
Pandu sudah hampir berangkat ke kantor, tetapi Rasya masih asik bergulung di bawah selimut. Pandu beberapa kali memanggil nama istrinya sembari menggoyangkan lengan Rasya supaya wanita itu lekas terbangun. Namun, Rasya tetap bergeming hingga akhirnya Pandu memilih untuk menindih tubuh Rasya. Tidak peduli pada jas yang dikenakannya itu akan kembali kusut.
"Jangan ganggu aku!" omel Rasya dari dalam selimut. Bukannya menyingkir, tetapi Pandu justru berusaha membuka selimut yang menutup seluruh tubuh istrinya.
"Aku mau berangkat kerja. Kamu tidak ingin salim denganku? Atau setidaknya mencium pipiku?" Pandu menggoda.
"Tidak! Aku lagi males sama kamu!" Suara Rasya terdengar begitu ketus.
"Kenapa? Padahal aku sudah memberi kamu izin bertemu bos kesayangan, tanpa diriku pula." Pandu berbicara seolah sedih, tetapi penuh dengan ledekan.
"Aku enggak jadi ketemu Mas Gatra!"
"Kenapa?"
"Kamu pikir aja sendiri! Ini semua karena kamu! Aku marah!" Rasya merajuk, tetapi Pandu justru tergelak saat mendengarnya.
Melihat Rasya yang tidak mau membuka selimut sama sekali. Akhirnya Pandu memilih tetap berpamitan dan mencium selimut yang menutup Rasya secara asal. Lalu dia turun dari tempat tidur dan membuka pintu kamar.
__ADS_1
Mendengar suara pintu yang tertutup, Rasya membuka selimut yang menutup tubuhnya dan berkali-kali mengembuskan napas lega. Sebenarnya dia sudah merasa engap sejak tadi, tetapi dia masih dalam mode ngambek dengan suaminya.
Rasya membuka selimut dan bersiap hendak turun untuk ke kamar mandi. Namun, baru saja tubuhnya setengah berbalik, Rasya langsung terdiam saat melihat Pandu masih berdiri sembari memegang handle pintu. Bibir lelaki itu tersenyum lebar bahkan terlihat sekali dia sedang menahan tawa yang hendak meledak.
"Kupikir kamu udah pergi?" Rasya kembali merebahkan tubuhnya dan tidur menyamping membelakangi Pandu.
"Aku tidak bisa pergi tanpa kecupan dari istriku," goda Pandu. Dia melangkah mendekati tempat tidur lagi dan dengan gerakan cepat merebahkan diri di samping Rasya.
"Kamu dulu enggak gini, deh, Mas. Tapi kenapa sekarang kamu bucin banget sama aku?" Rasya membiarkan tangan Pandu melingkar di perutnya. Bahkan, lelaki itu dengan manja menaruh kepala di ceruk leher Rasya.
"Memangnya tidak boleh kalau seorang suami menunjukkan rasa sayangnya kepada istrinya?" Pandu mendadak kesal.
"Ayo bersiaplah. Aku akan mengajakmu ke Restoran Gama. Bukankah kamu sudah berjanji akan mengantar pelayan kemarin itu ke sana." Pandu merasa enggan untuk menyebut nama lelaki lain. Mood nya bisa saja hancur kalau menyebutnya.
"Mas! Kamu pikir, deh. Mau ditaruh di mana muka aku kalau ketemu Mas Gatra dalam keadaan yang memalukan!" Rasya sewot sendiri. Kekesalannya pada sang suami benar-benar sudah kadar tinggi.
"Kenapa mesti malu? Itu namanya stempel kepemilikan dan tanda cinta," jawab Pandu santai.
__ADS_1
Rasya dengan sekuat tenaga menyingkirkan tangan lelaki itu. Wajah Rasya tampak marah, tetapi Pandu justru menggigit bibir untuk menahan tawa. Melihat apa yang dilakukan suaminya, dengan perasaan jengkel, Rasya memukul dada bidang lelaki itu. Namun, Pandu dengan segera mencekal kedua tangan Rasya.
"Kenapa kamu marah? Aku sudah mengizinkanmu bertemu Gatra, bahkan aku yang akan mengantar langsung. Semua aku lakukan demi istriku. Tapi kenapa seolah aku ini lelaki yang tidak berguna untukmu?" Pandu berpura-pura seolah dia adalah suami yang sangat di dzolimi istri. Rasya yang mendengar celotehan Pandu hanya memutar bola mata malas.
"Ayo, jadi tidak?" Pandu memastikan.
"Mas, kamu pikir deh. Mau ditaruh di mana muka aku ketemu Mas Gatra dengan leher penuh lukisan gini." Rasya menunjuk lehernya yang penuh dengan tatto alami dari bibir Pandu.
Pandu menyingkirkan rambut Rasya dan tergelak melihat hasil ciptaannya sendiri. Dia sendiri tidak menyangka akan sebanyak itu hasil karyanya. Melihat Pandu yang terus saja tergelak membuat Rasya makin marah.
"Sudah puas kamu, Mas?"
"Sudah kubilang itu tanda kepemilikan bahwa kamu sudah resmi menjadi milikku seratus persen." Pandu masih berusaha untuk meredam tawanya. Entah mengapa, melihat istrinya yang kesal seperti itu menjadi sebuah kebahagiaan untuknya.
"Aku tahu, tapi bukan berarti dengan membentuk gambar cinta seperti ini. Memalukan. Huaaa ... bapakkk." Rasya berpura-pura menangis sembari menunjuk gambar ******n yang membentuk gambar hati. Rasya benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan suaminya tersebut.
"Itu namanya karya seni. Biar kamu tahu betapa aku sangat berbakat dalam bidang seni."
__ADS_1
"Ya, kamu memang sangat berbakat dalam bercinta!" Rasya hendak berbalik lagi, tetapi Pandu segera menahan dan mencium pipi Rasya penuh cinta.
"Mandilah. Aku tunggu. Biar aku siapkan baju untukmu." Pandu berbicara sangat lembut. Rasya pun bergegas turun dan menuju ke kamar mandi. Kakinya menghentak seperti anak kecil untuk meluapkan kekesalan. Pandu yang melihat itu pun hanya mampu tersenyum tipis.