
Terkadang apa yang di ucapkan mulut, berbeda dengan yang dikatakan di hati - Auraliv.
...༻∅༺...
Zerin berusaha mengabaikan keberadaan Zidan. Ia segera mengenakan pakaian olahraga. Kala itu dia dan kedua temannya sama-sama mengenakan sport bra yang dilengkapi dengan celana legging.
"Kita gabung sama Zidan dan teman-temannya yuk! Pasti seru," ajak Gita yang terlihat antusias. Dia dan Kinar selalu mencuri pandang ke arah Zidan.
"Kalian aja deh. Aku tahu kalau kalian mau dekatin Zidan. Sana gih!" tanggap Zerin. Dia naik ke atas alat treadmill. Mengatur kecepatan yang tepat untuk memulai olahraga.
"Zerin nggak seru banget," komentar Kinar. Dia dan Gita segera bergabung bersama Zidan, Ernest, serta Jaka.
"Eh! Aku tuh ke sini mau olahraga. Bukannya mau goda laki-laki," balas Zerin.
"Terserahmu deh," sahut Gita yang sudah berjalan agak jauh bersama Kinar. Mereka lantas benar-benar meninggalkan Zerin berolahraga sendiri.
Gita dan Kinar memilih alat olahraga yang dekat dengan Zidan. Tetapi mereka terlihat kesulitan menggunakan alat tersebut. Mengingat keduanya tidak pernah menggunakan alat olahraga selain treadmill.
"Eh, Gita! Zerin kok nggak ke sini. Suruh gabung juga dong," tegur Ernest yang tidak bisa melepaskan perhatiannya dari Zerin. Dia menatap perempuan itu dari kejauhan.
"Dia katanya mau main di treadmill dulu," sahut Gita.
"Oh gitu." Ernest menganggukkan kepala. Tanpa pikir panjang, dia segera pergi menghampiri Zerin.
Jaka yang melihat hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia mencoba memaklumi sikap Ernest yang begitu menyukai Zerin.
Bruk!
Kinar meringiskan wajah saat lengannya tidak kuat mengangkat barbel. Benda berat itu sontak terhempas ke lantai dan menimbulkan dentuman cukup keras.
"Astaga, Kinar! Ngapain angkat begituan coba," kritik Gita yang merasa heran. Dia terlihat santai dengan alat olahraga skuad.
"Aduh... Sakit..." rintih Kinar sambil mengibaskan dua tangannya yang memerah.
Keributan yang dibuat Kinar, membuat Zidan dan Jaka menoleh. Keduanya melihat Kinar yang tampak masih menahan sakit.
"Kamu nggak apa-apa, Nar?" tanya Jaka memastikan. Dia tetap diam di tempatnya.
Berbeda dengan Zidan. Dia mendekati Kinar. Menyebabkan gadis itu tertegun. Kinar tidak menyangka Zidan datang menghampiri.
"Banyak sekali orang tidak tahu cara yang benar mengangkat barbel. Caranya begini," ujar Zidan. Dia mengajari Kinar mengangkat barbel yang benar.
Kinar tersenyum malu. Dia bahkan berpura-pura salah agar bisa lebih lama berinteraksi dengan Zidan.
"Begini?" tanya Kinar. Sengaja memperagakan saran Zidan dengan cara yang salah.
__ADS_1
Zidan terkekeh. Dia padahal tahu Kinar hanya berlagak. Zidan selalu tahu bagaimana gelagat gadis yang cari muka dengannya.
Seakan mengerti, Zidan memegangi tangan Kinar. Memberitahukan cara menggenggam barbel yang benar.
"Kuat atau tidak kuat, aku yakin semua orang bisa mengangkat barbel dengan mudah. Yang terpenting, dia harus tahu caranya." Zidan memberitahu.
Kinar lantas mencoba saran yang diberikan Zidan. Benar saja, dia merasa lebih mudah mengangkat barbel seberat sepuluh kilo tersebut. Meskipun begitu, Kinar hanya mampu mengangkatnya setinggi pinggang.
"Kamu benar. Makasih sudah ngajarin. Oh iya, kenalin namaku Kinar," ungkap Kinar seraya mengusap tengkuk tanpa alasan. Dia tersipu malu sendiri. Merasa salah tingkah karena ditatap oleh Zidan.
"Aku Zidan." Zidan menjawab singkat.
"Dan! Sekarang temanmu ini bisa di ajarin juga nggak? Ini kenapa susah banget ya?" cetus Jaka yang menempati alat olahraga pulldown. Ia tampak kesulitan menarik alat tersebut.
Zidan tergelak. Dia langsung turun tangan membantu Jaka.
Merasa memiliki kesempatan untuk mendekat, Kinar mengajak Gita untuk mengikuti Zidan. Mereka mencoba saling mengakrabkan diri.
Dari kejauhan, Zerin dapat melihat apa yang dilakukan kedua temannya. Entah kenapa hatinya merasa tidak nyaman saat menyaksikan Kinar dan Gita akrab dengan Zidan.
Atensi Zerin tidak sengaja tertuju ke arah Zidan. Dia tidak bisa membantah kalau lelaki itu terlihat lebih tampan saat berolahraga.
"Kenapa, Rin? Mau gabung ke sana juga?" ucap Ernest yang sejak tadi menemani Zerin berolahraga treadmill. Tegurannya berhasil membuyarkan lamunan perempuan itu.
Ernest balas tersenyum. Dia tidak bisa mengalihkan atensinya dari Zerin. Entah sudah berapa kali saliva ditelan oleh Ernest. Terutama karena menyaksikan lekuk tubuh Zerin yang seksi. Terlebih kulit putih perempuan itu terlihat sudah mengkilap karena keringat.
"Kamu cantik banget, Rin..." ucap Ernest. Lidahnya memang selalu kelu jika berdekatan dengan Zerin. Apa yang diucapkannya hanya melontarkan kalimat pujian. Membuat Zerin tidak bisa membalas perkataannya dengan panjang lebar.
"Kamu selalu bilang begitu terus setiap hari," tanggap Zerin.
"Kenapa? Apa itu membuatmu risih? Aku minta maaf kalau--"
"Tentu saja tidak. Mana mungkin kalimat pujian membuatku risih," potong Zerin.
"Baguslah kalau begitu." Ernest menanggapi dengan wajah yang memerah malu. Hening kembali menyelimuti suasana. Ernest selalu bingung harus membicarakan apa saat bersama Zerin.
Satu jam terlewat. Zerin sudah puas berolahraga. Akan tetapi dua temannya terlihat masih asyik berolahraga bersama Zidan dan Jaka.
"Kamu nggak mau coba alat olahraga yang lain?" tanya Ernest sembari mengedarkan pandangan ke segala arah.
"Enggak. Alat olahraga lain terlalu berat untukku," sahut Zerin. Dia mengajak Ernest berjalan menghampiri Kinar dan Gita. Zerin terpaksa bergabung karena ingin mengajak dua temannya pulang.
"Kinar! Gita! Kalian masih belum selesai?" tegur Zerin. Semua orang otomatis menoleh ke arahnya. Termasuk Zidan sendiri.
Zidan terpaku. Matanya tidak bisa mengedip ketika melihat Zerin lebih dekat. Bagaimana tidak? Perempuan tersebut muncul dengan sport bra serta legging ketat.
__ADS_1
"Bentar lagi, Rin! Mending kamu ikut gabung kami aja. Ternyata main alat olahraga lain seru loh," ujar Gita antusias. Kinar yang mendengar langsung mengangguk. Pertanda kalau keduanya sama-sama sependapat.
"Enggak. Nanti aja. Aku mau ke toilet." Zerin segera beranjak. Karena pergi ke toilet, Ernest tidak bisa mengikutinya lagi.
"Bentar ya! Aku mau beli minuman ke depan. Kalian mau?" imbuh Zidan dengan rekahan senyuman lebar.
Kinar dan Gita tentu dengan senang hati menerima. Begitu pun Jaka dan Ernest.
"Zidan! Kamu mau aku bantuin?" Kinar mengejar Zidan. Menawarkan diri untuk membantu.
"Aku bisa sendiri kok. Kamu mending tunggu aja sama yang lain. Aku juga mau sekalian ke toilet," kata Zidan.
Kinar mengangguk mengerti. Dia segera kembali bergabung bersama yang lain.
Raut wajah Zidan seketika berubah menjadi serius. Ia mendatangi tempat lokernya. Mengambil sesuatu dari dalam tas. Selanjutnya, Zidan beranjak ke toilet.
Bersamaan dengan itu, pintu toilet wanita terbuka. Sosok Zerin muncul dan langsung terkesiap saat bertemu dengan Zidan.
"Pas sekali! Aku ingin bicara." Zidan menyeret Zerin ke samping toilet. Di sana keduanya berdiri saling berhadapan.
"Ada apa?" tanya Zerin dengan nada ketus.
Zidan merogoh saku celana. Dia menyerahkan bungkus berisi pil kepada Zerin.
"Ini obat yang kau bilang itu?" Zerin mengambil obat yang diberikan Zidan.
"Ya!" jawab Zidan singkat. Lalu beranjak lebih dulu.
"Zidan!" panggil Zerin yang berhasil menghentikan kepergian Zidan. Lelaki itu kembali berbalik menghadap Zerin.
"Menjauhlah dari teman-temanku! Aku tidak sudi kau dekat-dekat dengan mereka!" tegas Zerin.
Zidan menarik sudut bibirnya ke atas. Ia melangkah lebih dekat ke hadapan Zerin.
"Kalau aku tidak mau?" tukas Zidan.
"Maka aku akan menyebarkan videomu itu. Lagi pula kau juga melarangku untuk bersentuhan dengan lelaki lain. Alasanmu bahkan sama sekali tidak berdasar!" balas Zerin sambil melipat dua tangan ke depan dada.
"Oh, jadi karena itu." Zidan memutar bola mata jengah. Ia meneruskan, "dengar! Aku melakukan itu karena mengetahui pekerjaanmu sebagai sugar baby. Kau calon dokter bukan? Aku yakin kau pasti tahu efek buruk dari bergonta-ganti pasangan."
"Apa?! Bukankah kau juga sering bergonta-ganti pasangan?! Foto-foto di ruang gelap itu buktinya. Aku melihat puluhan wanita berbeda!"
"Aku memfoto bukan berarti aku juga melakukan hubungan intim dengan mereka. Maksudku, tidak semuanya."
"Bukankah itu sama saja?!" Zerin tidak mau kalah. Entah kenapa dia dan Zidan saling terpaku untuk bertukar pandang. Keduanya tiba-tiba terdiam. Atensi mereka tertuju ke arah bibir satu sama lain.
__ADS_1