Gadis Somplak Milik Cassanova

Gadis Somplak Milik Cassanova
99


__ADS_3

Semua perhatian teralihkan ke arah Arga yang saat ini sedang memasang raut yang sangat tidak bersahabat. Pandu awalnya mengerutkan kening melihat perubahan Arga yang tiba-tiba juga ucapan lelaki tersebut yang terkesan ketus. Namun, sesaat kemudian bibir Pandu tersenyum simpul saat menyadari satu hal yang membuat perubahan sikap Arga begitu drastis.


"Maaf, Tuan. Saya tidak ada niatan sama sekali untuk masuk dengan jalur orang dalam karena saya ingin bekerja dan diakui sesuai kemampuan saya sendiri. Saya hanya merasa bahagia bisa melihat secara langsung Tuan Pandu Andaksa," ujar Yudha. Lelaki itu merasa tersinggung dengan ucapan Arga. Padahal Yudha merasa tidak membuat kesalahan apa pun dengan Arga. Bahkan, mereka saja belum berkenalan.


Mendengar bantahan Yudha membuat kekesalan makin menumpuk di hati Arga. Dia hendak mendebat lagi, tetapi saat melihat sorot mata Pandu yang menajam ke arahnya membuat Arga lebih memilih menutup mulut rapat-rapat. Arga tidak mau jika kehilangan pekerjaan hanya karena satu orang yang tidak penting—menurutnya.


Pandu pun mengajak Rasya dan Arga untuk berpamitan dari sana setelah melihat keadaan Rosita yang masih terbaring di brankar. Meski wajah sedikit memucat, tetapi gadis kecil itu tetap tersenyum simpul melihat Pandu dan lainnya.


***


"Ga, ada masalah apa kamu dengan lelaki tadi?" tanya Pandu saat mereka sedang dalam perjalanan pulang.


"Tidak ada, Tuan," sahut Arga berbohong. Dia tidak mungkin mengatakan kalau hatinya panas melihat kedekatan Zahra dengan Yudha.


"Jangan bilang kamu cemburu melihat Zahra dengan Mas Yudha," tebak Rasya. Arga terdiam sesaat sebelum akhirnya membantah tebakan Rasya.


"Kamu kenapa suka sekali memanggil nama pria lain?" Pandu tampak tidak suka.


"Memangnya kenapa? Enggak boleh? Bucinnya kebangetan masa, Mas."


"Bukannya tidak boleh, tapi aku tidak suka," ujar Pandu jujur. Rasya terkekeh apalagi saat melihat wajah kesal Pandu yang tampak menggemaskan.


"Kalau begitu aku enggak boleh manggil nama Bapak Paijo, Mas Agus, Daddy Ferdinan, Kak Arga, Parjan."


"Ngapain lelaki kampungan itu kamu sebut-sebut!" sela Pandu dongkol.


"Eh iya, kenapa aku sebut pantat wajan ibu," gumam Rasya lalu terkekeh sendiri. "Lagian kamu kenapa bucin banget sama aku, sih, Mas."


Pandu tidak menjawab, hanya melirik Rasya sekilas tanpa mengubah raut wajahnya yang masih tampak datar. Rasya pun menyandarkan kepala lalu tersenyum licik. Dia berniat hendak membuat Pandu makin kesal.


"Kak Arga, Mas Agus, Mas Gatra, Mas Andra, Mas Yudha, terus Mas siapa lagi, ya?" Rasya mengetuk kening seolah sedang berpikir keras. Namun, ekor matanya melirik Pandu yang sudah sangat jengkel.


"Masalah buat aku!" Pandu menambahi dengan sangat ketus hingga membuat tawa Rasya meledak di dalam mobil.


"Kamu kalau lagi cemburu lucu, Mas. Imut menggemaskan gitu kaya kucing punya Kak Ajeng di rumah," ledek Rasya tanpa menghentikan tawanya.


"Jahat sekali kamu menyamakan aku dengan kucing?" Pandu makin kesal.


"Habisnya kamu kalau lagi cemburu gitu lucu. Nggemesin banget, Mas."

__ADS_1


"Kurap!"


"Apa, Om Panu Sayang." Rasya menutup mulut karena sudah keceplosan.


Pandu yang tak kuasa menahan rasa gemasnya, akhirnya menggelitik Rasya. Tidak peduli pada teriakan Rasya yang meminta ampun. Arga yang fokus menyetir hanya bisa mengembuskan napas kasar.


"Ampun, Mas. Aku bercanda." Rasya berusaha menghentikan tangan Pandu yang masih saja menggelitik ketiaknya. "Ampun, Mas."


"Tidak ada ampun bagimu, kamu sudah sangat kurang ajar." Pandu terus saja memberi pembalasan kepada Rasya.


"Mas, udah-udah. Aku udah terkena lima L." Ucapan Rasya mampu membuat gerakan tangan Pandu terhenti seketika. Pandu menatap Rasya dengan lekat bahkan alis lelaki tersebut terlihat saling bertautan.


"Apa itu lima L?" tanya Pandu penasaran.


"Lemah, letih, lesu, loyo ...." Rasya menghentikan ucapannya.


"Lalu?" Pandu tidak sabar.


"Lalu?" Rasya justru menirukan pertanyaan Pandu.


"Lalu apa? Itu baru empat!" Tensi darah Pandu benar-benar naik jika berada di dekat istrinya.


"Jangan membuatku penasaran, Rasya!"


Rasya terkekeh, tetapi melihat sorot mata Pandu yang menajam, Rasya menunjukkan dua jari tanda damai.


"Kamu yakin ingin tahu L yang terakhir?" tanya Rasya. Dengan bodohnya Pandu mengangguk dengan cepat. "Sini maju."


Pandu pun memajukan wajahnya. Rasya tersenyum lebar saat mereka berdua sudah sama dekatnya.


"Lima L itu ... lemah, letih, lesu, loyo ... dan L yang terakhir adalah—" Rasya menghirup napas dalam terlebih dahulu. "Loving You."


"Astaga." Pandu salah tingkah mendengar rayuan Rasya. Dia tidak menyangka kalah ternyata mulut istrinya sangat manis seperti itu. Selalu bisa membuat Pandu terpesona dan tersipu malu.


"Kamu selalu buat aku—"


"Salah tingkah," sela Rasya diiringi gelakan tawa yang begitu meledak.


Pandu mencubit hidung Rasya saking gemasnya. Lalu mendorong tubuh Rasya hingga rebahan di atas jok, dan dengan segera Pandu menindihnya.

__ADS_1


"Sepertinya kamu harus mendapat pelajaran." Pandu menaruh kedua lengan di dekat wajah Rasya supaya tidak bisa meronta.


"Pelajaran apa, Mas? Aku udah lulus." Rasya terkekeh dan justru makin menggoda suaminya.


"Pelajaran bercinta."


Uhuk-uhuk!


Citt!!


Pandu memegang belakang jok depan dengan kuat dan menahan tubuh Rasya supaya tidak terjatuh. Setelah mobil tersebut benar-benar berhenti, Pandu kembali duduk dan memindai seluruh tubuh Rasya.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Pandu khawatir. Rasya hanya mengangguk cepat karena dirinya masih terkejut dengan mobil yang berhenti tiba-tiba.


"Bisakah kamu tidak mengerem mendadak! Kamu hampir membuat istriku terluka, Ga!" bentak Pandu saking marahnya.


"Maafkan saya, Tuan. Tadi saya terkejut melihat ada kecoak." Arga berbicara santai sembari menahan tawa saat menyadari alasan yang dia berikan.


"Kamu jangan gila dan bod*h! Mana ada kecoak di mobilku." Pandu naik pitam, tetapi Arga masih saja bersikap santai.


"Kalau Anda tidak percaya ya sudah, Tuan. Toh, saya tidak selalu berkata benar." Arga terkekeh. Menyadari ucapan Arga, Pandu menendang belakang jok yang diduduki Arga untuk meluapkan amarahnya.


"Gajimu mau kupotong berapa persen?"


"Tuan, seharusnya Anda menambah gaji saya bukan malah memotongnya. Saya sudah membantu Anda." Arga berbicara santai. Dia harus membalas kekesalan kepada Pandu yang sedari tadi dipendam.


"Bantuan apa? Kamu hampir membunuhku!"


"Tuan, Anda adalah seorang pengusaha muda yang memiliki perusahaan besar. Bahkan, kekayaan Anda lebih banyak daripada milik saya."


"Tentu saja!"


"Sabar, Tuan. Saya belum selesai berbicara." Arga mengembuskan napas malas. "Jadi, kalau Anda memiliki kekayaan yang luar biasa, kenapa Anda dengan tidak malu bercinta di dalam mobil? Padahal Anda bisa menyewa bahkan membeli hotelnya sekalian."


"Jangan kebanyakan basa-basi, Ga!"


"Apa Anda tidak malu kalau kalian kepergok dan setelahnya berita tentang kalian menyebar? Seorang CEO Perusahaan Andaksa Group, kepergok bercinta di dalam mobil, saat jalan sedang padat-padatnya." Arga terbahak.


"Rasanya aku ingin membunuhmu saat ini juga, Ga! Jalan!" perintah Pandu penuh amarah. Arga dengan santai melajukan mobil tersebut dan tertawa dalam hati.

__ADS_1


Rasakan, kamu pikir seorang asisten tidak berani melawan bos? Salah siapa dari tadi pamer kemesraan di depan jomlo.


__ADS_2