Gadis Somplak Milik Cassanova

Gadis Somplak Milik Cassanova
92


__ADS_3

"Kau membela lelaki itu!" Pandu mulai naik pitam, tetapi Rasya justru tersenyum lebar.


"Bukan membela, tapi aku hanya ingin kamu menjaga sikap di tempat orang lain. Bayangin aja kalau kejadian ini ada di kantormu. Aku yakin kamu pasti ngambek," ucap Rasya setengah meledek.


Pandu memilih diam karena ucapan Rasya memang sangat benar. Dia pun tidak akan rela apabila ada orang yang bermesraan di ruangannya. Pandu berbalik dan dengan terpaksa meminta maaf kepada Gatra. Dengan sedikit merasa kikuk Gatra hanya mengiyakan dan tetap bersikap sopan.


"Silakan duduk dulu, Tuan Pandu." Gatra menyuruh dengan sopan. Namun, Pandu merasa begitu enggan dan memilih tetap berdiri di samping Rasya.


Bella masuk dengan membawa nampan berisi minuman dan juga makanan. Gadis itu melirik Rasya dengan tajam, tetapi Rasya bersikap tenang karena dia sudah terbiasa dengan sikap Bella yang seperti itu. Berbeda dengan Pandu yang langsung memasang wajah datar.


"Terima kasih, Bel," ucap Gatra. Bella hanya mengangguk lalu berpamitan pergi. Namun, sebelum pergi dia kembali melayangkan sebuah lirikan sinis. Pandu pun mulai siaga. Dia akan menjaga Rasya dari siapa pun yang berniat menyakitinya.


"Ayo, Ra. Kita makan dulu. Mari ,Tuan." Lagi-lagi Gatra masih mempersilakan dengan sopan.


Rasya pun mengajak Pandu untuk duduk dan mulai mengambilkan makanan untuk lelaki itu. Namun, Pandu menggeleng dengan cepat dan berdalih kalau dirinya sudah kenyang. Padahal Pandu merasa lapar karena dia sengaja ingin makan siang berdua bersama istrinya.


"Kamu yakin tidak mau makan, Mas?" tanya Rasya meyakinkan. Pandu tidak menyahut, hanya menggangguk lesu.


Rasya hanya membulatkan bibir dan dengan santai melahap makanan dengan diselingi beberapa obrolan bersama Gatra. Meskipun merasa canggung, tetapi Gatra masih berusaha menanggapi Rasya meski beberapa kali mendapat tatapan tajam dari Pandu. Toh, dia tidak melakukan apa pun dengan Rasya.


Di saat sedang sibuk mengawasi dua orang yang sedang makan dengan lahap, tiba-tiba ponsel Pandu berdering. Dengan segera dia merogoh ponsel dari saku celana dan melihat nama Arga tertera di layar. Ketika Arga mengatakan ada klien penting yang harus ditemui, lelaki itu menggeram kesal. Dia tidak mungkin pergi meninggalkan istrinya sendiri, tetapi dia juga tega melihat istrinya yang sedang lahap makan.


"Kenapa, Mas?" tanya Rasya heran.

__ADS_1


"Ada tamu penting di kantor dan aku harus menemui saat ini juga," sahut Pandu bimbang.


"Temuilah. Atau aku harus ikut?" Rasya berusaha bertanya karena dia tidak mau memercikan kesalah pahaman di antara mereka. Mendengar pertanyaan Rasya, entah mengapa Pandu justru mendadak ragu. Rasanya dia benar-benar tidak tega mengganggu istrinya yang masih sibuk makan. Namun, dia mengingat sesuatu hal hingga membuat Pandu akhirnya dengan tenang meninggalkan Rasya bersama Gatra.


"Tidak usah. Kamu habiskan makananmu dulu setelah itu barulah pulang. Aku pergi dulu." Pandu mencium kening Rasya dengan lama. Tepat di depan Gatra tanpa peduli pada perasaan lelaki itu.


Dengan usilnya, Pandu membuka kerah gaun yang menutupi leher Rasya hingga terpampanglah dengan jelas stempel kepemilikan bentuk cinta hasil karya bibir Pandu. Bibir Pandu tersenyum sinis saat melihat Gatra yang melengos. Dia yakin kalau hati Gatra panas saat melihat leher Rasya.


"Aku pergi dulu. Kamu jangan macam-macam atau aku akan memberi kamu hukuman di atas ranjang. Ingat, aku mengawasimu," bisik Pandu tepat di telinga Rasya.


Rasya hanya diam saat merasakan tubuhnya meremang karena hangat napas Pandu menerpa belakang telinganya. Dia menatap Pandu sesaat lalu mencubit pinggang lelaki itu saking gemasnya. Pandu hanya mengaduh, tetapi dengan cepat dia menghujami wajah Rasya dengan banyak ciuman lagi.


"Sudah sana pergi," usir Rasya.


"Tidak. Ingat, jangan biarkan tamu menunggu." Rasya mengingatkan. Meski dengan berat hati Pandu akhirnya memilih pergi dari sana.


Selepas kepergian Pandu, ruangan milik Gatra menjadi terasa begitu canggung. Sedari tadi Gatra terus saja diam hingga membuat Rasya merasa tidak nyaman. Rasya merasa tidak enak hati karena sikapnya dengan Pandu tadi sudah membuat lelaki itu terluka.


"Maaf, Mas." Rasya berkata dengan sangat lirih bahkan nyaris tidak terdengar.


"Maaf? Untuk apa kamu meminta maaf, Ra?" tanya Gatra. Dia menatap Rasya dengan lekat. Hatinya terasa berdenyut kembali saat melihat leher Rasya yang masih terpampang. Sepertinya Pandu sengaja melakukan itu.


"Aku dan Mas Pandu sudah keterlaluan di depan kamu tadi, Mas." Rasya begitu merasa tidak enak hati.

__ADS_1


"Tidak apa, Ra. Aku justru bahagia karena melihat kamu bahagia dengan suamimu. Aku tidak menyangka kalau Tuan Pandu akan sesayang itu sama kamu." Suara Gatra terdengar pasrah. Lelaki itu sudah menyerah.


"Mas ...."


"Sudahlah, Ra. Kamu tenang saja. Setelah ini aku akan belajar mencintai gadis lain untuk menghapus perasaanku padamu. Aku tahu itu pasti tidak akan mudah, tapi aku akan berusaha. Ra ...." Gatra menghentikan ucapannya.


Pandangan Rasya ke arah Gatra begitu lekat. Dia tidak tega saat melihat Gatra yang berusaha tersenyum, tetapi terlihat sekali dipaksa. Rasya pun tidak bisa berbuat apa-apa karena memang dirinya saat ini sudah jatuh cinta dengan Pandu. Bukankah hati seseorang tidak bisa menebak di mana dia akan jatuh?


"Berjanjilah untuk terus hidup bahagia. Kalau suatu saat kamu terluka dan tidak bahagia maka datanglah padaku. Aku akan selalu di belakangmu dan bersiap merangkulmu kapan saja."


Kalimat yang terlontar dari mulut Gatra terdengar lugas, tetapi mampu membuat hati Rasya berdesir. Dia merasa telah sangat melukai Gatra padahal selama ini Gatra sudah sangat baik padanya. Bahkan, Gatra-lah yang membuat Rasya tetap bisa bertahan hidup selama ini.


"Mas, semoga kamu bisa mendapat dan bertemu dengan gadis yang baik bahkan lebih baik dariku dan bisa mencintaimu dengan sangat tulus." Rasya berusaha menunjukkan senyum termanisnya.


"Semoga saja, Ra. Kalau begitu kita lanjutkan makan saja. Anggap saja semua ini tidak pernah terjadi dan kita tetap dekat seperti dulu. Akan kuanggap kamu seperti adikku sendiri."


"Terima kasih banyak, Mas." Rasya pun kembali melanjutkan makan. Entah mengapa dia merasa makanan itu berubah hambar setelah pembicaraan tadi. Padahal makanan tersebut tadi terasa begitu nikmat.


"Ra—"


Rasya menghentikan kunyahannya saat mendengar Gatra memanggil namanya. Dia menatap Gatra, tetapi lelaki itu justru terlihat ragu-ragu. Rasya pun menjadi begitu heran saat melihatnya.


"Ada apa, Mas?" tanya Rasya karena Gatra sampai cukup lama tidak lagi membuat mulutnya.

__ADS_1


"Bisakah kamu menutup lehermu? Banyak tanda cinta di sana dan aku tidak mau banyak orang yang melihatnya," ucap Gatra malu sendiri. Namun, mampu membuat tubuh Rasya menegang.


__ADS_2