
Jam baru menunjuk pukul empat, tetapi Rasya sudah bersiap untuk pergi bersama dengan Gatra. Dia merasa tenang karena sudah mengantongi izin dari suaminya. Rasya tidak berdandan cantik seperti cewek pada umumnya. Dia hanya memakai jumper warna biru Dongker yang berpadu dengan celana jeans warna hitam. Setelah siap, Rasya hendak berangkat. Namun, ponselnya tiba-tiba berdering. Kening Rasya mengerut dalam saat melihat nama suaminya tertera di layar.
"Hallo, Om. Ada apa?" tanya Rasya saat panggilan itu sudah terhubung.
"Kamu di mana?" tanya balik Pandu.
"Masih di rumah. Baru aja mau berangkat." Rasya menjawab dengan malas.
"Selamat berkencan kalau gitu. Aku cuma mau bilang kalau aku lembur dan mungkin akan pulang nanti malam. Nanti kamu langsung pulang ke rumah kita aja."
"Kalau ditanya mommy?"
"Biar aku yang menghubungi mommy nanti." Pandu bicara dengan yakin.
"Baiklah. Kalau begitu aku mau berangkat dulu, Om. See you." Rasya mematikan panggilan itu begitu saja. Setelahnya, dia menyimpan benda pipih itu di dalam tas selempang. Kemudian, dia pun keluar kamar dan tak lupa berpamitan dengan mertuanya sebelum pergi.
Lisa dan Ferdinan sudah menyuruh Gilang untuk mengantar Rasya ke restoran yang telah dipesan Gatra. Namun, Rasya justru menolak dengan tegas dan lebih memilih naik taksi. Tanpa sepengetahuan Rasya, mertuanya sudah menyuruh Gilang untuk mengikuti secara diam-diam.
__ADS_1
Hampir lima belas menit perjalanan, taksi yang ditumpangi Rasya pun sampai di restoran. Dengan langkah anggun dia masuk ke sana dan duduk di meja paling ujung. Rasya tersenyum lebar saat melihat Gatra sudah duduk di sana.
"Kupikir, aku yang sampai duluan, Mas," ucap Rasya.
"Aku tidak akan membiarkanmu menunggu, dong." Gatra menarik kursi di hadapannya dan menyuruh Rasya untuk duduk. Senyum Rasya mengembang sempurna melihat betapa manisnya perlakuan Gatra padanya.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Gatra lembut. Saat ini dia sudah duduk di kursinya kembali.
"Apa saja, Mas. Yang penting jangan racun," kelakar Rasya, dan Gatra terkekeh saat mendengarnya. Bahkan tanpa sadar dia mencubit pipi Rasya saking gemasnya.
"Maaf, tapi aku sengaja." Gatra tergelak melihat bibir Rasya yang saat ini sudah cemberut. Bahkan embusan napas kasar terdengar dari gadis itu. "Aku bercanda ... bercanda."
Gatra pun memesankan makanan kesukaan Rasya. Sambil menunggu makanan tiba, Rasya dan Gatra sama-sama tergelak keras dengan obrolan absurd mereka. Bahkan mereka tidak peduli dengan para pengunjung yang menatap heran ke arahnya. Kecuali dua orang dengan kacamata hitam dan masker yang duduk selisih dua meja dari Rasya dan Gatra.
Ketika makanan sudah tersaji pun, obrolan mereka masih terus berlanjut. Sembari mengunyah, Rasya terus saja berceloteh dan Gatra pun tak ketinggalan memberi tanggapan. Namun, saat mereka baru saja selesai makan, wajah Gatra mendadak serius. Rasya yang melihat itu pun menjadi begitu heran.
"Ra, ada yang ingin aku sampaikan padamu," ucap Gatra ragu. Alis Rasya saling bertautan. Merasa heran karena tidak biasanya Gatra seserius ini.
__ADS_1
"Mukanya kenapa serius gitu, sih, Mas. Aku jadi takut." Rasya menatap Gatra lekat.
Tanpa membuat suara, Gatra bangkit berdiri dan menarik tangan Rasya dengan pelan. Mengajaknya menuju ke taman belakang restoran yang sudah di dekor dengan cantik.
Pandangan mata Rasya mengedar ke seluruh penjuru sudut. Lampu hias yang terpasang di pohon dan tanaman yang tumbuh di sana, menampilkan kesan romantis. Masih belum selesai dengan rasa heran, Rasya begitu terkejut melihat ketiga sahabatnya berdiri di ujung dan masing-masing dari mereka membawa bunga.
"Woy! Kalian ngapain?" teriak Rasya. Dia berjalan cepat menuju ke tempat sahabatnya dan meninggalkan Gatra begitu saja.
"Astaga, Ra. Elu ngapain jadi kaya Tarzan? Teriak-teriak enggak jelas," cebik Zahra. Rasya tidak menyahut, hanya menatap satu persatu sahabatnya yang berdiri dengan membawa bucket bunga.
"Ciee, ehem-ehem!" Zety menaik-turunkan alis menggoda Rasya yang justru makin terlihat bingung.
"Kalian ...."
"Ra." Rasya terkejut melihat Gatra yang sudah berdiri setengah jongkok di depannya dengan mengulurkan sebuah kotak bludru warna merah. Terlihat kilau sebuah cincin emas dari dalam kotak itu.
"Maukah kamu menikah denganku?"
__ADS_1