
Pekikan Rasya terdengar saat Pandu membopongnya tanpa aba-aba. Bahkan, dia hampir saja terjatuh kalau tidak segera melingkarkan tangan di leher Pandu. Tanpa berbicara, Pandu segera membawa Rasya menuju ke kamar pengantin. Tidak peduli pada riuhnya tepuk tangan juga godaan mereka.
"Om, kita mau ke mana?" tanya Rasya.
"Tentu saja ke kamar." Pandu menjawab singkat. "Kenapa tubuhmu ringan sekali?"
Rasya memutar bola malas mendengar pertanyaan Pandu yang lebih seperti ejekan untuknya. "Jangan ngeledek deh, Om."
"Siapa yang meledek? Aku berkata jujur. Padahal makanmu banyak." Pandu menggeleng tidak percaya. Rasya tidak menanggapi, hanya mencebikkan bibir karena kesal.
Pandu menyuruh Rasya membuka kamar pengantin yang tidak dikunci. Begitu pintu terbuka, Rasya terperangah saat melihat kamar yang telah didekor dengan sangat cantik dan terlihat sangat romantis. Rasya meminta turun, dan dengan segera Pandu menuruti.
"Om, romantis sekali." Wajah Rasya tampak berbinar bahagia. Pandu pun ikut bahagia saat melihatnya.
"Ra," panggil Pandu, wajahnya tampak begitu serius. Senyum di bibir Rasya memudar perlahan. Melihat Rasya yang sedang menatapnya, Pandu menghela napas panjang.
Rasya terkejut saat Pandu tiba-tiba menarik tubuhnya masuk ke dalam pelukan lelaki itu. Bahkan, Rasya bisa merasakan sebuah kecupan mendarat di puncak kepalanya. Rasya memejamkan mata, merasakan sebuah pelukan yang terasa hangat dan nyaman.
"Terima kasih, sudah membuat hidupku kembali berwarna." Pandu makin mengeratkan pelukannya.
"Aku juga terima kasih karena Om Panu sudah mau mencintaiku, bucin padaku pula. Aku merasa bahagia seperti tokoh utama di kisah novel-novel." Rasya menjawab. Tangannya melingkar di perut Pandu, untuk membalas pelukan lelaki itu.
"Kenapa kamu selalu bawa-bawa novel, sih?" tanya Pandu heran.
"Karena aku suka baca novel, Om. Terutama yang romantis jadi aku suka halu." Rasya terkikik, sedangkan Pandu dengan gemas menyentil kening Rasya. "Sakit, Om."
"Kenapa kamu selalu bikin aku kesel?" Pandu mendaratkan ciuman di pipi Rasya. "Tapi aku suka," imbuhnya. Rasya makin mengeratkan pelukannya bahkan membenamkan wajah di dada Pandu. Dia tidak ingin suaminya tahu kalau sedang tersipu saat ini.
Pandu kembali membopong tubuh Rasya dan menidurkannya di atas tempat tidur. Wajah Rasya tampak begitu gugup, apalagi saat Pandu mendekatkan wajahnya.
"Om, aku grogi." Rasya berkata sembari menunjukkan kedua tangan yang gemetar. Pandu tak kuasa menahan senyum saat melihatnya. Rasya yang melihat itu pun, hanya memajukan bibir karena merasa sebal.
__ADS_1
"Kenapa mesti grogi?" tanya Pandu. Menidurkan diri di samping Rasya.
"Aku belum pernah sedekat ini sama lelaki. Aku takut, Om." Rasya mengembuskan napas kasar. Berusaha menghilangkan kegugupannya.
"Kenapa mesti takut? Lagi pula, kita mesti menunda malam pertama kita 'kan?" Pandu berusaha menormalkan suaranya. Padahal dalam hati dia merasa sangat kesal karena malam pertama yang sampai saat ini belum juga dia dapatkan.
"Om, katanya malam pertama itu rasanya sangat sakit," ucap Rasya lesu.
"Tidak akan sakit. Aku akan melakukannya dengan lembut." Pandu mendaratkan ciuman di kening Rasya yang secara refleks memejamkan mata. Kedua sudut bibir Pandu tertarik saat melihat wajah cantik Rasya dari jarak yang begitu dekat. Bahkan tanpa sadar, Pandu sudah menyatukan bibirnya dengan bibir ranum milik Rasya.
Rasya menutup mulut rapat saat Pandu berusaha memasukkan lidahnya, dengan terpaksa Pandu menggigit bawah bibir Rasya supaya gadis itu membuka mulutnya. Setelah itu, Pandu menyapu seluruh rongga mulut Rasya dengan lidahnya.
Awalnya Rasya hanya diam saja, tetapi lama-kelamaan dia pun mulai membalas meski masih begitu kaku. Hawa tubuh Pandu makin memanas. Dia melepas ciuman tersebut lalu beralih menciumi leher Rasya. Tubuh Rasya menggelinjang saat merasakan gelayar aneh yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Bahkan dia merasakan perasaan geli yang berpusat di perut.
Pandu makin merasa panas. Beberapa tanda kepemilikan dia cetak di leher jenjang istrinya tersebut. Tangan Pandu pun mulai menggenggam dua bukit kenyal yang pas di genggaman. Rasya menggigit bibir untuk menahan desah*n agar tidak keluar. Rasya makin merasa tidak karuan.
"Om." Suara penggugah napsu pun akhirnya lolos begitu saja dari mulut Rasya. Membuat Pandu makin tidak sabar ingin segera beradu kenikmatan dengan istrinya. Apalagi sudah lama sekali dia tidak melakukan pelepasan.
Pandu mengumpat kesal saat tangannya begitu susah membuka gaun yang dikenakan Rasya. Bahkan saking susahnya sampai membuat Pandu menghentikan pemanasan tersebut.
"Kenapa, Om?" tanya Rasya, keningnya mengerut dalam.
"Susah sekali gaun ini. Apa aku harus merobeknya?" Pandu balik bertanya dengan kesal. Rasya menahan tawa saat melihat raut wajah Pandu. Rasya pun akhirnya bangkit berdiri dan membiarkan Pandu membantu melepaskan gaun tersebut.
Ketika gaun itu terlepas, Rasya langsung menutup kedua aset berharga miliknya yang hanya tertutup dalaman saja. Pandu menelan ludah kasar saat adik kecilnya berdiri menantang. Membuat celana yang dikenakan menjadi begitu sesak.
"Aku malu, Om." Raya bergegas naik ke atas kasur dan menarik selimut untuk menutup tubuhnya.
"Kenapa mesti malu? Sekarang atau nanti aku juga akan melihat semuanya." Napas Pandu terdengar memburu karena menahan hasrat sudah mulai naik.
"Pokoknya aku malu, Om." Rasya menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Namun, dia terdiam saat merasakan ada sebuah beban berat yang menindihnya. Ketika Rasya membuka selimut, dia terkejut saat wajahnya bertemu dengan wajah Pandu dengan jarak yang sangat dekat.
__ADS_1
"Om ...." Rasya terdiam saat Pandu membungkam dengan mulutnya. Lidah mereka pun kembali beradu. Dengan lihai Pandu memberi rangsangan hingga membuat Rasya meracau tidak karuan.
Pandu terus saja menjelajah setiap inchi tubuh Rasya. Menyesap cocho chip yang mulai mengeras. Bahkan selimut yang barusan dipakai Rasya pun sudah tergeletak di atas lantai.
"Om ...." Rasya tak mampu lagi berkata-kata. Namun, tiba-tiba Pandu menghentikan kegiatannya saat melihat ada noda merah di sprei yang ditiduri Rasya.
"Kamu berdarah?" tanya Pandu bingung, heran, juga khawatir.
"Astaga, Om!" Lengkingan suara Rasya begitu memekik telinga saat melihat ke arah sprei tersebut. "Aku tembus 'kan!" Rasya memukul dada Pandu saking kesalnya.
"Tembus apa?" Pandu mendadak jadi orang bodoh.
"Ish! Om nyebelin! Aku gimana ini? Enggak bawa pembalut pula." Rasya merengek, menghentakkan kaki seperti anak kecil.
"Terus gimana?" Pandu juga ikut bingung.
"Hapeku mana, Om?" tanya Rasya dengan menadahkan tangan.
"Kenapa tanya aku?" Pandu kembali sewot karena hasrat yang gagal tersalurkan membuat kepalanya berdenyut sakit.
"Ish! Om kenapa jadi bego', sih!" umpat Rasya tanpa sadar. Dia melipat tangan di depan dada saat Pandu mendelik padanya.
"Kamu berani sekali mengataiku!" Pandu hendak merem*s wajah Rasya saking kesalnya, tetapi karena tidak tega dia hanya mencubit pipi istrinya dengan gemas.
"Sakit, Om." Rasya hendak menangis. Pandu menjadi tidak tega.
"Jangan menangis, aku telepon Arga supaya dia membelikanmu pembalut." Pandu merogoh ponsel dari saku celana dan bersiap menghubungi Arga, tetapi Rasya menahan.
"Jangan Kak Arga. Nona Gea saja." Rasya menolak, tetapi Pandu melayangkan tatapan tajam yang membuat Rasya langsung terdiam seketika.
"Bilang aja cemburu sama Kak Arga." Rasya bergumam malas.
__ADS_1