
Rasya hanya terdiam mendengar pertanyaan Pandu yang begitu menuntut. Bukannya Rasya tidak mau meminta bantuan Pandu, tetapi dia adalah wanita mandiri. Tidak mudah baginya meminta sesuatu kepada orang lain tanpa merasa tidak enak hati.
"Maaf, Mas." Rasya menunduk dalam. Begitu juga dengan Zahra yang lebih merasa takut daripada Rasya.
Lagi-lagi, bukannya marah Pandu justru menarik tubuh Rasya masuk dalam dekap eratnya. Entah mengapa, sekarang Pandu mulai susah jika harus marah dengan Rasya.
"Lain kali, kalau kamu butuh apa pun, katakan padaku. Minta sama aku. Apa pun yang kamu mau pasti akan aku berikan." Ucapan Pandu memang lugas, tetapi mampu membuat hati Rasya berdesir.
"Ya, makasih banyak, Mas." Rasya membalas pelukan suaminya tidak kalah erat.
"Tidak perlu berterima kasih karena semua sudah kewajibanku sebagai suami." Pandu mencium kening Rasya dengan mesra.
Zahra dan Arga sama-sama melengos. Seharian ini mereka merasa dongkol karena harus menjadi saksi bagaimana dua orang yang sedang berbahagia terus saja bermesraan, bahkan tanpa peduli pada jomlo. Memang benar, jika orang sedang jatuh cinta, berbunga-bunga, dunia serasa milik berdua. Yang lain ngontrak, ada yang ngekost juga kata Zaenab.
Setelah puas berpelukan, Pandu mengajak mereka menuju ke rumah sakit di mana Rosita dirawat. Zahra terus saja merasa tidak enak hati, tetapi dia pun tidak bisa menolak karena jujur, dirinya juga sangat membutuhkan bantuan saat ini.
***
Setibanya di rumah sakit, mereka langsung menuju ke ruangan di mana Rosita di rawat. Ketika pintu ruangan terbuka, terlihatlah seorang gadis berusia tujuh tahun dan seorang pria muda hampir seusia Arga.
"Mas Yudha! Kapan pulang?"
"Zahra. Astaga. Aku kangen banget sama kamu."
Zahra dan Yudha sama-sama melangkah mendekat dengan cepat lalu mereka berpelukan erat. Bahkan, Yudha terlihat mencium puncak kepala Zahra. Arga melengos saat merasakan hatinya mendadak panas. Melihat betapa intimnya Zahra dan Yudha, membuat hati Arga menghadirkan perasaan lain—seperti rasa cemburu.
Arga menggeleng untuk mengusir pikiran yang begitu mengusik. Merutuki dirinya sendiri. Bagaimana bisa dirinya baper saat melihat betapa mesranya Zahra dan Yudha. Arga kembali menatap mereka saat pelukan dua orang tersebut sudah terlepas.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka kalau gadis kecilku yang dulu, sekarang sudah sebesar ini. Cantik pula," puji Yudha. Wajah Zahra bersemu merah saat mendengarnya.
"Jangan buat aku Ge-er, Mas." Zahra mencebik, tetapi beberapa detik kemudian sudut bibir Zahra tertarik hingga membentuk senyuman yang begitu manis.
"Kak Zahra—" Panggilan dari brankar berhasil mengejutkan Zahra. Gadis itu dengan segera mendekati brankar dan mengusap puncak kepala Rosita penuh sayang.
"Rosita, masih pusing sekali?" tanya Zahra lembut. Rosita menggeleng cepat. "Cepat sembuh, Sayang."
"Kalau Rosita sembuh, nanti kita main ke pasar malam. Rosita, Kak Zahra, sama Kak Yudha juga. Bagaimana?"
Wajah Rosita mendadak semringah saat mendengar tawaran Yudha. Dengan cepat gadis kecil itu mengangguk dan mengaitkan kelingking dengan kelingking Yudha sebagai tanda saling berjanji. Zahra yang melihat itu pun terus saja tersenyum bahagia.
"Mereka manis sekali, Mas. Seperti keluarga yang harmonis." Rasya yang sedari tadi diam melihat interaksi antara Zahra, Yudha dan Rosita pun merasa begitu bahagia.
Pandu memeluk Rasya dari belakang. Kemudian, lelaki tersebut menaruh kepala di ceruk leher istrinya. Tanpa sadar, tangan Pandu mengusap perut Rasya dengan sangat lembut. Arga yang berdiri di belakang Pandu, hanya mendengkus kasar. Sungguh, Arga merasa nasibnya sial karena jiwa jomlo-nya sedari tadi terus diuji.
Zahra yang mendengar suara Pandu pun, akhirnya sadar kalau belum memperkenalkan mereka.
"Mas Yudha, aku sampai lupa ngenalin temen aku ke kamu." Zahra mendekati Rasya, sedangkan Pandu melepas pelukannya dengan sedikit terpaksa.
"Ini Rasya, temen satu kontrakan yang dulu sering aku ceritain ke kamu."
"Elu cerita apa tentang gue?" sela Rasya sedikit ketus.
"Yaelah, Kurap. Sensi amat jadi orang. Dulu elu ngebet banget 'kan pengen lihat yang namanya Yudha. Ini orangnya, Ra. Enam tahun gue enggak lihat dia, ternyata makin cakep aja." Zahra berbicara setengah berbisik, tetapi mampu membuat Pandu merasa cemburu.
"Yudha."
__ADS_1
Yudha mengulurkan tangan sembari memperkenalkan diri. Rasya pun hendak menyambut, tetapi langsung ditahan oleh Pandu. Rasya menoleh ke arah Pandu yang saat ini sudah memasang raut wajah datar.
"Kamu bisa berkenalan tanpa berjabat tangan, bukan?" cibir Pandu. Rasya terkekeh dan langsung mencium pipi Pandu dengan mesra.
"Kamu cemburu?" Rasya menggoda, tetapi Pandu justru memalingkan wajah.
Zahra pun menyenggol pinggang Yudha supaya menarik tangannya kembali, dan memberi kode dengan kedipan mata. Yudha yang sangat paham pun melakukan apa yang Zahra perintahkan.
"Maaf, Tuan." Yudha menangkup tangan di depan dada.
"Kalau itu suaminya Rasya, Mas. Tuan Pandu Nugraha Andaksa."
Mendengar nama Pandu disebut, mata Yudha membelalak. Dia tidak menyangka kalau yang berdiri di depannya saat ini adalah Tuan Pandu.
"Tuan Pandu Nugraha Andaksa, apakah Anda pemilik ADS Grup?" tanya Yudha tidak percaya. Pandu tidak menjawab, hanya mengangguk sebagai jawaban. " Sungguh keberuntungan yang luar biasa, saya bisa bertemu Anda di sini."
Kening Pandu mengerut dalam melihat betapa antusiasnya Yudha saat bertemu dengannya karena Pandu tidak mengenal lelaki tersebut sama sekali. Melihat raut wajah Pandu yang penuh kebingungan, Yudha pun memperkenalkan diri sekaligus memberi tahu kalau dirinya sedang melamar pekerjaan di ADS Group di bagian marketing.
"Saya baru kemarin memasukkan berkas lamaran pekerjaan karena kebetulan saya baru seminggu di Indonesia."
"Kamu sudah seminggu di Indonesia, kenapa aku baru tahu, Mas?" tanya Zahra sedikit merengek.
"Aku mau buat kejutan untukmu, tapi Rosita demam dan mau tidak mau akhirnya gagal sudah semuanya. Padahal aku sudah bilang Bu Henny untuk jangan memberi tahu kamu," ungkap Yudha. Zahra yang mendengar itu, hanya mengerucutkan bibirnya dan itu terlihat sangat menggemaskan.
"Tunggu dulu, Mas. Kalau kamu melamar sebagai karyawan di ADS Group, itu artinya kamu tidak akan berangkat ke Korea lagi?" Wajah Zahra tampak berbinar bahagia. Yudha mengangguk diiringi senyum mengembang. Zahra pun bersorak kegirangan hingga tanpa sadar memeluk Yudha dengan erat.
Arga makin merasa kesal saat melihat pemandangan yang begitu membuat hatinya terasa bergejolak. Bahkan, dia tidak menyadari kalau tangannya sudah terkepal erat saat ini.
__ADS_1
"Tuan, seluruh karyawan yang mendaftarkan diri sebagai karyawan ADS Grup harus melewati seleksi dan interview. Tidak bisa sembarang orang masuk apalagi dengan jalur orang dalam." Ucapan Arga yang seperti sebuah sarkas tersebut mampu mengalihkan perhatian semua orang.