
Melihat suaminya yang tersedak, Rasya dengan segera mengambilkan air putih yang langsung diminum sekali tenggak oleh Pandu. Saat air di gelas sudah tandas, Pandu meletakkan dengan cukup kasar hingga terdengar suara denting gelas yang menyatu dengan meja kaca. Bukannya takut, Rasya justru terkekeh saat melihatnya.
"Kamu berani sekali mau bertemu lelaki itu?" Suara Pandu meninggi.
"Mas, aku 'kan sudah bilang kalau mau nganter si Suketi ngelamar kerja. Kaya si Andra kemarin itu, loh." Rasya duduk di atas pangkuan Pandu.
"Kalau begitu aku ikut kamu ke Restoran Gama. Biar pertemuan kali ini digantikan Daddy," ujar Pandu. Rasya termangu sesaat ketika mendengar ucapan Pandu. Tidak menyangka kalau suaminya akan sebucin itu padanya.
"Jangan, Mas. Lebih baik kamu ke kantor aja. Aku janji enggak akan macem-macem." Rasya berusaha merayu, tetapi Pandu sangat tidak percaya.
"Kalau begitu pakai CCTV kemarin di bajumu. Aku khawatir kamu kenapa-napa." Pandu menurunkan suaranya. Tangannya merangkul pinggang Rasya dengan mesra.
"Tidak usah. Ada tiga cecunguk itu yang pasti akan menjagaku. Kamu juga sudah menempatkan pengawal di sekitarku. Aku janji akan jaga diri dan jaga hati juga." Rasya mengusap dagu Pandu dengan lembut. Namun, mampu membuat tubuh Pandu sedikit memanas.
"Mas, aku sama Zaenab dan Markonah tuh lagi menjalankan misi." Rasya menunjukan rentetan gigi putihnya hingga membuat Pandu curiga.
"Misi apa? Sudah kubilang jangan macam-macam." Pandu tampak kesal. Rasya pun membisikkan ide yang sudah dia rencanakan dengan sahabatnya. Pandu hendak kesal, tetapi saat melihat sorot mata Rasya yang begitu meyakinkan, Pandu pun mulai percaya.
"Tapi kamu harus janji jangan sampai terjebak permainanmu sendiri. Aku tidak mau kalau justru kamu yang akan jatuh cinta dengan laki-laki itu." Pandu memberi ultimatum.
Rasya mengangguk lalu mencium bibir Pandu untuk meredam emosi lelaki itu. Melihat Rasya yang agresif, Pandu pun menjadi terpancing dan sangat antusias membalas ciuman Rasya. Bahkan, Pandu memasukkan lidahnya untuk mengakses rongga mulut Rasya.
Mereka berdua pun mulai terbuai. Pandu mengangkat tubuh Rasya dan mendudukkan di atas meja. Tidak peduli apabila ada pelayan yang melihat adegan mereka. Dengan gerakan perlahan Pandu mulai mengusap punggung Rasya hingga menciptakan gelayar aneh. Ciuman Pandu perlahan turun ke leher Rasya dan menciptakan tanda kepemilikan di sana.
"Tuan—"
Suara Arga yang baru saja masuk ruang makan tercekat di tenggorokan saat melihat adegan yang membuat jiwa jomlo-nya kembali meronta. Arga memalingkan wajah, dan merutuki dirinya sendiri karena sudah membuat mata sucinya ternoda.
"Kamu mengganggu, Ga!" umpat Pandu saking kesalnya.
"Saya tidak tahu kalau Anda hendak mencetak keturunan Andaksa, Tuan. Kalau begitu saya tunggu di luar saja, tapi Anda harus ingat kalau tiga puluh menit lagi kita ada pertemuan penting." Arga membungkuk hormat lalu bersiap pergi, tetapi Pandu segera menahan.
__ADS_1
"Ayo kita berangkat. Aku antar kamu ke kontrakan." Pandu membantu Rasya turun dari meja.
"Aku berangkat sendiri aja, Mas. Nanti kalau kamu telat gimana?"
"Biarkan saja. Tidak ada yang akan marah kalaupun aku telat. Kalau kamu tidak mau diantar maka aku tidak akan mengizinkanmu pergi," ancam Pandu.
Rasya mengembuskan napas kasar lalu terpaksa menerima perintah Pandu. Selama dalam perjalanan, Rasya lebih banyak diam dan menatap keluar jendela. Arga yang melihat itu menjadi heran. Bukankah tadi dua orang itu saling bermesraan, tapi kenapa sekarang seperti musuh.
Di saat suasana di mobil sangat hening, tiba-tiba ponsel Rasya berdering. Dengan segera Rasya mengangkat panggilan dari Zahra.
"Hallo, Zae."
"Ra! Elu di mana? Kenapa lama banget?"
"Gue lagi di jalan. Bentar lagi nyampe."
"Jangan kelamaan!"
"Kenapa?" tanya Pandu ingin tahu.
"Enggak papa." Rasya menjawab malas.
"Kenapa kamu seperti itu? Apa kamu marah denganku? Padahal aku sudah mengizinkanmu bertemu Gatra." Pandu menarik tubuh Rasya supaya masuk dalam dekapannya. Rasya tidak menjawab, dan hanya memejamkan mata dalam rangkulan suaminya.
Arga yang melihat kemesraan mereka tersebut hanya bisa diam dan mengumpat dalam hati. Arga berusaha fokus pada jalanan tanpa peduli pada dua manusia yang sedang dimabuk cinta.
Setelah hampir dua puluh menit, Arga menghentikan mobilnya dan langsung disambut oleh ketiga sahabat Rasya yang sedang duduk di depan rumah.
"Ra!" teriak Zety. Rasanya dia sudah sangat merindukan sahabat somplaknya.
"Gue kangen banget sama kalian." Rasya berlari menghambur untuk memeluk ketiga sahabatnya. Pandu dan Arga hanya menatap dari samping mobil.
__ADS_1
Setelah puas berpelukan, Rasya kembali ke tempat suaminya dan mencium pipi Pandu di depan semua orang tanpa rasa malu. Pandu pun mendaratkan ciuman lama di kening Rasya.
"Jaga dirimu baik-baik." Pandu berbicara lembut.
"Ya, kamu hati-hati di jalan." Rasya membalas. Pandu pun mencium pipi Rasya sebelum masuk kembali ke mobil dan pergi dari sana.
Setelah mobil Pandu lenyap dari pandangan, Rasya bersorak kegirangan. Dia lalu mengajak ketiga sahabatnya untuk langsung menuju ke restoran Gatra menggunakan taksi.
***
"Kamu di sini, Ra?" Gatra menatap tidak percaya dengan kedatangan Rasya dan ketiga sahabatnya.
"Iya, Mas. Aku mau bikin repot lagi." Rasya menunjukkan rentetan gigi putih. Gatra yang paham akan ucapan Rasya, hanya mengangguk lalu menyuruh keempat cewek itu untuk masuk ke ruangan pribadi milik Gatra. Tidak lupa, Gatra menyuruh Bella dan Andra untuk membawakan makanan untuk mereka.
Rasya pun mulai berbicara dengan sedikit serius. Membicarakan soal maksud kedatangannya ke restoran Gama karena ingin melamarkan pekerjaan untuk Zety. Tanpa menunggu lama, Gatra langsung menerima karena dia memang sedang membutuhkan karyawan lagi.
"Kalian jangan pergi, kita makan dulu." Gatra menahan mereka saat terdengar pintu diketuk.
Setelah Gatra menyuruh masuk, terlihatlah Andra dan Bella yang sedang membawa nampan masuk. Raut wajah Bella masih sama seperti dulu. Sangat tidak bersahabat.
"Bagaimana, Ndra? Kamu betah di sini?" tanya Rasya.
"Betah, Nona. Di sini sangat nyaman. Terima kasih banyak bantuannya, Nona." Andra menjawab sopan, sambil menaruh makanan di depan Gatra.
"Dia anaknya rajin, kok, Ra. Sangat ramah juga." Gatra menimpali.
"Syukurlah. Semoga betah terus. Besok sahabatku si Suketi ini, juga mulai kerja di sini, Ndra. Aku nitip ya," ujar Rasya.
Bella yang mendengar itu hanya mengumpat dalam hati. Tidak peduli pada ancaman Pandu waktu itu, Bella menatap benci ke arah Rasya. Apalagi Bella merasa kalau tingkah Rasya begitu sok-sokan.
Entah apa yang terbesit dalam pikiran Bella, tiba-tiba dia menyenggol gelas berisi jus mangga hingga tumpah dan mengenai celana yang dikenakan Rasya. Mereka begitu terkejut termasuk Rasya sendiri.
__ADS_1
"Apa-apaan kamu, Bel!" murka Gatra.