
Arga merasa heran saat masuk ruangan dan di sana auranya terasa berbeda. Pandu duduk di kursi kebesarannya, sedangkan Rasya duduk bersilah di sofa dengan tangan sibuk bermain ponsel. Yang membuat Arga makin heran adalah sikap Rasya yang lebih banyak diam padahal biasanya mulut gadis itu tidak berhenti bicara.
"Ga, nanti sore kita pulang ke rumah utama." Suara Pandu memecah keheningan di ruangan itu.
"Tumben sekali, Tuan?" Arga mengerutkan keningnya.
"Mommy yang minta aku pulang. Aku harus bertemu bocah tengil itu." Pandu menjawab malas, ekor matanya melirik Rasya yang masih saja diam.
"Baiklah, Tuan. Apa Nona Rasya ikut?" tanya Arga hati-hati.
"Aku enggak mau ikut. Mau pulang ke rumah kontrakan aja," sela Rasya tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.
"Sayangnya kamu harus ikut karena ini perintah mommy." Nada suara Pandu terdengar tegas.
"Om, aku juga kangen sama temen-temen. Besok aja aku ke sana sepulang kerja." Rasya masih berusaha menawar, tetapi perintah Pandu tidak bisa diganggu gugat. Dengan terpaksa Rasya hanya mengiyakan.
__ADS_1
"Om!" panggil Rasya mengejutkan Pandu yang baru saja fokus pada layar komputer. Pandu tidak menjawab, hanya menoleh ke arah gadis yang saat ini terlihat begitu ragu-ragu. "Aku pengen nginep di kontrakan semalam aja, boleh ya?"
"Tidak!"
"Om, aku mohon." Rasya masih terus merengek manja.
"Sekali aku bilang tidak! Maka tidak!" ucap Pandu penuh ketegasan.
"Kalau begitu ceraikan aku."
Brak!
"Jangan pernah mengatakan perceraian karena aku tidak akan pernah mengabulkannya!" hardik Pandu, tetapi Rasya justru mengembuskan napas kasar.
"Om ...."
__ADS_1
"Diamlah! Sekali lagi kamu bilang seperti itu maka aku akan membawa Parjan ke sini dan menjadi sopir pribadimu!" ancam Pandu. Rasya justru tergelak saat mendengarnya. Pandu dan Arga menatap heran ke arah Rasya yang seperti orang 'gila'.
"Kamu yakin dengan ancamanmu, Om? Lihat aku sama Mas Gatra aja udah marah gitu apalagi kalau si pantat wajah ibu jadi sopir pribadi aku? Yang pernah ngatain kamu pria jelek, yang ada kamu bakalan menua sebelum waktunya karena kebanyakan ngomel," ledek Rasya. Gigi Pandu bergemerutuk saking kesalnya, tetapi dia berusaha keras untuk menahan agar tidak meluap. Pandu tidak mau lepas kontrol seperti tadi pagi.
Ponsel Rasya tiba-tiba berdering, dengan cepat dia mengangkat panggilan itu saat melihat nama sahabatnya tertera di layar. Baru saja panggilan terhubung, tetapi suara tangisan Zety sudah memekik telinga membuat Rasya makin khawatir.
"Ra, gue tabrakan. Elu bisa dateng ke sini sekarang?"
Rasya hanya mengiyakan lalu mematikan panggilan itu secara sepihak. Setelahnya, dia bangkit berdiri dan berpamitan kepada Pandu. Awalnya Pandu hendak mengantar, tetapi sepuluh menit lagi ada rapat penting dan tidak bisa diwakilkan. Dengan berat hati Pandu membiarkan salah seorang karyawan yang terpercaya untuk mengantar Rasya sampai ke tempat Zety.
Selama dalam perjalanan, Rasya begitu cemas memikirkan keadaan sahabatnya. Begitu mobil berhenti di tempat kejadian, Rasya segera mencari sahabatnya, tetapi dia terdiam saat melihat Zety sedang duduk berdua dengan Zahra. Tidak ada bekas kecelakaan atau apa pun itu. Yang ada dua gadis itu sedang duduk berbincang dan sesekali tergelak keras.
Rasya berkacak pinggang, dan wajahnya penuh amarah karena merasa sudah dibohongi oleh kedua sahabatnya itu. Padahal dia sudah kalang kabut dan khawatir pada kondisi Zety.
"Haha hihi haha hihi." Suara cempreng Rasya yang keras berhasil menghentikan keseruan mereka berdua. "Katanya kecelakaan, tapi malah cekikikan di sini. Kalian enggak tahu kalau gue udah kalang kabut ke sini saking cemasnya sama si Suketi?"
__ADS_1
"Ini ada apa?"
Rasya terdiam saat mendengar suara yang tidak asing baginya, dan ketika dia berbalik, tubuh Rasya menegang saat melihat lelaki tidak asing yang saat ini berdiri di depannya.