
"Kak! Aku mau bicara!"
Pandu menghentikan langkahnya saat mendengar suara Gilang yang memanggil. Dia berbalik dan menatap Gilang yang baru saja berhenti beberapa langkah di depan. Tatapan Gilang ke arah Pandu begitu susah dijelaskan. Namun, Pandu dengan santai membalas tatapan sang adik.
"Ada apa?" tanya Pandu tanpa sedikit pun menunjukkan ketakutan.
"Kakak sudah mencintai Rasya?" Gilang bertanya balik.
"Bukan urusanmu!" ketus Gilang.
"Lalu? Urusan siapa? Semua yang sudah menjadi anggota keluarga Andaksa maka segala urusannya menjadi urusan bersama!" Gilang berkata tak kalah tegas. Sudut bibir Pandu tertarik sebelah, menunjukkan senyum miring.
"Tidak semua. Lebih baik kamu urusi saja urusanmu sendiri!" ucap Pandu.
Gilang berjalan mendekati sang kakak dan berhenti tepat di sampingnya. "Jangan terlalu lama membuat keputusan karena banyak lelaki yang bersedia menjadi pendamping hidup Rasya. Saingan Kakak banyak!"
Gilang berjalan santai meninggalkan Pandu begitu saja. Dia tidak peduli meski Pandu mulai terbakar emosi. Tangan Pandu terkepal erat dengan rahang yang tampak mengetat. Dalam hati kecil Pandu ada sebuah kekhawatiran jika yang diucapkan Gilang ada benarnya. Dia takut akan ada lelaki lain yang mampu merebut hati Rasya.
"Aku tidak akan membiarkan siapa pun merebut ataupun memiliki Rasya dariku!" gumam Pandu sebelum akhirnya dia kembali ke ruangan Rasya untuk menjemput gadis itu. Dia akan mengantar Rasya ke kampung, sesuai keinginannya.
__ADS_1
***
Mobil yang dikendarai Pandu baru saja sampai di pelataran rumah milik Paijo. Penghuni rumah yang saat itu sedang duduk santai di ruang dalam pun, bergegas keluar untuk melihat siapa yang datang. Marlina tersenyum lebar saat melihat kedatangan Rasya dan juga Pandu. Paijo memeluk putrinya dengan sangat erat untuk melepaskan segala kerinduan untuk anak bungsunya itu.
"Bapak kangen banget sama anak perawan bapak yang udah enggak perawan." Paijo berseloroh, Rasya dengan gemas memukul dada sang ayah. Paijo merintih sesaat sebelum akhirnya tergelak keras. Rasya pun melerai pelukan itu dan beralih memeluk Marlina yang sedari terus tersenyum.
"Kukum kangen, Bu." Rasya merengek manja. Tanpa sadar, Pandu dan Arga tersenyum melihat betapa hangatnya keluarga itu.
"Mari silakan masuk dulu." Paijo mempersilakan. Mereka semua pun masuk dan duduk di sofa ruang tamu. Rasya berpamitan ke dalam karena akan membuatkan minum untuk mereka.
"Bagaimana hubungan kamu dengan putri saya, Nak?" tanya Paijo saat bayangan Rasya tidak lagi terlihat. Sebagai seorang ayah, apalagi sejak kecil Rasya sangat dekat dengannya maka Paijo bisa melihat kalau Rasya sedang tidak baik-baik saja meski hanya melihat dari sorot mata gadis itu.
"Pak ...." Pandu terdiam. Bingung harus bagaimana cara menjelaskan semuanya. Bibir Paijo tersenyum tipis saat melihat gurat keraguan tampak terlihat jelas dari wajah anak menantunya.
"Pak, saya dan Rasya hanya sedang butuh waktu untuk sendiri dan meyakinkan perasaan ini, tapi bapak harus percaya kalau saya sudah mulai mencintai Rasya. Bahkan saya sudah mempersiapkan pesta pernikahan minggu depan. Tapi Rasya meminta waktu satu bulan untuk saling menenangkan diri."
Pandu akhirnya mengatakan semuanya. Dia tidak mau ada kesalahpahaman di antara mereka. Ekor mata Pandu sesekali melirik ke pintu dalam takut Rasya datang dan mendengar semuanya.
"Kalau begitu biarkan saja dulu. Bapak yakin dia tidak akan tahan lama-lama," kata Paijo. Pandu hanya menanggapi lewat anggukan karena dia melihat Rasya yang sedang berjalan keluar dengan membawa nampan di tangan, sedangkan Marlina membawa camilan di belakangnya.
__ADS_1
Mereka semua pun mengobrol bersama, dan saat malam hampir larut, Pandu dan Arga berpamitan kembali ke kota karena besok mereka harus rapat pagi hari dan tidak bisa diwakilkan. Padahal Rasya sudah menyuruh mereka untuk menginap semalam, tetapi Pandu tahu itu hanyalah basa-basi dari istrinya di depan kedua orang tuanya.
"Om, hati-hati di jalan." Rasya menarik tangan Pandu lalu mencium punggung tangan lelaki itu. Namun, beberapa detik kemudian dia terkejut saat Pandu menarik tubuhnya masuk dalam dekap erat lelaki itu.
Tangan Pandu mengusap rambut belakang Rasya dengan lembut. Bahkan Rasya bisa merasakan sebuah kecupan mendarat di puncak kepalanya.
"Jaga dirimu baik-baik." Pandu berkata lirih, tetapi mampu membuat hati Rasya tidak karuan rasanya.
Kuatkan hatiku jangan sampai luluh hanya karena ini.
•••
Thor, kenapa nanggung mulu kalau update?
mohon maaf sedang slow update karena dunia nyata sedang sibuk-sibuknya. Nanti kalau sudah agak selow Othor crazy up lagi ya
terima kasih atas kesetiaan dan dukungan kalian untuk Kurap dan Panu
love you gaess
__ADS_1
selamat pagi dan selamat beraktivitas
kalau sempet ada bab selanjutnya kalau tidak crazy up mulai besok 😁