
Tanpa terasa dua hari sudah mereka berada di Amerika. Rasya merasa begitu bahagia karena Pandu mengajaknya keliling tempat indah di sana. Yang belum pernah terpikirkan oleh Rasya sebelumnya adalah jangankan ke Amerika, ingin jalan-jalan ke Bali saja dia belum bisa merencanakan. Rasya bersyukur menjadi orang yang benar-benar beruntung.
"Mandilah, setelah ini akan ada kejutan untukmu." Pandu mengusap puncak kepala Rasya dengan penuh cinta.
"Kejutan apa?" tanya Rasya begitu menuntut.
"Namanya saja kejutan. Kalau aku bilang sekarang yang ada bukan lagi kejutan." Pandu tersenyum tipis. Bibir Rasya mengerucut sembari bangkit berdiri dan mengambil handuk. Pandu pun hendak mengekor di belakang, tetapi Rasya segera mencegahnya.
"Mau apa, Om?" tanya Rasya, tangannya berkacak pinggang menatap Pandu yang hanya cengengesan.
"Mandilah! Memang mau apa lagi? Kita mandi berdua." Pandu merangkul pundak Rasya dan mengajaknya masuk ke kamar mandi. Namun, Rasya menahan tubuhnya.
"Kalau mandi sama Om pasti lama. Aku mandi dulu aja." Rasya menolak karena dia tahu apa yang terjadi jika di kamar mandi berdua dengan suaminya.
"Tidak. Kali ini aku tidak akan macam-macam, aku hanya ingin mandi berdua saja." Pandu berbicara dengan sangat yakin. Rasya menunjukkan jari kelingkingnya tepat di depan wajah Pandu. "Buat apa?"
"Janji dulu, Om," sahut Rasya.
"Seperti anak kecil," cibir Pandu, tetapi lelaki itu tetap menautkan kelingkingnya.
Pengantin baru tersebut akhirnya masuk dan mandi bersama. Sesuai janji, kali ini Pandu hanya mandi dan tidak meminta bantuan Rasya lagi. Dalam hati Pandu merasa begitu kesal kenapa tamu bulanan Rasya belum juga pergi.
__ADS_1
***
Rasya sudah memakai gaun panjang, terlihat begitu cantik bahkan Pandu sampai terpesona dengan istrinya. Dia tidak menyangka kalau kecantikan istrinya akan terpancar saat berdandan feminim. Namun, berbeda dengan Rasya yang merasa tidak nyaman.
"Om, kenapa aku enggak pakai baju biasa aja, sih?" protes Rasya. Namun, Pandu justru menarik kedua sudut bibirnya.
"Kamu cantik kalau seperti ini. Kelihatan kalem," puji Pandu, diiringi sebuah kecupan di pipi istrinya.
"Aku emang kalem, Om." Rasya menimpalinya. Pandu segera menggandeng tangan Rasya dan mengajaknya pergi ke suatu tempat yang sudah dia siapkan sebelumnya.
"Kenapa mesti ditutup si, Om?" tanya Rasya heran. Pandangannya gelap, dan dia berjalan mengikut Pandu yang sedari tadi terus menggandeng.
"Kalau dibuka namanya bukan kejutan." Pandu menjawab santai.
"Surprise!"
"Om, aku sedang mimpi?" Rasya menepuk pipi karena tidak percaya.
Sebuah meja makan yang telah dihias dengan begitu cantik. Lilin di tengah meja juga bunga dan balon di sekitar makin menunjukkan kesan romantis. Apalagi sekarang mereka berada di atas ketinggian, yang membuat suasana makin terasa indah.
"Om, ini romantis banget." Rasya berjingkrak kegirangan. Bahkan tanpa sadar dia memeluk suaminya dengan sangat erat. "Makasih, Om."
__ADS_1
"Kamu suka?" tanya Pandu yang juga ikut merasa bahagia.
"Tentu saja. Aku sangat suka, Om."
Senyum Pandu makin melebar melihat rona kebahagiaan yang terlihat jelas dari raut wajah istrinya. Setelah puas saling berpelukan, Pandu menggandeng Rasya untuk duduk di sana.
"Selamat duduk, Tuan Putri," canda Pandu, sembari menarik keluar kursi untuk duduk istrinya.
"Terima kasih, Paduka Raja," balas Rasya, diiringi kekehan. Pandu mengusap puncak kepal Rasya terlebih dahulu sebelum akhirnya duduk tepat di depan istrinya tersebut.
"Aku masih belum percaya." Rasya mengedarkan seluruh pandangan melihat betapa romantisnya kejutan dari Pandu.
Rasya dan Pandu sama-sama terdiam saat melihat Arga yang berjalan mendekat bersama dengan seorang pelayan yang membawa troli makanan. Arga dan pelayan tersebut membungkuk hormat saat sudah berdiri di samping meja.
Pengantin baru tersebut hanya melihat pelayan yang sedang memindahkan satu-persatu makanan dari troli ke meja. Namun, tiba-tiba Rasya terkejut saat melihat mangkok terakhir yang diletakkan di depannya.
"Om, kenapa ini kaya seblak, sih?" Rasya mengamati, dan penglihatannya tidaklah salah. Mangkok tersebut berisi seblak kuah pedas yang begitu menggugah selera.
"Memang itu seblak. Untukmu." Pandu menjawab tenang, tetapi bibirnya tersenyum melihat wajah Rasya yang begitu semringah.
"Kata Om Panu, di sini tidak ada seblak," ujar Rasya heran.
__ADS_1
"Nona, demi membuktikan betapa besar cinta Tuan Pandu untuk Anda, Tuan Pandu sengaja mendatangkan langsung penjual seblak dari Indonesia. Khusus untuk Anda."
"Apa!" Lengkingan suara Rasya berhasil mengejutkan mereka semua.