Gadis Somplak Milik Cassanova

Gadis Somplak Milik Cassanova
40


__ADS_3

"Di mana kalian kenal?" tanya Pandu penuh selidik.


"Kenal sama siapa Om? Dia?" Rasya menunjuk Gilang yang saat ini sedang tersenyum miring.


"Memangnya siapa lagi?" Suara Pandu terdengar ketus.


"Astaga, jangan galak-galak, sih, Om." Rasya mengembuskan napas kasar.


"Kak, aku enggak nyangka kalau seleramu ternyata bocah ingusan," ledek Gilang. Rasya melotot ke arah Gilang.


"Aku ini gadis dewasa bukan bocah ingusan! Kamu itu yang ingusan!" Rasya menimpali, tetapi Gilang justru semakin meledek.


"Kupikir kakak iparku itu gadis yang tinggi, body aduhay, seksi, dan ... itulah. Enggak tahunya ternyata bocah lempeng kaya batu alam."


"Jaga bicaramu, Lang!" bentak Pandu. Tangannya terkepal erat karena tidak terima dengan ucapan Gilang barusan. Namun, Gilang justru terkekeh.


"Kak, kukira kamu akan mendapat pengganti Kak Amira dengan gadis yang hampir sama dengan dia, tapi ternyata ... dia tidak lebih baik dari Gea!"


"Gilang Harish Andaksa!" teriak Ferdinan membuat suasana di sana seketika senyap. Namun, rahang Pandu terlihat mengeras karena emosi yang perlahan naik ke ubun-ubun. Lisa yang melihat kemarahan suaminya hanya bisa mengusap punggung Ferdinan untuk menenangkan.


"Jangan kamu bahas wanita itu lagi! Amira sudah bahagia di surga, dan jangan sekalipun kamu menyebut nama adiknya!"

__ADS_1


"Kenapa, Pa?" tanya Gilang santai.


"Bukankah kamu tahu ...."


"Tuan, Nyonya, saya minta maaf, saya harus pergi karena ada urusan mendadak." Mereka terkejut melihat Rasya yang bangkit berdiri dan hendak pergi dari sana.


"Kamu mau ke mana!" tanya Pandu setengah membentak. Dia ikut bangkit dan melangkah mendekati Rasya.


"Aku baru inget kalau Suketi butuh bantuan, Om. Nanti kalau udah selesai aku ke sini lagi." Rasya berusaha menahan emosi yang begitu menyesakkan dada. Rasya menangkup tangan di depan dada lalu bergegas pergi tanpa peduli pada teriakan Pandu yang terus saja memanggil namanya.


"Kalau sampai Rasya benar-benar pergi, aku tidak akan segan-segan menghabisimu!" murka Pandu, menunjuk wajah Gilang yang tetap bersikap tenang.


"Mom, aku hanya ingin lihat seberapa cinta Kak Pandu kepada istrinya." Gilang menjawab tenang.


"Tapi kamu sudah keterlaluan! Kamu sudah menyakiti hati Rasya!" omel Ferdinan. Dia memijit pelipis untuk mengurangi rasa pusing. Menghadapi putra bungsunya memang butuh kesabaran ekstra. Karena selain bermulut pedas, Gilang juga suka mencari masalah dengan orang lain terutama Pandu. Itulah kenapa Pandu selalu memanggil adiknya dengan sebutan bocah tengil.


"Daddy dan mommy tenang saja. Aku akan menjelaskan semuanya pada kakak ipar nanti. Sekarang biarkan saja dulu Kak Pandu kalang kabut menghadapi kemarahan istrinya." Gilang menggigit bibir untuk menahan tawa.


"Astaga, Gilang ... Gilang ...."


***

__ADS_1


Rasya yang hampir sampai gerbang langsung menghentikan langkahnya saat merasakan sebuah tangan kekar menariknya masuk ke sebuah pelukan hangat. Sebuah pelukan yang terasa begitu nyaman.


"Maafkan aku." Rasya terdiam mendengar suara Pandu yang begitu lirih bahkan nyaris tidak terdengar.


"Kenapa Om minta maaf?" tanya Rasya seolah tidak ada apa-apa.


"Soal ucapan Gilang tadi," balas Pandu tanpa melonggarkan pelukannya.


"Aku baik-baik saja, Om. Aku malah seneng karena akhirnya tahu kalau Nona Gea adalah adik pacar Om Panu dulu." Rasya tampak terlihat tenang, tetapi Pandu yakin kalau istrinya hanya berpura-pura terlihat baik-baik saja.


"Om," panggil Rasya setelah cukup lama mereka hanya saling diam. Pandu tidak menjawab, hanya berdeham sebagai respon. "Makasih udah mulai bucin sama aku." Rasya terkekeh.


"Jangan terlalu percaya diri!" cibir Pandu belum sadar akan pelukannya yang belum terlepas.


"Yaelah, aku bukannya terlalu percaya diri Om, tapi pelukan Om Panu anget banget," seloroh Rasya. Pandu dengan segera melepaskan pelukannya dan memalingkan wajah supaya Rasya tidak melihat kegugupannya.


"Om! Jangan kangen aku kalau kita jauh ya." Rasya menaik-turunkan alisnya menggoda Pandu yang sedang mendengkus kasar.


"Tidak akan!" elak Pandu.


"Baiklah. Kalau suatu saat kita jauh dan Om kangen sama aku maka sama aja Om seorang pria lembek." Rasya menutupi gelakan tawanya. Pandu menatap Rasya penuh arti. Entah mengapa, dia merasakan sesuatu yang lain saat melihat sorot mata Rasya. Hati Pandu mendadak gelisah, padahal gadis di depannya masih saja tergelak.

__ADS_1


__ADS_2