanova
87


__ADS_3

Lima belas menit kemudian, Arga menatap heran ke arah Rasya dan Pandu yang baru saja keluar dari toilet dengan raut wajah berbeda. Jika raut wajah Pandu tampak begitu datar, berbeda dengan Rasya tampak semringah. Bahkan, senyum manis tidak sedikit pun memudar dari bibir wanita itu. Arga pun mulai menaruh curiga kepada mereka.


"Tuan, saya pikir Anda dan Nona Rasya akan lama berada di dalam," ucap Arga. Pandu menghentikan langkahnya lalu berbalik dan melayangkan sebuah tatapan kesal ke arah asistennya tersebut.


"Tidak!" Pandu menjawab ketus karena dia sedang dalam mood yang buruk saat ini.


"Berarti Anda menggunakan jasa layanan ekspress, Tuan?" tanya Arga setengah meledek.


"Maksud kamu apa? Aku hanya membantu istriku." Pandu menimpali dengan perasaan jengkel. Dia kembali merangkul pundak Rasya dan mengajak istrinya tersebut untuk bergabung bersama keluarganya yang sudah menunggu sedari tadi.


"Pantas saja Tuan Pandu marah-marah, sedangkan Nona Rasya begitu bahagia. Ternyata cuma Nona Rasya saja yang dipuaskan." Arga terkekeh sendiri hingga anak buah Pandu merasa heran. Bayangan potongan adegan dewasa seolah berputar-putar dalam benaknya.


Ketika tersadar, Arga segera berjalan menyusul di belakang Pandu. Mulut lelaki itu sedari tadi saja bergerak, bergumam hal-hal yang berada dalam ekspentasinya.


"Pantas saja tidak terdengar suara apa pun sampai luar," gumamnya lirih. Namun, masih bisa didengar baik oleh telinga Pandu.


"Kamu bilang apa, Ga?" Pandu kembali menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Arga dengan begitu menuntut.


"Ti-tidak apa-apa, Tuan." Arga menjawab gugup. Menunjukkan dua jari tanda damai.


"Suara apa yang kamu maksud?" tanya Pandu, masih belum puas dengan jawaban Arga.


"Suara kucing kawin, Tuan. Aduh!" Arga mengangkat sebelah kaki saat tendangan Pandu berhasil mendarat tepat di tulang keringnya. Arga merintih saat rasa nyeri menjalar, tetapi Pandu tidak peduli. Lelaki itu justru mengajak istrinya pergi dan meninggalkan Arga begitu saja.

__ADS_1


"Kamu kenapa jadi marah-marah, sih, Mas?" Rasya menatap Pandu dengan heran. Namun, Pandu tidak menjawab, dan lebih memilih untuk berpura-pura tidak mendengar apa pun. Rasya yang menyadari itu pun hanya bisa mengembuskan napas kasar.


Ketika baru saja sampai di meja makan, Rasya langsung diberondong dengan banyak pertanyaan dari mereka. Bahkan, Paijo langsung memeluk Rasya dengan erat. Mengucap syukur kalau ternyata putrinya itu baik-baik saja.


"Syukurlah kalau elu enggak papa, Ra. Gue khawatir banget," ucap Zahra lega.


"Iya, gue juga cemas. Bayangin kaya apa sakitnya terkena kuah panas," sambung Zety.


"Gue juga. Untung itu pelayan langsung dipecat karena udah ceroboh," tambah Margaretha.


Rasya terkejut mendengar ucapan Margaretha. "Di-dipecat?" tanya Rasya memastikan. Ketiga sahabatnya pun mengangguk mengiyakan.


"Sudah Daddy suruh manager di sini untuk memecatnya. Dia sudah membuat anak menantu Daddy terluka." Ferdinan menjawab santai. Seolah tidak melakukan kesalahan apa pun. Berbeda dengan Rasya yang justru memasang wajah masam.


"Tapi, Ra ...." Ucapan Lisa terhenti saat melihat Rasya justru pergi begitu saja, bahkan tanpa berpamitan. Pandu pun dengan segera mengejar istrinya.


"Rasya!" teriak Pandu, tetapi Rasya tidak peduli dan tetap berlari keluar restoran untuk mencari pelayan tadi. Pandu bisa saja mengejar istrinya karena dia bisa berlari lebih cepat, tetapi Pandu sengaja memperlambat langkahnya karena sekedar ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh istrinya.


"Tunggu!" teriak Rasya. Mengurungkan gerakan pelayan tadi yang hendak menghentikan angkot.


Lelaki muda itu berbalik dan sedikit tersentak saat melihat Rasya dan Pandu saat ini sudah berdiri tepat di depannya. Dengan tubuh yang terlihat kembali gemetar, lelaki tersebut membungkuk hormat.


"Maafkan saya sudah membuat Anda terluka, Nona," ucap pemuda itu sopan.

__ADS_1


"Siapa namamu?" tanya Rasya tanpa basa-basi. Rasya tidak peduli meski Pandu saat ini sudah memberikan tatapan tajam padanya.


"Kasandra, biasa dipanggil Andra."


"Untuk apa kamu bertanya nama dia!" Suara Pandu terdengar meninggi, tetapi Rasya justru memutar bola mata malas.


"Jangan cemburu, Mas. Meskipun dia tampan, tetapi cuma kamu pemilik hatiku." Rasya mengecup pipi Pandu tanpa malu. Membuat amarah dalam diri Pandu lenyap begitu saja.


"Jangan memancingku untuk menerkammu saat ini." Pandu menarik pinggang Rasya supaya tubuh mereka saling berdekatan. Rasya yang merasakan betapa possesifnya Pandu saat ini hanya terkekeh.


"Aku enggak nyangka kalau kamu akan menjadi sebucin padaku, Mas." Rasya kembali berbicara dengan menggoda. Pandu hampir saja membopong Rasya untuk kembali masuk, tetapi dengan segera Rasya menahan.


"Sepuluh menit. Aku kelarin urusan sama Andra dulu." Rasya berdiri tenang, sedangkan Pandu tampak makin kesal saat mendengar Rasya menyebut nama lelaki lain, yang bahkan baru saja dia ketahui beberapa menit yang lalu.


•••


cieee, Om Panu mulai cemburu nih 😂😂


Cemburu tanda sayang loh, Om. Kalau udah sayang jangan lupa, kasih uang buat beli cilok 😭


Hari Senin, sedekahin Vote yuk


atau beri hadiah 🙈

__ADS_1


othornya ngarep banget.


__ADS_2