
Sentuhan adalah bukti cinta. Karena cinta tidak bisa terpuaskan jika tidak ada sentuhan - Auraliv.
...༻∅༺...
Zerin berusaha bersikap normal. Namun dia bertekad tidak akan bicara dengan Zidan. Zerin disambut oleh fotografer yang bertugas. Dia disuruh untuk mengenakan jas almamater sama seperti Zidan.
Sementara itu, Zidan baru menyadari kehadiran Zerin. Tatapannya langsung tertuju ke arah perempuan tersebut.
Zerin berdiri ke dekat Zidan sambil memperbaiki pakaian. Saat itulah Zidan diam-diam mengajaknya bicara.
"Bagaimana reaksi teman-temanmu tadi? Apa mereka marah denganku?" cicit Zidan.
"Akulah yang marah denganmu!" tukas Zerin ketus. Raut wajahnya tampak cemberut.
Zidan tersentak. Dia tidak menduga Zerin akan memberikan tanggapan begitu.
"Kau kenapa?" Zidan tak mengerti.
"Pikirkan saja sendiri." Zerin menjawab tanpa menoleh ke arah Zidan. Keduanya sudah berpose untuk melakukan pemotretan.
"Kau berharap aku mencari tahu alasan kau marah? Bagaimana aku bisa tahu kalau kau tidak bilang sendiri," ujar Zidan. Melirik selintas ke arah Zerin. Perempuan itu kini tersenyum karena disuruh oleh fotografer.
Kilatan serta suara jepretan kamera menghiasi perdebatan tersembunyi di antara Zerin dan Zidan. Orang yang menonton juga semakin banyak berdatangan. Termasuk Kinar dan kawan-kawan.
Sekarang tibalah sesi foto sendirian untuk Zidan. Sedangkan Zerin sudah sepenuhnya selesai. Sebab dia memang sudah lebih dulu menyelesaikan sesi foto sendirian tempo hari.
"Zidan! Setelah ini foto bareng aku ya!" seru salah satu mahasiswi yang sejak tadi menonton sesi pemotretan.
Zerin terperangah tak percaya. Apalagi ketika Zidan menanggapi dengan anggukan dan senyuman.
Satu botol air mineral dihabiskan Zerin. Dia menbantingnya ke lantai. Lalu menginjak-injak dengan penuh amarah.
Semua pasang mata tertuju ke arah Zerin. Mereka heran kenapa perempuan tersebut bersikap begitu.
Hanya Zidan yang tidak kuasa menahan senyuman. Karena dia akhirnya mengerti alasan Zerin terus cemberut dan marah.
"Tunggu ya, Mas." Zidan menghentikan sesi pemotretan sejenak. Dia mendekati Zerin dan menghentikan aksi gila perempuan itu.
"Pergi sana! Foto sama wanita itu gih!" hardik Zerin dengan kening yang mengernyit dalam.
__ADS_1
Zidan meraih tangan Zerin. Menarik perempuan itu lebih dekat. Ia menatap dalam manik hitam pekat Zerin. Tatapan Zidan sukses membuat Zerin gugup dan telan ludah.
"Zidan! Jangan coba-coba." Zerin berusaha memperingatkan.
Zidan malah tersenyum. Tanpa diduga, dia menempelkan bibirnya ke pipi Zerin. Zidan nekat melakukannya di depan umum!
Semua orang langsung berteriak histeris. Sebagian besar dari mereka merasa gemas melihat keberanian Zidan.
Di kursi bagian kanan, Astrid dan kawan-kawan juga sama kagetnya. Mereka reflek memegangi wajah masing-masing. Apa yang dilakukan Zidan begitu manis dan membuat semua orang jadi ikut terbawa suasana.
Hanya Kinar yang tampak menunjukkan ekspresi datar. Dia yang masih memiliki perasaan dengan Zidan, akan berusaha membuang perasaannya sejauh mungkin.
Dari semua orang, mungkin Zerin-lah yang paling dibuat kaget. Wajahnya seketika memerah bak tomat matang. Jantungnya berdebar tidak karuan. Disertai dengan mata yang terbuka lebar.
Zerin sempat mematung. Entah apa yang ada dipikirannya, sehingga sebuah tamparan dia layangkan ke pipi Zidan.
Plak!
Suara tepukan keras itu terdengar nyaring. Apa yang dilakukan Zerin berhasil membuat semua orang kembali berseru.
Karena merasa malu setengah mati, Zerin beranjak meninggalkan Zidan. Dia melangkah cepat keluar dari aula.
"Makanya, Dan. Kalau mau apa-apa, izin dulu. Apalagi kalau sama Zerin. Dia bukan perempuan yang mudah dekati," tegur fotografer yang bertugas.
Zidan menanggapi dengan senyuman tipis. Dia segera kembali melanjutkan sesi pemotretan. Seolah apa yang terjadi tadi bukanlah apa-apa.
...***...
Zerin berlari memasuki toilet. Dia berusaha menenangkan jantungnya terlebih dahulu.
"Gila! Zidan benar-benar gila!" gumam Zerin yang merasa tidak habis pikir.
Tak lama kemudian, Zerin mendapatkan pesan dari Zidan. Lelaki itu menuliskan, 'Kerja bagus, Rin. Kau menamparku tanpa harus disuruh.'
Mulut Zerin menganga tak percaya. Dia semakin bingung dengan Zidan. Lelaki tersebut tidak pernah menjelaskan rencananya secara detail.
Pintu tiba-tiba terbuka. Astrid, Kinar dan Gita muncul. Ketiganya sengaja menyusul Zerin karena merasa khawatir.
"Rin, kamu nggak apa-apa?" tanya Astrid. Dia, Kinar, dan Gita memperhatikan mimik wajah yang ditampakkan Zerin.
__ADS_1
"Aku nggak apa-apa. Aku cuman merasa kaget saja," jawab Zerin sembari memegangi dada dengan satu tangan.
"Zidan kali ini blak-blakkan banget. Aku nggak menyangka dia nekat begitu!" ungkap Gita sambil geleng-geleng kepala.
"Tapi jujur ya. Aku puas banget pas lihat Zerin menampar Zidan tadi. Dia memang pantas mendapatkannya, Rin!" cetus Astrid. Dia terkekeh saat membayangkan momen Zerin menampar Zidan tadi.
"Eh aku tiba-tiba dapat ide bagus untuk membalas Zidan!" seru Gita. Satu telunjuknya di acungkan ke depan wajah. Ketiga temannya langsung memusatkan atensi kepada Gita.
"Zerin kan juga tertarik sama Zidan. Terus Kinar sudah sakit hati karena tidak sengaja dipermainkan. Bagaimana kalau Zerin jual mahal lebih dulu. Lagian kan Zerin memang sudah sering melakukannya sama banyak lelaki," jelas Gita panjang lebar. "Ini juga bisa menjadi tes buat Zidan. Apakah dia serius atau tidak sama Zerin," tambahnya.
Astrid yang mendengar tersenyum lebar. Menurutnya ide Gita sangat brilian. "Aku setuju! Idemu bagus banget, Ta!" pujinya seraya merangkul pundak Gita.
Zerin perlahan tersenyum. Karena dia merasa sependapat dengan Gita. Lagi pula dirinya ingin melakukan pembalasan atas segala tindakan tak terduga dari Zidan.
"Boleh juga," imbuh Zerin. Dia, Astrid, dan Gita saling tersenyum. Mereka segera menatap Kinar. Sebab sejak tadi gadis itu terus diam.
Kinar tersenyum. Ketika dia mengangguk, dia mendapatkan seruan bersemangat dari ketiga temannya.
Sore nyaris menjelang malam. Zerin baru saja masuk ke mobil Zidan. Zerin tampak cemberut.
Tangan Zidan meraih pergelangan tangan Zerin. Ia mendekatkan wajahnya karena ingin mencium bibir Zerin. Akan tetapi Zerin langsung membuang muka.
"Sial! Kau masih marah dengan yang tadi?" tukas Zidan merasa tak percaya.
"Kenapa kau menanggapi para wanita itu? Sepertinya jiwa playboymu belum hilang!" ucap Zerin sambil melipat tangan ke depan dada.
"Mereka teman sekelasku. Mereka semua kebetulan datang ke aula untuk melihatku melakukan pemotretan," jelas Zidan. "Lagi pula mereka sudah sadar diri setelah aku mencium pipimu tadi," lanjutnya. Wajah Zidan masih begitu dekat dengan Zerin.
"Ah, benar! Mengenai ciuman tadi. Itu benar-benar gila! Kenapa kau nekat melakukannya?!" timpal Zerin. Kini dia menatap Zidan. Wajah keduanya lantas semakin dekat. Hanya berhelat beberapa inci.
"Itu salah satu rencanaku. Dan tanggapan yang kau berikan sesuai dengan ekspetasiku..." Zidan membelai lembut rambut pendek sebahu Zerin.
"Kau bahkan tidak memberitahu rencanamu secara detail kepadaku. Tadi pagi saja kau berbohong kepadaku!" omel Zerin.
"Sudah kubilang aku ingin melakukannya secara alami." Zidan menanggapi dengan santai.
"Secara alami pantatmu!" balas Zerin. Dia terdiam sejenak dan melanjutkan, "tapi baiklah kalau maumu begitu. Aku juga punya rencana. Dan aku tidak akan memberitahumu!"
Zidan terkekeh. "Ternyata kalau disayang, sikapmu seperti anak kecil," komentarnya.
__ADS_1
Zerin sudah mengangakan mulut karena ingin balas bicara. Akan tetapi Zidan sudah lebih dulu menyumpal mulutnya dengan ciuman. Alhasil Zerin memejamkan mata, dia tidak kuasa menolak ciuman Zidan. Perlahan lelaki tersebut membawanya duduk ke atas pangkuan.