Gadis Somplak Milik Cassanova

Gadis Somplak Milik Cassanova
47


__ADS_3

Suasana terasa menegang. Rasya hanya diam membiarkan tangan Gilang masih menahannya. Tidak peduli pada tatapan Pandu yang makin terlihat menajam.


"Bocah tengil! Lepaskan kakak iparmu!" bentak Pandu tidak sabar lagi.


"Kalau aku melepaskan tanganku, dan kakak ipar akan jatuh, Kakak yakin?" Gilang tersenyum meledek kepada Pandu.


Tanpa berbicara, Pandu segera menarik tubuh Rasya supaya berdiri di sampingnya dan merangkul pundak Rasya dengan erat. Tidak membiarkan lagi gadis itu untuk kabur.


"Kak, katakan kalau Kakak sudah jatuh cinta dengan kakak ipar, atau hati Kakak masih milik Kak Amira sepenuhnya?" Gilang makin tersenyum sinis. Tidak peduli pada kemarahan Pandu yang hendak meluap ataupun Rasya yang sudah menunduk.


"Kak, seharusnya Kakak sadar kalau wanita ini adalah istri Kakak. Jadi, perlakukan dia sebagaimana seorang suami memperlakukan istrinya!" seru Gilang. Menunjuk Rasya yang tidak berani mendongak sama sekali. Ketiga sahabat Rasya dan Gilang terkejut mendengar fakta yang baru saja terkuak.


"Pergilah kamu bocah tengil! Jangan mencampuri urusanku!" usir Pandu membentak.


"Aku akan mengawasimu, Kak. Kalau sampai kamu menyakiti kakak ipar maka aku tidak akan segan-segan membawanya pergi jauh darimu!" ancam Gilang.


"Memangnya kamu berani?" tanya Pandu meledek.


"Untuk apa aku takut?" Gilang justru tersenyum meremehkan. Pandu pun makin merasa geram, dan berjalan maju hendak memukul adiknya. Bukannya menjauh, Gilang justru bersiap melawan kakaknya sendiri. Arga yang melihat itu pun tanpa menunggu lama langsung menghubungi Ferdinan.


"Berani kamu membawa kakak iparmu pergi, aku tidak akan pernah mengampunimu!" bentak Pandu. Dia berjalan maju mendekati Gilang.


"Tapi sayangnya aku tidak pernah takut padamu, Kak! Jadilah orang yang peka! Jangan menjadi seorang bajingan!"


Bug!

__ADS_1


Sebuah pukulan dari tangan Pandu mendarat bebas, tetapi bukan di wajah Gilang melainkan tepat mengenai wajah Rasya yang entah sejak kapan sudah berdiri di antara mereka. Rasya menduduk, merasakan sakit di hidung yang menjalar sampai membuat kepalanya berdenyut sakit. Mereka terkejut, dengan segera Pandu mengangkat wajah Rasya dan melihat darah segar keluar dari hidung gadis itu.


"Kenapa kamu sangat bodoh!" Pandu kelimpungan sampai membentak Rasya dengan sangat kerasnya.


"Aku emang bodoh dari dulu, Om." Rasya menjawab santai sembari mengusap darah segar yang masih mengalir.


"Kita ke rumah sakit." Pandu menarik lengan Rasya, tetapi gadis itu dengan cepat menepisnya.


"Untuk apa, Om? Aku tidak sekarat!" tolak Rasya, "aku mau pulang."


"Kita harus mengobati lukamu!" pekik Pandu, suaranya menggelagar di sana.


"Om, ini tidak sakit. Masih ada luka lain yang lebih sakit. Aku baik-baik saja." Rasya tersenyum getir. Namun, mampu membuat darah tubuh Pandu berdesir hebat bahkan hatinya terasa berdenyut sakit. Pandu menarik tubuh Rasya masuk dalam dekapannya.


Pandu terdiam bahkan pelukannya perlahan melonggar. Hatinya bergolak hebat sekarang, antara amarah, sedih, terluka seolah bercampur menjadi satu. Dengan sedikit kasar, Pandu justru melerai pelukan itu.


"Bukankah sudah kubilang jangan pernah mengatakan itu! Aku tidak akan mence ...." Pandu terdiam saat melihat Rasya yang justru bersimpuh di depannya. Semua pun terkejut termasuk Ferdinan dan Lisa yang baru saja sampai di sana.


"Om, sepertinya sudah cukup waktu kita untuk saling mengenal. Kita adalah dua orang yang tidak akan mungkin bersatu. Aku mohon, katakan talak, Om. Setelah itu kita hanyalah dua orang yang pernah saling mengenal." Rasya menangkup kedua tangan di depan dada.


"Sampai mati pun aku tidak akan pernah mengatakan kata itu padamu!" Pandu berkata tegas.


"Ra! Bukankah aku sudah mengatakan kalau kamu harus belajar mencintai Kak Pandu, dan buat dia jatuh cinta padamu atau kamu ...."


"Dan aku lebih memilih untuk pergi dari kehidupan kalian." Rasya menyela ucapan Gilang begitu saja. "Maafkan aku sudah menyerah bahkan sebelum mencoba. Aku hanya berusaha sayang pada hatiku sendiri. Aku tidak ingin memiliki orang hanya raganya saja, tapi hatinya bukan untukku." Rasya menyeka air mata yang mengalir deras, tanpa peduli pada darah segar yang masih menetes perlahan dari hidungnya.

__ADS_1


Pandu berjongkok, menyejajarkan posisinya dengan Rasya. Dia mengangkat dagu Rasya untuk melihat wajah gadis itu yang sudah dipenuhi jejak air mata. Hati Pandu merasa sakit, seperti terhantam batu besar saat melihat sorot mata Rasya yang tampak begitu sendu.


"Aku akan belajar mencintaimu." Pandu berkata lirih.


"Om, izinkan aku pergi. Kita butuh waktu sendiri terlebih dahulu. Yakinkan hatimu. Kalau Om belum bisa mencintaimu, jangan pernah temui aku," balas Rasya. Suaranya terdengar penuh luka.


"Aku sudah menyiapkan kejutan untuk ... Ra! Rasya!" Pandu menepuk pipi Rasya yang tiba-tiba tidak sadarkan diri. Raut kekhawatiran terlihat jelas memenuhi wajah-wajah orang yang berada di sana. Pandu segera mengangkat tubuh Rasya dan membawanya masuk ke mobil. Bahkan bentakan demi bentakan dia layangkan kepada Arga yang sedang fokus pada setir kemudi.


•••


obat kangen dari Othor buat kalian.


maafkan ya Othor udah khilaf banget ini jadi up tiga bab sekaligus 🙈


Rasya seriusan dikit ya, takut bosen bercanda Mulu.


jangan lupa dukungan kalian selalu Othor tunggu ya guys,


selamat pagi dan selamat beraktivitas.


buat yang mau follow akun Othor bisa banget kok


FB : Rita Anggraeni (Tatha)


IG : @tathabeo

__ADS_1


__ADS_2