Gadis Somplak Milik Cassanova

Gadis Somplak Milik Cassanova
108


__ADS_3

"Kenapa kalian diam?"


"Mommy." Rasya berlari dan menghambur ke pelukan Lisa. Dengan antusias Lisa segera menyambut pelukan dari anak menantunya. "Aku kangen sama Mommy."


"Mommy juga sangat merindukan kamu, Ra."


Kedua wanita itu saling berpelukan erat, dan melupakan Zahra yang sedang menatap mereka nanar. Zahra bergumam dalam hati. Bolehkah dia iri dengan Rasya saat ini. Betapa sempurnanya hidup Rasya, memilik keluarga utuh yang saling mengasihi, mendapat suami dan ibu mertua juga sangat menyayangi. Sangat berbeda dengan dirinya yang begitu menyedihkan.


Menjadi anak yatim piatu yang hanya cukup, juga harus bisa bertahan hidup di dunia yang keras ini. Bahkan, Zahra sangat ingin merasakan pelukan seorang ibu.


Zahra mengusap air mata yang hendak mengalir. Dia tidak ingin siapa pun tahu sisi cengengnya. Namun, Rasya justru terlanjur melihat itu semua. Dengan langkah lebar Rasya mendekat lalu memeluk erat tubuh Zahra.


"Elu kenapa, Ra?" tanya Zahra berpura-pura.


"Gue pengen meluk elu aja." Rasya mengeratkan pelukannya sebelum akhirnya melerai pelukan tersebut. "Jangan sedih. Ada gue di sini dan gue bakal jagain elu."


Zahra tersenyum mendengar ucapan Rasya. Dia benar-benar bersyukur memiliki sahabat sebaik Rasya. Bukan hanya Rasya, tetapi Zety dan Margaretha juga sama.


"Kalian belum jawab pertanyaan mommy," sela Lisa mengingatkan.


"Rasya lupa, Mom. Jadi gini, barusan Rasya testpack, tapi hasilnya meragukan."


"Kenapa begitu?" sela Lisa tidak sabar. Dia sudah sangat ingin memiliki cucu sebagai teman di masa tuanya sekarang.


"Garisnya seperti satu atau dua, Mom. Sebentar." Rasya berjalan kembali ke kamar lalu mengambil tespack yang berada di atas nakas. Rasya pun memberikan tespack tersebut kepada Lisa.


Kening Lisa mengerut dalam saat melihat tespack yang berada dalam genggaman. Berusaha mencermati satu garis yang tampak samar-samar. Namun, beberapa saat kemudian, senyum Lisa mengembang sempurna.

__ADS_1


"Ra, selamat ya. Kamu hamil." Lisa memeluk Rasya bahkan mencium kedua pipi Rasya saking bahagianya.


"Mom, tapi yang satu belum jelas garisnya." Rasya masih ragu.


"Ya, karena kamu baru telat jadi dia masih samar. Bagaimana kalau kita buat kejutan untuk Pandu tiga hari lagi," ucap Lisa antusias.


"Emang kenapa mesti buat kejutan, Mom?" Rasya masih belum paham.


"Jangan bilang kamu lupa kalau suamimu tiga hari lagi akan berulang tahun." Lisa sedikit kesal, tetapi dia hanya berpura-pura.


Rasya menepuk kening saat baru mengingat kalau suaminya tiga hari lagi akan bertambah usia. Lisa pun menyuruh Rasya testpack dua hari lagi supaya garisnya jelas, dan akan menjadikan itu sebagai kado di ulang tahun Pandu.


Mengetahui menantunya hamil, Lisa dengan segera menghubungi Ferdinan dan mengatakan kabar bahagia tersebut. Ferdinan pun merasa sangat bahagia dan ingin segera menyusul ke rumah Pandu, tetapi Lisa melarang. Lisa tidak ingin Pandu curiga dan semua kejutan itu akan gagal.


Lisa juga melarang Rasya untuk mengatakan pada Paijo, tetapi Lisa akan menyuruh anak buah suaminya untuk menjemput orang tua Rasya di kampung. Sekaligus memberi kejutan untuk mereka. Rasya tidak bisa menolak dan hanya bisa mengiyakan saja.


Setelah merasa perutnya kenyang. Rasya mengajak Zahra untuk tidur di kamar tamu sambil menunggu Pandu pulang. Ketika akhir bulan dan mempunyai lemburan, biasanya Pandu akan pulang sampai larut malam bahkan bisa sampai pagi.


Ketiga wanita itu pun tidur dalam satu kasur. Rasya berada di tengah supaya bisa dekat dengan Lisa maupun Zahra. Sebelum tertidur mereka mengobrol banyak hal. Lisa memberi nasihat kepada Rasya untuk menjaga kehamilannya karena tiga bulan pertama itu sangat rawan.


Rasya hanya mengiyakan. Dia merasa bahagia saat ibu mertuanya betapa memperhatikan dirinya. Lisa juga berceloteh tentang ngidam waktu hamil Pandu juga Gilang. Rasya dan Zahra mendengarkan dengan seksama. Terkadang mereka tergelak keras saat cerita Lisa ada sisi lucunya dan menangis saat ceritanya sedih. Sampai pada akhirnya, Rasya dan Zahra benar-benar terlelap, sedangkan Lisa mengambil ponsel untuk menghubungi Arga.


***


Pandu mengembuskan napas lega saat pekerjaannya telah selesai. Dia menatap jam di tangan sudah menunjukkan pukul satu malam. Pandu yakin pasti istrinya saat ini sudah tidur.


Lelaki itu bangkit berdiri dan mengambil ponsel yang tergeletak di samping komputer. Arga yang juga sudah selesai ikut bangkit setelah merapikan mejanya. Kemudian, mereka berdua bergegas pulang.

__ADS_1


"Pasti istriku sudah tidur, Ga." Pandu duduk bersandar. Lelaki itu menguap karena sangat mengantuk.


"Sudah, Tuan. Barusan Nyonya Lisa bertanya jam berapa Anda akan pulang," ucap Arga. Dia pun duduk bersandar di sebelah Dani. Pandu memang tidak mengizinkan Arga menyetir karena dia tahu Arga sama lelahnya dengan dirinya.


"Bilang saja sama mommy kalau kita sebentar lagi sampai rumah," suruh Pandu. Arga hanya mengiyakan.


Pandu tersenyum karena Lisa masih saja sama seperti biasa. Di saat akhir bulan lembur seperti ini, Lisa belum tidur jika Pandu belum sampai rumah dan menyelesaikan pekerjaannya.


Ketika mobil tersebut sudah terparkir di depan pintu utama. Pandu bergegas turun dan masuk ke rumah. Dia langsung disambut oleh Lisa. Setelah mencium kedua pipi Lisa, Pandu pun menuju ke kamar tamu untuk melihat istrinya.


Pandu tersenyum saat melihat Rasya yang sedang terlelap. Dengan gerakan yang sangat perlahan, Pandu membopong Rasya untuk memindahkan ke kamar miliknya. Seperti kerbau, Rasya sama sekali tidak terbangun ketika Pandu mengangkatnya. Bahkan, ketika mereka sudah sampai di kamar dan Pandu merebahkan tubuh Rasya di atas tempat tidur.


Sebelum tidur, Pandu ingin membersihkan diri terlebih dahulu karena seluruh tubuhnya terasa lengket. Namun, ketika dia hendak turun dari tempat tidur, tiba-tiba Rasya menahan lengannya. Pandu berbalik dan melihat istrinya masih memejamkan mata.


"Jangan pergi." Rasya mengigau.


Bibir Pandu tersenyum lebar. Dia mencium kening Rasya sembari melepaskan tangan wanita itu dari lengannya. Ketika Rasya sudah kembali terlelap, Pandu bersiap untuk kembali turun, tetapi Rasya lagi-lagi menahan tangannya.


"Jangan pergi," gumam Rasya lagi.


"Sayang, aku mau mandi dulu ya. Tubuhku sudah sangat lengket dan kotor. Tunggu sebentar." Pandu mencium kening Rasya lama. Lalu bersiap untuk turun.


Akan tetapi, Pandu merasa sedikit kesal saat Rasya menahannya lagi. Bukannya Pandu tidak mau memeluk Rasya, tetapi dia tidak bisa tidur jika badannya lengket seperti sekarang.


"Jangan pergi, Mas. Aku pengen seblak."


"Astaga." Pandu menggeleng mendengar igauan Rasya. Dengan gemasnya Pandu menciumi seluruh wajah Rasya.

__ADS_1


__ADS_2