Gadis Somplak Milik Cassanova

Gadis Somplak Milik Cassanova
65


__ADS_3

"Om!" teriakan Rasya dari dalam kamar mandi berhasil mengejutkan Pandu yang baru saja terbangun. "Om! Udah bangun belum, sih!"


Pandu bergegas turun dari tempat tidur, lalu berjalan menuju ke kamar mandi. Dia mengetuk pintu dengan perlahan, dan sesaat kemudian pintu terbuka sedikit dan kepala Rasya menyembul dari balik pintu.


"Apa?" tanya Pandu. Dia menguap karena masih merasa begitu mengantuk.


"Ambilin anduk, Om. Aku lupa enggak bawa." Rasya tersenyum lebar saat melihat raut wajah Pandu yang tampak begitu sebal.


Pandu pun bergegas kembali ke tempat tidur lalu mengambil jubah mandi dari dalam nakas. Setelahnya, dia menyerahkan kepada Rasya yang langsung diterima dengan cepat.


"Makasih banyak, Om." Rasya hendak kembali menutup pintu, tetapi dengan cepat Pandu menahannya. "Apa, Om?"


"Aku mau cuci muka," kata Pandu santai.


"Gantian, sih," balas Rasya, berusaha menyingkirkan tangan Pandu dari gagang pintu.


"Aku sudah risih. Lagian, kamar mandinya 'kan luas meski masih luas di rumah pribadiku," angkuh Pandu.


"Elehhh, sombongnya," cibir Rasya. Di saat Rasya sedang lengah, Pandu mendorong pintu lebih lebar lagi lalu memaksa masuk ke sana.


"Om, aku malu." Rasya dengan segera menutup tubuhnya dengan jubah mandi karena dirinya hanya memakai CD saja.


Pandu menelan ludahnya kasar saat melihat pemandangan yang membuat tubuhnya memanas. Bahkan, adik kecilnya yang selalu ikut terbangun pagi hari, kini ikut berdiri menantang langit. Rasya segera memakai jubah mandi tersebut saat melihat sorot mata Pandu yang begitu penuh gelora napsu.


Namun, baru saja memasukkan satu lengannya, Pandu sudah menarik jubah mandi tersebut lalu membuang secara sembarangan. Mata Rasya melebar saat jubah mandi tersebut sudah tergeletak di atas lantai yang basah.


"Om, ih! Jadi basah tuh handuknya!" omel Rasya, tetapi Pandu tidak peduli. Dia justru mendorong tubuh Rasya hingga menempel di tembok, lalu kedua tangan Pandu juga menyentuh tembok tersebut supaya Rasya tidak bisa kabur.


Rasya menutupi aset berharga yang terpampang jelas. "Ingat, Om. Aku masih tanggal merah." Rasya berusaha mengingatkan, tetapi Pandu justru mendaratkan ciuman di leher Rasya hingga gadis itu tak kuasa menahan desah*n.


Sebuah tanda kepemilikan tercipta di leher jenjang Rasya. Bahkan gadis itu merasakan gelayar aneh saat Pandu menyapu seluruh bagian lehernya. Dengan gerakan lembut, Pandu menurunkan tangan Rasya yang menutupi dua bukit kenyal miliknya.


"Om." Rasya mendes*h. Saat Pandu dengan sangat antusias menyesap cocho chip milik Rasya yang sudah mengeras secara bergantian.


Tangan Rasya justru refleks menjambak rambut Pandu perlahan, lalu menekankan kepala lelaki itu supaya bukit kenyalnya bisa masuk mulut Pandu lebih dalam lagi. Setelah puas di sana, ciuman Pandu kembali ke atas. Mencium bibir kenyal Rasya dan saling bertukar saliva.


"Bantu aku." Suara Pandu terdengar memburu karena gelora napsunya sudah naik ke ubun-ubun.


"Bantu apa, Om?" tanya Rasya heran.


"Tidurkan adik kecilku," sahut Pandu. Namun, kening Rasya justru terlihat dalam.


"Emang Om punya adik? Adik Om 'kan cuma Tuan Gilang, si manusia menyebalkan. Yang kutahu dia bukan lagi anak kecil," tutur Rasya.

__ADS_1


Pandu menggeleng tidak percaya. Antara kesal dan ingin tertawa bercampur menjadi satu. Istrinya itu benar-benar polos atau cuma pura-pura saja.


"Memangnya kamu tidak tahu adik kecilku? Bukankah kamu sering nonton blu* film?" Pandu menyentil kening Rasya dengan perlahan.


"Iya, waktu di rumah kontrakan pas lagi gabut." Rasya menjawab jujur. Pandu terkekeh saat mendengarnya.


"Kalau begitu kamu harusnya sudah tahu ini." Pandu mengarahkan tangan Rasya untuk memegang adik kecilnya yang sudah makin mengeras.


"Om!" Rasya hendak menarik tangannya, tetapi Pandu dengan segera menahan.


"Bantu aku." Pandu begitu meminta, tetapi Rasya terlihat ragu-ragu.


"Aku enggak bisa, Om. Dulu waktu sekolah enggak ada pelajaran buat nidurin adik kecil. Kecuali lagu Nina bobok," sahut Rasya. Bibir gadis itu tersenyum lebar. "Ah, aku nyanyiin lagu Nina bobok aja, ya." Rasya mengelus adik kecil Pandu sembari menyanyikan lagu pengantar tidur tersebut. Dengan gemas, Pandu mengangkat istrinya dan mendudukkan di atas closet.


"Jangan membuatku gemas, Kurap! Aku tahu kamu tidak sebodoh itu!" protes Pandu. Dia harus menuntaskan hasratnya sebelum kepalanya kembali berdenyut sakit.


"Percayalah, Panu. Aku emang enggak tahu." Rasya membalas santai. Pandu pun hanya mengeluarkan adik kecilnya dari balik celana karena meladeni Rasya tidak akan pernah ada habisnya.


"Astaga, Om!"


***


Satu jam di kamar mandi, Rasya dan Pandu baru saja keluar dari sana. Rasya menggerutu kesal karena kejahilan Pandu membuatnya harus menelan sedikit susu kental asin yang baru saja pertama kali dicobanya. Berbeda dengan Rasya, senyum Pandu justru mengembang sempurna karena akhirnya dia bisa melepaskan hasrat yang sudah lama ditahan.


"Jangan ketawa, Om!" sewot Rasya. Menghempaskan tubuh secara kasar di tempat tidur. Pandu pun ikut rebahan di samping gadis itu.


"Ternyata kamu memang masih sangat bodoh dalam hal seperti itu." Pandu terkekeh, sedangkan Rasya makin terlihat kesal.


"Jangan ngeledek, Om. Aku itu bukan bodoh, cuma belum berpengalaman aja." Rasya memainkan ponsel tanpa peduli pada Pandu yang masih saja menertawakannya. "Kalau Om ketawa terus, besok-besok enggak akan aku bantuin lagi."


"Baiklah. Aku cuma bercanda." Pandu menarik tubuh Rasya, masuk dalam pelukannya. "Tidurlah, kamu pasti lelah karena dua jam lagi kita akan mengantar Gea, Gilang, dan Arga ke Amerika."


"A-Amerika?" Rasya menatap tidak percaya.


"Iya, kamu mau ke sana?" tanya Pandu penuh harap. Jika Rasya menjawab iya, maka dia akan ikut berangkat ke Amerika dan bulan madu selama dua minggu di sana.


"Em, enggak deh, Om." Jawaban Rasya mematahkan harapan Pandu begitu saja.


"Kenapa?" Pandu terlihat kecewa.


"Aku takut mabok pesawat." Rasya menjawab santai, tetapi Pandu justru tergelak. "Jangan ketawa sih, Om." Rasya memukul lengan Pandu saking kesalnya.


"Kenapa tidak sekalian mabuk judi, atau mabuk duda." Pandu mencium pipi Rasya karena gemas.

__ADS_1


"Om Panu, tuh. Duda, tapi perjaka."


"Mana ada?" sela Pandu begitu saja.


"Ada-lah! Status perjaka, tapi si anu udah duda karena pernah ngerasain lubang surga dunia," cebik Rasya.


"Kamu kalau ngeles pinter banget, ya. Kaya bajai!" cibir Pandu.


"Daripada Om kaya ...."


"Kaya apa?" Pandu sudah mendelik tajam.


"Kaya ... kaya ... kayaknya aku udah cinta, deh, sama Om Panu." Jawaban Rasya membuat pipi Pandu bersemu merah.


"Masih gampang ge-er juga, Om," ledek Rasya. Senyum Pandu yang baru tercipta akhirnya memudar seketika.


"Mau bilang bohong lagi?" tukas Pandu sebal.


"Enggak," elak Rasya.


"Terus?"


"Terus ...." Rasya menghentikan ucapannya sesaat, Pandu sudah menatap Rasya dengan tajam. "Terus nabrak karena ada tikungan enggak mau belok. Haha." Rasya tergelak.


"Tidak jelas!" cibir Pandu.


"Enggak papa, yang penting cintaku buat Om itu jelas. Jelas terbukti keampuhannya tanpa pengawet buatan." Pandu menggigit pipi Rasya karena saking gemasnya dengan gadis itu.


••••


lanjut tidak nih?


Dukungan masih selalu Othor tunggu ya, biar makin semangat nulis 😂


Selamat pagi dan selamat berakhir pekan guys


jangan lupa healing biar enggak oleng 🤭


Salam sayang dari Othor Kalem Fenomenal yang polos, cantik, imut, menggemaskan.


🤣🤣🤣🤣


candaa guyss

__ADS_1


__ADS_2