
Rasya duduk di teras rumah dengan secangkir teh panas menemani. Sejak kepulangan Pandu ke kota tiga hari lalu, Rasya seolah bukan menjadi dirinya sendiri. Dia lebih banyak diam dan susah untuk bercanda seperti biasa.
"Kalau kamu sudah cinta, jangan gedein gengsi." Rasya terkejut saat mendengar suara Agus dari ambang pintu. Melihat sang kakak yang tersenyum meledek padanya, Rasya hanya mendengkus kasar.
"Mas lihat kalian berdua itu sudah saling mencintai, tapi sama-sama gengsi," tebak Agus. Dia duduk di samping Rasya dan meminum teh milik adiknya.
"Mas Agus! Jangan rusuh, sih, kalau mau minum teh, bikin sendiri!" protes Rasya. Namun, Agus justru terkekeh melihat kekesalan adiknya.
"Lagian kamu aneh, Kum. Si Pandu mau nikahin kamu kok kamu malah minta nikah siri. Apa enaknya nikah siri, yang ada kasihan anakmu, tuh. Enggak bisa dapat akte, bisa ditinggal pergi kapan aja." Agus menakuti, tetapi Rasya justru melirik kakaknya dengan wajah malas.
"Pikiran Mas Agus udah jauh, jelek pula kaya orangnya." Rasya berbicara asal. Gadis itu mengusap kepala yang ditonyor oleh sang kakak. "Kata Bapak enggak boleh nonyorin kepala. Entar gobl*k loh, Mas."
"Enggak usah ditonyor juga kamu emang udah g*blok, Kum," hina Agus, tetapi Rasya justru tergelak.
"Aku bilangin bapak kalau Mas Agus ngatain gobl*k." Rasya menunjuk wajah Agus. Namun, gadis itu kembali merintih saat Agus beralih menyentil keningnya.
"Baapakkk ... Mas Agus bilang minta kawin sama Jule ...." Rasya berusaha menyingkirkan tangan Agus yang saat ini sedang membekap mulutnya.
"Kamu jangan jadi mulut ember! Daripada nikah sama Juleha mending nikah sama Ajeng ... ah sakit!" Agus mengibaskan tangan yang terasa sakit karena Rasya menggigitnya hingga meninggalkan bekas gigi.
"Kamu kanibal, Kum!" ucap Agus kesal.
"Daripada Mas Agus kanibo!" balas Rasya tak kalah ketus. Namun, sesaat kemudian mereka tergelak keras bersama hingga suaranya begitu menggelegar.
"Permisi."
Tawa Agus dan Rasya terhenti saat melihat seorang gadis cantik berdiri di halaman rumah dengan bibir tersenyum lebar. Mata Rasya membola sempurna saat menyadari siapa gadis itu.
"Nona Gea." Rasya bangkit berdiri diikuti Agus. Tubuh Rasya sedikit membungkuk hormat.
__ADS_1
"Ternyata aku tidak salah rumah." Gea berkata lembut. Kening Rasya mengerut dalam.
"Siapa, Kum?" tanya Agus setengah berbisik.
"Ada tamu kenapa kalian tidak suruh masuk?" Suara Paijo dari ambang pintu berhasil mengalihkan perhatian mereka.
"Nona Gea silakan masuk." Rasya dan lainnya pun masuk ke rumah diikuti Gea di belakang. Mereka duduk di ruang tamu, sedangkan Marlina yang berada di dalam rumah dengan sigap membuatkan minum.
"Nona Gea dari mana tahu rumah saya?" tanya Rasya heran.
"Aku tadi nanya sama orang. Semuanya aku minta maaf karena kedatanganku ke sini ingin berbicara empat mata dengan Rasya." Gea tidak ingin berbasa-basi karena dia akan langsung pulang setelah ini.
Rasya begitu gugup, dalam hati bertanya-tanya hal apa yang akan dibicarakan Gea menilik dari betapa seriusnya raut wajah Gea. Keluarga Rasya hanya menatap penuh tanya ke arah Rasya yang juga tidak tahu apa-apa.
"Mari ke kamar saya, Nona." Rasya bangkit berdiri dan mengajak Gea untuk masuk ke kamar, setidaknya di sana tempat paling aman.
Begitu masuk ke kamar, pandangan Gea mengedar ke seluruh penjuru ruangan. Rasya yang melihat itu hanya bisa menunduk dalam.
"Cukup rapi walau sempit." Gea bicara blak-blakan. Rasya hanya menunjukkan senyum paksa.
"Ra, bolehkah aku tahu hubungan kamu dengan Kak Pandu?" tanya Gea menuntut jawaban. Rasya terlihat bingung harus menjawab yang bagaimana. "Katakan saja sejujurnya. Aku ini adiknya Kak Amira, dan Kak Amira adalah ...."
"Saya sudah tahu, Nona," sela Rasya. Bola mata Gea terlihat membola sempurna.
"Ka-kamu sudah tahu?" tanya Gea tergagap. Masih belum sepenuhnya percaya. Rasya tidak menjawab, hanya mengangguk lemah diiringi senyum manis.
"Sudah, Nona. Mom ... maksud saya Nyonya Lisa yang memberi tahu." Rasya kembali menunduk, takut Gea akan curiga padanya.
"Kamu tahu kalau Kak Amira adalah kekasih Kak Pandu?" tanya Gea lagi. Dia tidak sadar kalau pertanyaannya bisa saja menyakiti hati Rasya.
__ADS_1
"Sudah, Nona."
Gea mendudukkan tubuhnya di atas kasur kapuk milik Rasya. Embusan napas kasar terdengar dari mulut gadis itu. Sementara Rasya masih berdiri di tempatnya. Menunggu Gea kembali membuka suara.
"Kamu tahu, Kak Pandu dan Kak Amira adalah pasangan kekasih yang sangat romantis dan saling mencintai. Bahkan Kak Pandu sangat menjaga Kak Amira tanpa mengizinkan dia lecet sedikit pun." Suara Gea terdengar begitu berat. Rasya meremas ujung baju yang dikenakannya saat merasakan sebuah perasaan nyeri mengalir seiring aliran darahnya. Rasya tidak berani mengucapkan sepatah kata pun.
"Kak Pandu memperlakukan Kak Amira seperti seorang ratu. Apa pun yang diinginkan Kak Amira pasti akan dipenuhi. Apa pun itu. Meski Kak Pandu harus bersusah payah mencarinya. Meski harus ke ujung dunia untuk mendapatkannya." Gea terdiam sesaat untuk menghirup napas dalam. Ekor matanya melirik Rasya yang mulai terlihat sendu.
"Kak Amira juga sangat menjaga kehormatannya untuk Kak Pandu. Dia hanya ingin menyerahkan kehormatannya untuk Kak Pandu saja di saat mereka sudah menjadi suami istri kelak." Gea menarik sebelah bibirnya, tersenyum tipis.
"Nona ... maafkan saya yang sudah tidak sadar diri." Rasya makin menunduk dalam.
"Kenapa kamu minta maaf? Apa kamu punya salah?" tanya Gea curiga.
Rasya terdiam sesaat, lalu dia menghela napas dalam-dalam. Bagaimanapun keadaannya, dia harus berkata jujur kepada wanita itu.
"Nona, sebenarnya saya sudah menikah dengan Om ... maaf maksud saya Tuan Pandu." Rasya menutup mulutnya karena merasa telah keceplosan.
"Apa? Kamu sudah menikah dengan Kak Pandu?" seru Gea tidak percaya. Rasya mengangguk lemah sebagai jawaban. "Bagaimana bisa?" Gea masih belum percaya.
"Nona, maaf saya sedikit lancang. Saya pernah melihat Tuan Pandu sedang bermain genjotan dan tanpa sengaja saya memergoki."
"Lalu?" tanya Gea tak sabar.
"Tuan Pandu menghukum saya untuk menjadi pembantu di rumahnya, tapi karena kesalahpahaman dengan orang tua saya, akhirnya kita menikah," imbuh Rasya tanpa berani menatap Gea sama sekali.
"Apa waktu pernikahanmu Om Ferdian dan Tante Lisa datang?" tanya Gea penuh selidik. Rasya mengangguk lemah.
"Iya, mereka datang. Tapi Anda tenang saja, Nona, karena pernikahan saya dan Om Pandu belum sah di mata negara," ucap Rasya lirih. Gea mengerutkan kening dalam dengan tatapan yang sama sekali tidak lepas dari Rasya.
__ADS_1
"Saya dan Tuan Pandu hanya menikah secara agama karena itu memang keinginan saya. Setelah ini saya akan meminta Tuan Pandu untuk menceraikan saya." Sembari berkata seperti itu, Rasya makin kuat meremas bajunya. Hatinya merasa berdenyut sakit bahkan air mata seolah memaksa untuk turun.