
Karma mungkin tidak datang sekarang. Tapi suatu hari nanti. Di hari yang mungkin tidak akan pernah kau duga - Auraliv.
...༻∅༺...
Zerin menghubungi Kinar. Tetapi gadis itu tidak menjawab panggilannya. Alhasil Zerin memutuskan mendatangi langsung kediaman Kinar.
Dengan langkah cepat Zerin keluar dari lift. Dia menghampiri unit apartemen yang ditinggali Kinar. Zerin memencet bel, lalu menghembuskan nafas kasar.
Pintu perlahan terbuka. Kinar terlihat kaget melihat kedatangan Zerin. Ditangannya terdapat sebuah ponsel yang digenggam erat.
"Zerin? Kenapa ke sini? Apa kau tidak lelah?" Dahi Kinar berkerut. Mengingat Zerin baru saja menyelesaikan acara pertunangan dengan Zidan.
"Tidak apa-apa. Aku hanya khawatir denganmu. Kata Astrid dan Gita kau agak berbeda," tutur Zerin.
"Ya, aku memang agak banyak pikiran akhir-akhir ini. Tapi maaf, aku harus segera pergi. Aku ada urusan mendesak," ujar Kinar sembari mengambil tas. Lalu memasukkan ponsel ke dalam sana. Dia keluar dari apartemen dan mengunci pintu.
"Kau mau langsung pergi?" Zerin menatap tak percaya. Sikap Kinar memang berubah drastis.
"Iya. Maaf ya, Rin." Kinar beranjak. Akan tetapi Zerin dengan cepat menghentikan.
"Kinar! Apa kau marah kepadaku?" tanya Zerin seraya memegang pergelangan Kinar.
Suasana hening menyelimuti. Kinar terdiam, tanpa menoleh ke belakang. Tepatnya ke arah Zerin yang masih menanti jawaban darinya.
Perlahan Kinar berbalik dan tersenyum tipis. "Tentu tidak. Untuk apa aku marah denganmu?" jelasnya. Dia melepas pegangan Zerin dari lengan.
"Aku pergi dulu ya." Kinar bersikeras ingin pergi. Membuat rasa curiga Zerin kian membuncah.
Untuk memastikan, Zerin mencoba menghubungi nomor tak dikenal yang sudah menerornya. Dia membulatkan mata, ketika mendengar ponsel Kinar berdering.
Suara dering ponsel membuat langkah Kinar terhenti. Padahal dia nyaris masuk ke dalam lift.
"Kinar?" panggil Zerin dengan tatapan nanar. Setelah mendengar ponsel Kinar berdering, dia semakin yakin dengan dugaan Zidan.
Tanpa pikir panjang, Zerin menghampiri Kinar. "Kau kah itu?" tanyanya memastikan.
Kinar menunduk sambil mengeratkan rahang. Dia menggenggam erat tas bahunya. Kinar juga tampak membuang muka dari Zerin. Tanpa mengucapkan kata apapun, dirinya beranjak menuju apartemen.
"Kinar!" Zerin sigap memegang tangan Kinar. Matanya nampak berkaca-kaca.
__ADS_1
"Maaf... Kau pasti melakukan itu karena marah kepadaku," kata Zerin. Satu tetes cairan bening lolos begitu saja dari sudut matanya.
"Apa maksudmu?! Kau kenapa, Rin?" tanggap Kinar. Menatap heran Zerin. Dia bersikap seolah tidak tahu dengan topik yang dibahas Zerin.
"Kau yang mengirim pesan ini kepadaku kan?" Zerin menunjukkan pesan yang dia maksud kepada Kinar.
"Pesan apa?" Kinar tetap tidak mengaku.
"Mengaku saja. Ponselmu tadi berbunyi saat aku menghubungi nomor tak dikenal itu!" Zerin menarik tas Kinar. Dia berusaha mengambil ponsel Kinar untuk memberikan bukti.
"Zerin! Kau mau apa? Hentikan!" Kinar mempertahankan tasnya. Aksi saling tarik-menarik dilakukan olehnya dan Zerin.
Hingga akhirnya Kinar mendorong Zerin sampai terjatuh ke lantai. Tidak seperti biasanya, Kinar tak peduli dengan Zerin yang mengerang kesakitan ketika punggungnya terhantam tembok.
Kinar bergegas pergi dari hadapan Zerin. Tetapi jalannya lagi-lagi terhenti saat Zerin menelepon nomor misterius yang sudah menerornya. Ponsel milik Kinar kembali berbunyi.
Dua tangan Kinar mengepal erat. Dia berbalik dan menatap tajam Zerin yang perlahan berdiri.
"Oke, aku akui! Itu memang aku, Rin!" Kinar akhirnya mengaku.
"Kenapa kau..." Zerin merembeskan air mata.
Air mata Kinar bercururan. Dia memarahi Zerin sambil menangis. Rasa sakit dan sedih bercampur aduk dalam dirinya.
"Kinar... Maafkan aku..." lirih Zerin. Ia merasa sangat bersalah kepada sahabatnya tersebut.
Kinar terdiam sebentar karena sibuk meluapkan kekesalan dengan cara menangis. Dia melepaskan Zerin.
"Kak Adi sudah mengatakan semuanya tentangmu. Dia bilang kau adalah wanita nakal yang sering melayani lelaki dewasa. Tapi aku sangat heran kenapa Zidan bersedia menerimamu?..." kata Kinar. Menatap Zerin dengan binar penuh kebencian.
"Aku heran kenapa kau bekerja sebagai sugar baby. Jadi aku mencari tahu. Kau tahu aku menemukan apa? Ternyata kau selama ini bukanlah orang yang berasal dari keluarga konglomerat..." Kinar memberitahu sambil terisak. "Kenapa kau berbohong, Rin?! Kau beruntung aku tidak langsung mengatakan semua fakta ini kepada semua orang! Aku melakukannya karena tidak tega kepadamu!" sambungnya dengan nada penuh penekanan.
"Maafkan aku, Nar... Aku berbohong karena takut kau dan yang lain tidak mau menjadi temanku..." ungkap Zerin. Dia menangis tersedu-sedu. Zerin berusaha menenangkan Kinar dengan pelukan. Namun Kinar tentu menolak.
"Kau jahat! Aku mungkin tidak sanggup lagi melihat wajahmu itu!" Kinar semakin melangkah mundur untuk menjauh dari Zerin.
"Apa kau akan mengatakan semuanya kepada orang-orang?" tanya Zerin. Di sela-sela tangisnya.
Kinar berhenti menangis. Ia iba-tiba tergelak. Kinar tidak percaya, Zerin masih saja mengutamakan dirinya sendiri di saat seperti sekarang.
__ADS_1
"Aku yakin, kedatanganmu ke sini hanya ingin memastikan aku tidak membeberkan fakta tentangmu bukan? Kau takut keluarga Zidan akan tahu tentang jati dirimu. Belum lagi semua orang di kampus. Aku tahu kau pasti akan kewalahan menghadapi kebencian mereka. Itulah alasanku tidak langsung menyebarkan apa yang aku ketahui." Kinar mengusap air mata di wajahnya.
"Kau tidak akan menyebarkannya?" Zerin memastikan.
"Tidak. Aku teman yang baik bukan?" jawab Kinar.
"Terima kasih... Aku akan mengatakannya sendiri nanti. Aku hanya butuh waktu yang tepat." Zerin perlahan berhenti menangis. Dia merasa lega Kinar tidak akan memberitahu semua orang tentang jati dirinya. Zerin sudah menduga, Kinar memang orang yang sebaik itu. Senyuman mengembang di wajah Zerin. Berharap Kinar akan membalas senyumannya.
Kinar benar-benar tersenyum. Dia bergerak satu langkah ke hadapan Zerin. "Aku memutuskan akan pergi. Aku akan berkuliah ke luar negeri. Dimana aku tidak akan melihatmu dan Zidan lagi," ucapnya.
"Kau pergi?" Zerin merasa sedih.
"Iya." Kinar mendengus kasar. Lalu mendekatkan mulut ke telinga Zerin. "Aku mungkin tidak akan melakukan apapun untuk menjatuhkanmu, Rin. Tapi aku yakin, alam akan memberikan karma," bisiknya.
Kinar segera pergi. Meninggalkan Zerin yang mematung dan kehabisan kata-kata.
Dengan langkah gontai, Zerin kembali pulang. Bisikan Kinar tadi sangat mengena dihati. Zerin merasa khawatir.
Zerin mendapat telepon dari Zidan. Lelaki itu memberitahu kalau dirinya sudah mengetahui pemilik nomor telepon yang meneror Zerin.
"Dugaan kita benar! Nama pemilik nomornya memang Kinar!" ujar Zidan dari seberang telepon.
"Iya, aku tahu. Aku juga sudah mengurusnya," jawab Zerin dengan nada malas.
"Benarkah? Lalu? Kinar tidak akan menyebarkan rahasiamu kan?"
"Tidak."
"Syukurlah kalau begitu. Kau dimana sekarang? Biar aku jemput."
"Tidak usah. Aku baru saja naik taksi."
"Besok sepertinya kita harus membeli mobil baru. Aku tidak mau melihat tunanganku berkeliaran dengan menggunakan transportasi umum," cetus Zidan. Membuat mata Zerin yang tadinya sendu langsung segar.
"Apa? Mobil?" Zerin seketika melupakan sesuatu yang membuatnya gelisah.
"Iya, sayang. Kalau perlu kita sekalian beli mobil untuk Amira."
Pembicaraan Zidan dan Zerin berakhir disitu. Zerin langsung pulang ke rumah barunya.
__ADS_1