
Cinta dan uang membuat segalanya sangat indah. Tapi bagaimana dengan komitmen? - Auraliv.
...༻∅༺...
Zerin terpaksa pergi lewat jendela kamar. Namun belum sempat beranjak, pintu mendadak terbuka. Sosok Lia muncul dari sana.
Mata Zerin sontak membulat. Dia bergegas menjauh dari jendela.
"Zerin! Apa begitu caramu pergi dari rumah?!" tukas Lia sambil berkacak pinggang.
Amira yang kebetulan duduk di tepi ranjang, menunduk takut. Ia takut dirinya akan ikut-ikutan terlibat.
"Enggaklah, Bu!" Zerin membantah.
"Amira! Apa kakakmu sudah sering keluar masuk lewat jendela?!" tanya Lia.
Benar dugaan Amira, kini Lia melibatkan dirinya. Gadis itu perlahan mendongak sembari menaikkan kacamata. Amira tidak tahu harus menjawab apa.
"Halo? Apa aku juga boleh gabung?" Zidan memunculkan kepala dari balik pintu. Dia sengaja datang untuk menyelamatkan Zerin dan Amira. Sebenarnya sejak tadi dia duduk menunggu di luar.
Itulah alasan Lia harus masuk ke kamar untuk memanggil Zerin. Wanita paruh baya itu memang sudah diberitahu oleh Arni perihal rencana lamaran Zidan. Dan Lia merasa sangat senang terhadap kabar tersebut. Dengan begitu, dia tidak akan cemas lagi terhadap hubungan putrinya dan Zidan.
"Zidan... Maaf lama ya," ujar Lia. Tersenyum seraya memegangi tengkuk. "Ayo, Rin. Kamu sudah siap kan?" katanya yang kini berbicara kepada Zerin.
"Hah?" Zerin bingung. Karena di hari sebelumnya, Lia melarang untuk pergi. Tetapi sekarang? Sepertinya wanita paruh baya tersebut berubah pikiran. Entah apa alasannya.
"Jagain Zerin baik-baik ya, Dan. Jangan kecewakan aku," ucap Lia. Dia dan Amira melepas kepergian Zidan dan Zerin.
Kini Zidan dan Zerin dalam perjalanan menuju restoran. Keduanya menghening dalam sesaat.
"Ibuku sangat aneh. Kemarin dia melarangku bertemu denganmu. Tapi sekarang? Dia bahkan terkesan seperti menjualku padamu," celetuk Zerin.
Zidan mendengus kasar. Entah kenapa dia merasa kalau Lia tahu segalanya. Zidan yakin, Wira ada sangkut pautnya dengan sikap aneh Lia terhadap Zerin.
"Mungkin dia hanya tidak berani mengusirku. Harusnya kemarin aku juga menjemputmu ke rumah. Ibumu memang tipe orang yang tidak enakan," sahut Zidan sembari fokus mengemudi.
"Iya juga sih. Tapi setidaknya kita tidak berbohong kepada orang tua," ucap Zerin. Selang sekian menit, dia dan Zidan tiba di tempat tujuan.
__ADS_1
"Tunggu!" ujar Zidan. Menghentikan pergerakan Zerin yang hampir membuka pintu mobil.
"Kenapa?" tanya Zerin seraya mengernyitkan kening.
Zidan tidak menjawab. Dia malah turun dari mobil. Lalu berjalan ke pintu di sebelah Zerin. Zidan ternyata hanya ingin membukakan pintu untuk sang kekasih.
Senyuman simpul lantas terukir di wajah Zerin. Perlakuan kecil yang diberikan Zidan, membuatnya merasa diperlakukan seperti seorang putri.
"Kau kenapa mendadak sangat manis?" Zerin memegang lembut wajah Zidan.
"Karena hari ini adalah hari spesial untuk kita," jawab Zidan.
"Hari spesial?" dua alis Zerin terangkat bersamaan. Dia tentu penasaran dengan hari spesial yang dimaksud Zidan.
"Nanti kau akan tahu." Zidan menggenggam tangan Zerin. Keduanya melangkah bersama memasuki restoran.
Zidan membiarkan Zerin makan terlebih dahulu. Setelahnya, barulah dia akan beraksi.
"Ini enak banget. Dagingnya lembut," puji Zerin. Kepada makanan yang dimakannya. Zerin makan dengan lahap. Sampai tidak sengaja membuat sudut bibirnya belepotan.
"Baguslah kalau kau suka," tanggap Zidan sambil mengelap sudut bibir Zerin dengan tangannya sendiri.
"Kau mencium atau sengaja menjadikan tanganku sebagai lap untuk mulutmu?" pungkas Zidan sambil terkekeh.
"Dua-duanya," jawab Zerin. Dia dan Zidan tergelak kecil bersama.
Selepas menikmati hidangan utama, pelayan segera menyajikan makanan penutup. Saat itulah Zidan mengambil ponsel dan mengirimkan sebuah foto ke gawai Zerin.
"Kamu kirim foto apaan coba?" Zerin geleng-geleng kepala ketika melihat ada notifikasi pesan dari Zidan.
"Coba lihat dan baca," ujar Zidan.
Zerin lantas memperhatikan foto yang dikirim Zidan. Kebetulan ada dua foto yang dikirim oleh lelaki itu.
Pupil mata Zerin membesar tatkala melihat foto dari Zidan. Yang pertama ada foto Zidan dan pemilik rumah mewah idamannya sedang bersalaman. Foto kedua terdapat surat-surat kepemilikan rumah berdasarkan nama Zerin. Hal itu tentu membuat Zerin merasa begitu kaget.
"Kau sudah..." Zerin sampai tak bisa berkata-kata.
__ADS_1
"Ya, aku sudah membeli rumah yang kau inginkan itu," kata Zidan.
"Semuanya benar-benar untukku?" Zerin memastikan.
"Kau pikir aku akan membelikan untuk--"
"Kamu luar biasa, Dan! Aku merasa kata terima kasih belumlah cukup." Zerin menghampiri Zidan. Kemudian memeluk erat lelaki itu. Dia bahkan sampai mengeluarkan sedikit air mata.
"Dih! Sampai nangis," tanggap Zidan sambil terkekeh gemas. Dia mengelus pelan punggung Zerin.
"Gimana nggak nangis coba. Aku tahu rumah yang kau beli itu tidak murah!" Zerin berhenti memeluk. Sekarang wajahnya dan Zidan saling berhadapan.
Zerin menarik kerah baju Zidan. Ia mencium dalam bibir lelaki tersebut. Zerin perlahan mendudukkan diri ke pangkuan Zidan. Meneruskan ciuman menjadi lebih intens.
Zidan tentu tak bisa menolak. Dia terbuai cukup lama. Hingga Zidan akhirnya teringat perihal mata-mata yang disebutkan Wira. Zidan sontak membuka mata lebar-lebar. Ia melakukannya dalam keadaan masih berciuman dengan Zerin.
Arkan yang sejak tadi mengawasi dari jauh, langsung menundukkan kepala. Dia kebetulan menyamar menjadi seorang pelayan restoran. Arkan tentu melaporkan apa yang dilihatnya kepada Wira.
Zidan perlahan melepas tautan bibirnya dari mulut Zerin. Ia menyuruh Zerin untuk kembali ke kursinya.
"Kau kenapa? Tumben menolak." Zerin merasa dirinya ditolak. Meskipun begitu, dia segera kembali duduk ke kursinya.
"Jangan salah paham. Aku hanya ingin membicarakan sesuatu yang serius kepadamu," ucap Zidan.
"Apa?" Zerin mendengus sebal. Dia menatap malas Zidan.
Zidan melambaikan tangan kepada pelayan. Orang yang dipanggilnya segera mendekat. Lalu memberikan sebuah kotak kecil kepada Zidan.
Hembusan nafas kasar dikeluarkan Zidan dari mulut. Ia berdiri dan berjalan ke hadapan Zerin. Di sana dia duduk berlutut di bawah kaki Zerin.
"Zidan? Kau..." Zerin menenggak salivanya sendiri. Ia bisa menduga apa yang akan dilakukan Zidan.
"Zerin, maukah kau menikah denganku?" tanya Zidan.
Mata Zerin membulat sempurna. Dia tidak pernah menyangka akan mendengar kalimat itu dari mulut Zidan. Terlebih lelaki tersebut mengucapkannya sambil duduk berlutut. Kemudian membuka kotak kecil yang berisi cincin berlian.
Terdiam seribu bahasa. Itulah yang dilakukan Zerin. Akibatnya, Zidan juga dibiarkan terdiam mematung tanpa ada jawaban pasti.
__ADS_1
"Zerin, kau tidak akan menolak bukan?" tanya Zidan memastikan.
Zerin masih membisu. Memberikan suasana ambigu. Menyebabkan perasaan gelisah perlahan bersarang menghantui Zidan. Tentu ada kemungkinan Zerin akan menolak Zidan. Mengingat hubungan pacaran yang mereka jalani baru seumur jagung.