Gadis Somplak Milik Cassanova

Gadis Somplak Milik Cassanova
36


__ADS_3

Mobil Gatra berhenti di jalan yang sepi saat mobil yang dikemudikan Arga berhenti tepat di depannya. Rasya hampir saja terbentur dashboard karena Gatra berhenti mendadak.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Gatra khawatir.


"Aku tidak apa-apa, Mas. Cuman kaget aja." Rasya menjawab ramah.


Gatra mengucap syukur lalu turun dari mobil dan berniat memberi perhitungan kepada pengemudi itu. Namun, Gatra terdiam di tempatnya saat melihat Pandu dan Arga keluar dari mobil dengan raut wajah yang tampak datar. Rasya juga terlonjak melihat keberadaan suaminya. Dia pun segera keluar dan berdiri di samping Gatra.


"Berangkat denganku!" kata Pandu penuh perintah.


"Om, kita beda jurusan," tolak Rasya. Wajahnya terlihat begitu kesal.


"Aku bilang berangkat denganku!" ulang Pandu dengan nada yang lebih tegas, tetapi Rasya tidak gentar dan justru melipat tangan di depan dada.


"Om, lebih baik berangkat sana. Kita ini be-da ju-ru-san!" Rasya mengeja untuk memperjelas. "Apa Om tidak paham?" Bibir Rasya mengerucut kesal.

__ADS_1


Pandu tidak menjawab, dan justru menarik tangan Rasya dengan kasar dan memasukkan gadis itu ke mobil miliknya. Gatra menahan lengan Pandu yang juga akan masuk ke mobil.


"Jangan kasar dengan perempuan, Tuan." Gatra berusaha meredam emosinya.


"Jangan ikut campur!" bentak Pandu. Gatra pun melepaskan cekalan tangannya, sedangkan Pandu bergegas masuk dan menyuruh Arga untuk melajukan mobilnya ke kantor.


"Om, kenapa kamu suka banget maksa, sih!" protes Rasya, tetapi Pandu tidak peduli dan tetap duduk tenang di kursinya. Rasya ingin sekali mencakar wajah Pandu yang begitu menyebalkan baginya.


Sesampainya di kantor, Pandu menarik tangan Rasya masuk ke ruangannya. Dia tidak peduli meski banyak pasang mata karyawan yang menatap heran ke arah mereka. Rasya berusaha meronta, tetapi dia kalah tenaga. Pandu mengunci pintu dan membiarkan Arga berjaga di luar.


"Om! Lepasin! Tanganku sakit," rengek Rasya. Cekalan itu pun terlepas karena Pandu begitu tidak tega.


"Om, kenapa mesti marah-marah gitu. Hubungan kita ini hanya suami istri siri saja," ucap Rasya santai, tetapi mampu membuat kemarahan Pandu semakin menjadi-jadi.


"Apa maksud kamu meminta menikah siri supaya bisa mempermainkan perasaanku?" tukas Pandu dengan nada tinggi.

__ADS_1


"Tidak!" Rasya mengelak, "Om, jujur aja. Siapa yang awalnya ingin mempermainkan siapa?" Rasya tersenyum sinis saat melihat wajah Pandu yang mendadak gugup.


"Om, inilah kenapa aku minta nikah siri. Aku tahu Om nikahi aku bukan karena cinta, makanya aku minta nikah siri. Suatu saat kalau kita tidak berjodoh, kita bercerai hanya dengan satu kata talak tanpa susah-susah mengurus surat perceraian."


"Jaga mulutmu!" Pandu hampir saja menampar Rasya kalau dia tidak berusaha sekuat tenaga menahan emosinya.


"Om, bagiku yang keterlaluan itu Om sendiri. Aku cuma nebeng Mas Gatra sampai restoran, eh Om udah marah-marah. Bagaimana kalau aku membawa lelaki lain menginap di rumah kita?" sarkas Rasya. Tubuh Pandu menegang. Ucapan Rasya tepat mengenai ulu hatinya. Melihat Pandu yang membisu, sudut bibir Rasya makin tertarik jelas.


"Gea itu bukan wanita lain, dia adalah ...."


"Teman duet Om di atas ranjang? Hahaha." Rasya tergelak keras. Entah apa yang dia tertawakan, sikap Pandu atau justru kebodohannya sendiri. Namun, Rasya terkejut saat Pandu menyeret lengannya. Memojokkan hingga menyentuh dinding, dan tanpa berbicara Pandu langsung mencium Rasya dengan kasar. Rasya menolak, tetapi kalah tenaga. Pandu seolah sedang dirasuki setan.


Rasya sudah menutup rapat bibirnya, tetapi Pandu mengigitnya hingga mengeluarkan darah lalu dengan lihai Pandu mengakses rongga mulut Rasya dengan lidahnya. Dia tidak peduli, meski Rasya terus saja memukul dada bidangnya.


Setelah puas dengan bibir, Pandu menurunkan ciumannya, menyapu seluruh leher Rasya hingga gadis itu menggeliat karena merasakan seluruh tubuhnya terasa meremang. Ada gelayar aneh yang baru pertama kali dia rasakan. Rasya mendes*h tak kuasa saat Pandu menciptakan tanda kepemilikan di sana.

__ADS_1


"Bunuh aku saja, Om." Rasya berkata disela rasa pasrahnya. Kesadaran Pandu kembali. Dia melihat mata Rasya yang tampak berkaca-kaca, dengan cepat Pandu menarik tubuh istrinya masuk dalam dekap eratnya.


"Maafkan aku. Maaf, aku sudah keterlaluan." Pandu berkata penuh sesal, tetapi Rasya hanya diam mengusap air mata yang mulai perlahan turun.


__ADS_2