
Setelah dua Minggu berada di Amerika, kini Pandu, Arga, Rasya, dan ketiga sahabatnya kembali pulang ke Indonesia. Tidak ada yang lebih menghebohkan selain mulut para cewek yang begitu menganggu pendengaran.
"Kamu yakin sudah puas di Amerika?" tanya Pandu. Tangannya dengan Rasya saling menggenggam erat.
"Sudah. Aku kangen sekali dengan tanah air, terutama bapak, ibu, sama Mas Agus." Rasya menatap ke luar jendela. Rasanya dia masih belum percaya dengan semua ini. Seperti mimpi untuknya.
Mata Rasya terpejam, menikmati perjalanan udara yang baru dua kali ini dia rasakan. Pandu pun menyenderkan kepala Rasya di bahunya. Lalu membenamkan ciuman di puncak kepala istrinya. Rasya makin tertidur lelap karena sikap Pandu tersebut membuatnya nyaman.
Berbeda cerita dengan Arga yang kini duduk di samping Zahra, sedangkan Zety duduk bersama Margaretha. Zahra sudah sangat mengantuk, tetapi dia terlalu canggung dengan Arga yang tampak begitu santai. Berkali-kali dia menguap, hingga membuat Arga sesekali meliriknya.
"Tidurlah kalau mengantuk. Masih ada sekitar lima jam untuk sampai di Indonesia." Arga berbicara tanpa menatap Zahra.
"Saya tidak mengantuk, Tuan." Lain di mulut lain pula di sikap. Nyatanya, Zahra kembali menguap bahkan mata kedua gadis itu mulai terpejam.
Arga menggeleng, membiarkan Zahra yang mulai terlelap. Merasa tidak tega, Arga pun melakukan apa yang Pandu lakukan. Menyandarkan kepala Zahra di bahunya. Gadis itu sama sekali tidak terusik. Perlahan Arga pun mulai mengantuk dan ikut terlelap. Namun, tanpa sadar dia menggenggam tangan Zahra dengan erat.
Zety dan Margaretha yang melihat pemandangan itu, merasa begitu iri. Dua pasangan yang begitu cocok.
"Suk, kapan kita dapat laki tajir seperti mereka. Lihat aja, tuh! Si Zahra sama Tuan Arga sepertinya mulai ada tanda-tanda." Margaretha menyenggol lengan Zety dengan perlahan.
"Tanda-tanda apaan? Tanda hamil?" celetuk Zety asal. Sesaat kemudian dia mengaduh saat Margaretha mendaratkan tangan di kepala. "Sakit, Mar!" Zety mencebikkan bibir, tetapi Margaretha justru terkekeh.
__ADS_1
"Kayaknya kita mesti ke dukun deh," ucap Margaretha.
"Dukun apa?" tanya Zety, masih tidak paham.
"Dukun beranak!" Margaretha menjawab ketus. Namun, dia terkejut saat mendengar pekikan suara Zety yang begitu memekakkan telinga. Bahkan, hingga membuat Zahra dan Rasya terbangun.
"Kamu kenapa, Suk?" tanya Rasya khawatir. Dia takut sahabatnya itu merasa mual dan hendak muntah.
"Gue diajak Markonah ke dukun beranak." Zety menjawab polos. Rasya dan Zahra melongo saat mendengarnya.
"Mau apa kalian ke dukun beranak?" tanya Zahra.
"Mau beli cilok." Margaretha menjawab malas.
Pandu mencubit pipi Rasya dengan gemas saat melihat bibir istrinya yang mengerucut. "Kenapa kamu ngambek gitu?" Pandu menatap Rasya dengan menelisik.
"Aku kesel, capek, lelah," keluh Rasya. Wajahnya tampak begitu memelas.
"Tenang, sebentar lagi kita akan sampai." Pandu mengusap puncak kepala Rasya dengan lembut.
"Bukan capek karena itu."
__ADS_1
"Lalu?"
"Capek karena mereka." Rasya menunjuk kedua sahabatnya yang sedang berpura-pura memukul Rasya.
Pandu tergelak sesaat, "Kenapa mesti capek hadapin mereka? Bukankah kamu sudah terbiasa dengan mereka?" Pandu menggeleng tidak percaya, sedangkan bibir Rasya makin mengerucut.
"Iya, udah biasa. Tapi ada yang lebih capek dari ngadepin mereka." Rasya menyandarkan kepala di bahu Pandu.
"Apa? Jangan bilang capek karena lemburan," tukas Pandu.
"Bukan, itu mah capek, tapi bikin nagih." Rasya mengembuskan napas secara kasar.
"Lalu apa? Jangan suka membuat teka-teki." Pandu mulai sedikit kesal.
"Capek ngarep ciuman dari kamu, tapi enggak dikasih-kasih juga." Rasya merengek.
Pandu tersenyum simpul, lalu tanpa basa-basi mencium bibir Rasya begitu saja. Rasya pun mulai menikmati ciuman tersebut. Namun, itu hanya sesaat karena teriakan ketiga sahabat Rasya begitu mengganggu.
"Pengantin baru mah, gitu. Dunia seakan milik berdua."
"Yang lainnya ngontrak!"
__ADS_1
"Ada yang ngekost juga," tambah Zahra yang mengguncang gelakan tawa. Arga menghela napas panjang, tetapi bibirnya tersenyum tipis.