
Gea keluar dari apartemen milik Gilang dengan terburu. Bahkan dia tidak menyadari kalau hanya memakai sandal jepit dan celana pendek karena terlalu khawatir dengan Gilang. Namun, baru beberapa langkah meninggalkan unit apartemen dan hendak menuju ke lift, langkah Gea terhenti saat melihat Arga sedang berjalan mendekat.
Gea lupa kalau Arga dan Gilang berada dalam satu apartemen. Gea menunduk gugup saat jarak dirinya dengan Arga makin dekat. Tatapan mata Arga pun tidak terlepas sama sekali dari Gea.
"Aku tidak menyangka kalau akan bertemu dengan wanita sepertimu di sini," ucap Arga.
Gea mendongak, menatap Arga yang sedang tersenyum sinis padanya. Langkah Arga terhenti tepat di samping Gea. Lelaki itu menoleh dan menatap Gea yang juga sedang menatapnya.
"Aku tidak menyangka kalau kamu adalah wanita yang sangat picik. Kamu menggoda Tuan Pandu, tetapi karena tidak bisa mendapatkannya, sekarang kamu menggoda Tuan Gilang, adiknya. Sungguh sangat sulit dipercaya." Sudut bibir Arga terangkat, tersenyum melihat raut wajah Gea yang tampak sendu. Arga sangat yakin kalau Gea hanyalah berpura-pura untuk menarik simpati.
"Kak, aku ...."
"Kamu mau bilang aku bukan wanita rendahan?" tukas Arga yang membuat Gea meremas dada saat merasakan hatinya berdenyut sakit. Tuduhan Arga begitu membuat luka yang teramat dalam untuknya.
"Aku bukan wanita murahan, Kak!" bantah Gea tidak terima. Namun, senyum sinis di bibir Arga justru makin terlihat jelas.
"Seorang wanita yang mendekati kekasih kakaknya, lalu sekarang menginap di apartemen milik lelaki, apa itu namanya bukan wanita rendahan?" ucap Arga. Tangannya kini terlipat di depan dada. Kepala Gea kembali menunduk dalam saat tatapan matanya baru saja bertemu dengan tatapan milik Arga.
"Aku tahu kenapa dulu kamu pernah mengatakan kalau aku tidak pernah pantas untukmu. Karena hanya lelaki kaya yang bisa bersanding denganmu!" Emosi Arga hendak naik, tetapi dengan berusaha keras dia menahan emosinya agar tidak meluap.
"Kak, sebenarnya ada hal yang akan aku katakan, tapi sekarang aku harus pergi karena Gilang kecelakaan. Jadi, maaf kak, aku pamit." Gea menangkup tangan di depan dada sebelum akhirnya pergi meninggalkan Arga begitu saja.
Namun, langkah Gea seketika terhenti saat ada seseorang yang memegang lengannya. Gea berbalik dan terkejut saat melihat Arga sedang menatapnya penuh selidik.
"Tuan Gilang kecelakaan?" tanya Arga khawatir. Gea tidak menjawab, hanya mengangguk cepat sembari menatap tangan Arga yang masih berada di lengannya. Menyadari arah pandang Gea, cekalan tangan Arga terlepas begitu saja. Raut wajah Arga tampak begitu gugup.
"Kalau begitu kita ke rumah sakit sekarang." Arga mengajak Gea menuju ke parkiran. Karena terburu, dan dirinya belum memesan taxi, akhirnya Gea mengekor Arga. Bahkan, ketika di dalam mobil dan duduk bersebelahan.
Selama dalam perjalanan, Arga terlihat fokus dengan setir kemudi meski sesekali ekor matanya melirik Gea yang tampak begitu khawatir. Gadis itu berkali-kali meniup kedua telapak tangan yang disatukan, seperti saat sedang kedinginan. Padahal Gea hanya ingin menutupi kegelisahannya.
Mobil milik Arga berhenti di depan area rumah sakit. Mereka berdua segera bergegas menuju ke ruang gawat darurat.
__ADS_1
"Gilang!" teriak Gea saat melihat Gilang sedang berdiri di depan ruang IGD bersama dua orang sahabatnya. Gilang terkejut, apalagi saat tiba-tiba Gea menubruk tubuhnya untuk memeluk.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Gea khawatir. Makin mengeratkan pelukannya, sedangkan Gilang membalas pelukan itu tak kalah erat.
"Aku baik. Memangnya kenapa?" tanya Gilang, keningnya terlihat mengerut dalam mendengar pertanyaan Gea.
"Katanya kamu kecelakaan," sahut Gea, tanpa melepaskan pelukannya. Dia tidak tahu kalau Arga sedari tadi mengamati mereka dengan tatapan yang susah dijelaskan.
"Kecelakaan? Siapa bilang?" Gilang melepas pelukannya lalu memegang kedua pundak Gea. Pandangan Gilang tertuju pada Gea yang terlihat jelas jejak air mata di sana.
"Tadi ada yang telepon pakai nomormu, katanya kamu kecelakaan." Gea mengusap air mata yang hendak menetes lagi.
Gilang berdiri tegak, lalu menatap tajam kedua sahabatnya yang sedang berusaha menahan tawa. Gea yang menyadari itu pun mulai curiga.
"Brian! Felix!" seru Gilang. Kedua sahabat Gilang hanya saling menyenggol lengan dan menyalahkan. "Siapa di antara kalian yang udah bohong sama Gea?"
"Brian, Lang," cetus Felix.
"Barusan yang pegang ponsel gue siapa?" Suara Gilang masih penuh dengan penekanan.
"Brian," sahut Felix. Yang ditunjuk hanya menunjukkan rentetan gigi putihnya.
"Brian Gautama Pradita!" Lengkingan suara Gilang menggelegar di sana. Dia hendak marah dengan sahabatnya, tetapi Gea dengan segera menahan tangan Gilang dan berusaha untuk menenangkan.
"Sudah, Lang. Yang penting kamu baik-baik saja," ucap Gea lembut.
"Tapi dia sudah membuat kamu khawatir, Ge." Gilang masih terlihat kesal, Gea menarik bibir, tersenyum lebar.
"Lang ...."
"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, Ge." Gilang kembali menarik tubuh Gea masuk dalam dekapannya. Tak lupa sebuah kecupan lembut mendarat di puncak kepala Gea.
__ADS_1
Arga memalingkan wajah saat melihatnya. Tangan Arga terkepal erat saat merasakan hatinya memanas seolah terbakar. Dengan segera Arga bergegas kembali ke mobil lalu pergi dari sana.
***
Gilang terkekeh saat melihat wajah Gea yang masih penuh dengan bekas air mata. Dia tidak menyangka kalau Gea akan sekhawatir itu padanya. Ide Brian ampuh juga. Sahabat Gilang tersebut memang sengaja berbohong untuk melihat seberapa khawatir Gea kalau Gilang sedang terluka, dan hasilnya ... membuat senyum di bibir Gilang mengembang dengan sempurna.
"Lang, jangan senyum gitu, ih! Happy banget udah buat aku khawatir." Gea mencebikkan bibir karena kesal.
"Bukan aku yang berbohong, salahkan saja mereka berdua." Gilang menunjuk Brian dan Felix yang hanya cengengesan.
"Sorry, Ge." Brian berpura-pura menyesal. Gea hanya menanggapi dengan senyuman.
"Terus kenapa sekarang kalian di rumah sakit?" tanya Gea ingin tahu karena sedari tadi dia belum bertanya hal itu.
"Tadi waktu kita mau ke klub, ada kecelakaan di pinggir jalan. Terus kita tolong dong. Nah, aku titipin ponsel ke mereka karena aku susah waktu angkat itu korban. Tidak tahunya malah mereka usil banget," papar Gilang sebal.
"Oh begitu. Syukurlah kalau ternyata kamu baik-baik saja. Aku saking khawatirnya cuma pakai sandal jepit doang." Gea terkekeh melihat sepasang sandal jepit yang dia kenakan.
Gilang pun melihatnya. Namun, fokus Gilang justru ke arah celana pendek yang dikenakan Gea. Dengan segera Gilang melepas jaket yang dikenakan. Gea hanya menatap heran padanya.
"Kita pulang sekarang," ajak Gilang sambil memasang jaket di pinggang Gea untuk menutupi paha gadis itu.
"Lang." Gea menatap Gilang dengan bahagia karena lelaki itu begitu perhatian padanya.
"Kamu ke sini dengan siapa?" tanya Gilang, mengedarkan pandangan ke sekitar, tetapi tidak melihat siapa pun yang dikenalnya.
"Kak Arga," sahut Gea lirih. "Astaga, ke mana Kak Arga?" Gea celingukan mencari keberadaan Arga yang menghilang.
"Bagaimana bisa kamu bersama Arga?" tanya Gilang penasaran. Alis lelaki itu sampai saling bertautan.
"Barusan aku bertemu dia di apartemen," sahut Gea lesu.
__ADS_1
"Astaga, aku lupa kalau aku satu apartemen dengan dia. Ya sudah, kalau begitu kita pulang sekarang." Gilang pun mengajak mereka untuk pulang dan niat Gilang ke klub malam pun gagal sudah.