Gadis Somplak Milik Cassanova

Gadis Somplak Milik Cassanova
110 (The End)


__ADS_3

Perasaan Pandu campur aduk saat ini. Sepulang dari kantor tadi, Pandu tidak melihat keberadaan Rasya di rumahnya. Padahal setiap sudut rumah sudah dia telusuri. Bahkan, dia sudah mengecek CCTV. Terlihat Rasya pergi bersama dengan Lisa. Namun, saat Pandu menghubungi Lisa untuk bertanya soal Rasya, Pandu justru mendapati omelan Lisa yang sangat panjang.


Lisa bilang bahwa siang dia memang menjemput Rasya karena ingin menyiapkan makan malam bersama, tetapi Rasya sudah pulang pukul empat sore karena ingin menyambut kepulangan Pandu. Namun, Lisa berpura-pura terkejut saat Pandu mengatakan kalau Rasya belum sampai rumah.


"Pokoknya kalau kamu tidak datang bersama Rasya, mommy tidak akan izinin kamu masuk ke sini!"


Ucapan Lisa itu begitu terngiang-ngiang di kepala Pandu. Yang membuat Pandu marah adalah pengawal yang bertugas menjaga Rasya, semua berada di rumah karena Lisa melarang mereka untuk ikut. Pandu mendadak curiga, tetapi ucapan Lisa begitu meyakinkan kalau Rasya tidak bersamanya saat ini.


"Kita ke mana lagi, Tuan?" tanya Arga. Sudah lama mereka berkeliling, tetapi tidak ada tanda keberadaan Rasya, termasuk rumah kontrakan yang tampak begitu sepi.


"Aku tidak mau pulang sebelum istriku ketemu, Ga." Pandu berbicara lirih.


"Tapi, Tuan, ini sudah hampir tengah malam dan Anda belum beristirahat sama sekali." Arga mengingatkan.


"Ga, kamu pikir aku bisa duduk tenang sementara istriku tidak tahu berada di mana? Apa otakmu sudah tidak bisa bekerja dengan baik!" geram Pandu tanpa sadar.


Arga hanya menghela napas panjang karena dia sudah terbiasa menghadapi Pandu yang seperti itu. Tubuh Arga sebenarnya sudah sangat lelah, tetapi dia belum bisa beristirahat sebelum kejutan itu selesai. Arga melirik jam di tangan dan melihat sudah hampir pukul dua belas malam. Arga pun mulai melajukan mobilnya ke rumah Ferdinan.


"Ga, aku tidak boleh pulang kalau tidak bersama Rasya." Pandu tampak menyerah.


"Tuan, ini sudah hampir tengah malam dan kita belum menemukan Nona Rasya sama sekali. Kita bisa meminta bantuan pada Tuan Ferdinan. Mereka pasti masih menunggu," ucap Arga.


Pandu terdiam sesaat, tetapi kemudian hatinya mendadak menaruh curiga kepada orang tuanya. "Ga, kenapa aku curiga sama mommy dan daddy ya?"


"Curiga bagaimana, Tuan?"


"Kalau memang Rasya hilang, seharusnya mommy dan daddy khawatir dong. Tapi kenapa mereka santai saja. Bahkan tidak menghubungi lagi untuk menanyakan tentang Rasya." Pandu mengira-ngira. Akhirnya Pandu menyuruh Arga untuk menuju ke rumah utama.


***

__ADS_1


Setibanya di rumah utama, Pandu bergegas turun dari mobil. Pengawal yang berjaga di depan segera menghubungi Tuan Ferdinan dan mengatakan kalau Pandu sudah datang. Pandu pun masuk ke rumah yang kebetulan tidak dikunci.


"Selamat ulang tahun ... selamat ulang tahun ...."


Lagu ulang tahun menggema di ruang tamu utama saat Pandu baru saja membuka pintu. Pandu terdiam di ambang pintu untuk beberapa saat. Namun, sesaat kemudian, lelaki itu tersenyum lebar saat mendapat kejutan dari keluarganya. Bahkan, Pandu tidak menyangka kalau mertuanya juga berada di sana.


"Selamat ulang tahun, Mas." Rasya berkata lembut.


Pandu bergegas menarik tubuh Rasya dalam dekap eratnya untuk menghilangkan kekhawatiran yang baru dia rasakan. Ketakutan Pandu akan kepergian Rasya kini berganti dengan senyum mengembang karena ternyata, semua hanyalah bagian dari kejutan ulang tahun yang sudah dipersiapkan oleh keluarganya.


"Kamu membuatku takut." Pandu menciumi seluruh wajah Rasya. Bahkan, kue ulang tahun yang dipegang Rasya hampir saja terjatuh kalau tidak segera diambil oleh Lisa.


"Sudahlah, jangan pelukan lama-lama. Kasihan para jomblo jadi iri." Lisa mengingatkan, sedangkan para jomblowan dan jomblowati di sana hanya memalingkan wajah.


Mereka pun menyuruh Pandu untuk meniup lilin dan tak lupa membuat permohonan terlebih dahulu. Pandu memejamkan mata, berdoa apa pun keinginannya yang belum terpenuhi bisa lekas terpenuhi. Setelahnya, dia meniup lilin tersebut bersama dengan Rasya.


"Mas, aku cuma bisa ngasih hadiah kecil ini untukmu. Mungkin tidak ada harganya, tapi aku yakin hal itu sangat luar biasa untukmu." Rasya menyerahkan sebuah kotak berukuran sedang kepada Pandu yang langsung diterima oleh lelaki itu.


"Aku tidak butuh kado darimu. Kamu berada di sampingku saja itu sudah merupakan kado terindah." Pandu menarik tubuh Rasya supaya wanita itu duduk di pangkuannya. Pandu mencium pipi Rasya terlebih dahulu sebelum membuka kado dari istrinya.


"Aku malu, Mas." Rasya membenamkan wajahnya di dada bidang Pandu saat lelaki itu sedang membuka kotak tersebut.


Kening Pandu mengerut saat melihat sebuah kotak kecil di dalam dan sebuah kertas yang berisi tulisan tangan Rasya. Pandu pun mengangkat kertas tersebut dan membacanya.


Untukmu, Suamiku.


Hai, Om Panu Kesayangan. Selamat ulang tahun, selamat bertambah umur, selamat bertambah tua. Ciee yang udah tua, ciee..


Pokoknya seluruh doa dari istrimu yang cantik menggemaskan ini, adalah doa yang terbaik. Semoga apa yang kita semogakan lekas tercapai. Maaf ya, Mas. Aku enggak bisa ngasih kado apa pun untukmu.

__ADS_1


Mas, terima kasih karena pada akhirnya salah satu kecebongmu ada yang bertahan hidup di tempat yang sangat lembab. Bahkan, dia berhasil bertemu dengan sel telur milikku yang sudah lama berada dalam penantian. Kuharap ini akan menjadi kado terindah untukmu, di ulang tahunmu.


Salam sayang dan penuh cinta dari istrimu


Kalau enggak paham, buka kotak kecilnya


Pandu terkekeh membaca tulisan tangan istrinya. Lalu dia membuka kotak kecil dengan segera karena sudah merasa sangat penasaran. Tubuh Pandu menegang saat melihat sebuah alat testpack di kotak tersebut dengan dua garis merah yang terlihat jelas. Bahkan, ada kertas kecil dengan tulisan "Hay, Dad. I'm coming."


"Ka-kamu hamil?" tanya Pandu memastikan. Rasya mengangguk dengan cepat.


"Alhamdulillah." Pandu bangkit berdiri sembari membopong tubuh Rasya. Lalu berputar karena saking bahagianya. Rasya melingkarkan tangan di leher Pandu karena takut akan terjatuh.


"Pandu, ingat, istrimu sedang hamil." Lisa mengingatkan.


Pandu pun segera mendudukkan Rasya dan menghujami wajah wanita itu dengan banyak ciuman. Bahkan, kata terima kasih terus terucap dari bibir Pandu hingga membuat air mata Rasya tidak bisa lagi ditahan. Rasya tidak menyangka kalau Pandu akan sebahagia ini mengetahui kehamilannya. Seluruh keluarga yang berada di sana pun ikut terharu.


"Terima kasih, Sayang. Aku janji akan menjaga kalian dengan sangat baik." Pandu mencium perut Rasya sangat lama. Lalu dia beralih menciumi wajah Rasya lagi.


"Aku mencintaimu," kata Pandu.


"Aku juga mencintaimu, Mas." Rasya membalas sembari mengusap wajah Pandu.


Terakhir, Pandu mencium bibir Rasya sangat lembut tidak peduli pada sorakan mereka yang berada di sana. Sungguh, ini adalah kebahagiaan yang luar biasa.


Kisah Kurap Panu bahagia pada akhirnya, meski Pandu tidak tahu kalau kesabarannya akan diuji dengan ngidam istrinya.


Semoga ngidam elu enggak aneh-aneh, ya, Ra 😅😅


TAMAT.

__ADS_1


__ADS_2