Gairah Cinta Zerin & Zidan

Gairah Cinta Zerin & Zidan
Bab 68 - Hari Pertunangan


__ADS_3

Benar bukan? Kebahagiaan itu tidak permanen. Sama seperti hidup - Auraliv.


...༻∅༺...


Setelah merasa saling terpuaskan, Zerin dan Zidan telentang bersama saling berpelukan. Dalam balutan selimut yang menutupi tubuh bugil mereka.


Zidan membiarkan Zerin merebahkan kepala ke dada bidangnya. Dia membelai rambut calon istrinya itu dengan lembut.


"Zidan, Kinar sudah tidak kuliah selama tiga hari lebih. Aku rasa dia berhenti," celetuk Zerin memulai pembicaraan.


"Mungkin dia hanya merasa tidak nyaman. Jika dia benar-benar berhenti, aku yakin itu adalah yang terbaik baginya."


Zerin mengangguk. Dia kembali penasaran akan sesuatu hal lain. "Apa kau tidak merasa kita menikah terlalu cepat?" ujarnya.


"Apa kau tidak lelah terus-terusan melakukan hal seperti ini secara sembunyi-sembunyi?" Zidan justru membalas dengan pertanyaan.


"Bukan begitu, sayang..." Zerin mengangkat kepalanya. Dia merubah posisi dalam keadaan tengkurap sambil menatap Zidan. "Kita berdua kan masih belum lulus kuliah. Apalagi masa koas sebentar lagi akan berlangsung. Sekitar dua bulan lagi kan?" sambungnya. Ia menopang dagu dengan satu tangan.


"Kau tidak perlu cemas. Aku hanya ingin menjalani hubungan dengan tenang. Selain itu, aku juga tidak mau pacarku yang cantik ini terus-terusan dirayu lelaki lain." Zidan mencubit pipi Zerin. Ulahnya sukses membuat Zerin terkekeh.


"Kau benar. Aku juga tidak mau pacarku yang tampan ini dirayu banyak wanita." Zerin mendekatkan diri sembari memegangi wajah Zidan. Hidung keduanya saling bersentuhan. Mata mereka memejam rapat.


"Oke, begini rencanaku." Zidan merubah posisi menjadi duduk. Ia mengambil celana pendek dan mengenakannya telebih dahulu.


Sedangkan Zerin memilih tetap duduk di ranjang. Menutupi badannya dengan selimut.


"Aku ingin kau dan keluargamu tinggal di rumah mewah yang kubelikan. Saat itulah kita bisa mengurus rencana pernikahan. Dari mulai pertunangan sampai seterusnya," ujar Zidan. Dia duduk ke tepi ranjang.


"Oke, jadi kapan aku bisa pindah ke rumah itu?" tanggap Zerin.


"Mungkin lusa. Kita juga harus membicarakan semua ini baik-baik dengan keluarga kita," ucap Zidan.


"Baiklah." Zerin mengangguk.


Zidan mengembangkan senyuman licik. Dia membuka selimut. Kemudian menggendong Zerin dengan gaya bridal. Zidan membawa perempuan tersebut ikut bersamanya ke kamar mandi. Mereka berakhir cekikikan bersama.


Zidan dan Zerin memutuskan bermalam di hotel. Keduanya pulang saat waktu menunjukkan jam delapan pagi. Zidan tentu mengantar Zerin pulang dahulu.

__ADS_1


"Sampai jumpa dua jam lagi." Zerin mengecup singkat pipi Zidan.


"Aku mencintaimu," sahut Zidan. Menyebabkan senyuman cerah terukir di wajah Zerin.


"Aku juga mencintaimu." Setelah berucap begitu, Zerin segera keluar dari mobil. Dia melambaikan tangan dan melepas kepergian Zidan.


Baru melangkah memasuki rumah, Zerin sudah disambut oleh Lia. Dia merasa sedikit panik. Mengingat dirinya sudah tidak pulang semalaman.


"Kau punya cincin baru?" tegur Lia. Dia sudah lama menunggu kedatangan Zerin. Awalnya Lia ingin memarahi, tetapi tidak dilakukan karena melihat cincin yang tersemat di jari manis sang putri.


"Ini dari Zidan, Bu." Zerin tersenyum cerah sambil berlari ke pelukan Lia. "Zidan melamarku!" ungkapnya.


"Benarkah? Syukurlah..." Lia merasa lega. Setidaknya Zidan dapat dipercaya. Dia sangat takut lelaki itu akan main-main dengan putrinya.


Bertepatan dengan itu, Zidan pulang ke rumah sembari bersiul. Kedatangannya langsung disambut oleh pelototan Wira. Sementara di sofa, ada Arni yang duduk. Wanita itu langsung berdiri ketika melihat kedatangan putranya.


Zidan tidak hirau. Dia berjalan santai melewati sang ayah. Lalu duduk menghempas ke sofa.


"Bagaimana? Zerin bersedia menikah denganmu kan?" Arni memastikan.


"Kau membelikan mereka rumah?" Arni kaget. Hal serupa juga dirasakan Wira. Semua dapat terlihat jelas dari ekspresi wajah yang ditunjukkan mereka.


"Iya, aku tidak akan membiarkan calon mertuaku tinggal di rumah kumuh begitu," jawab Zidan. Dia menggeliat sambil menguap.


"Benarkah?" Arni yang tidak pernah berkunjung ke rumah Zerin, merasa iba.


"Zidan! Kau kemana saja semalaman?!" timpal Wira.


"Aku tidur di hotel. Bukankah Papah tahu?" balas Zidan.


"Zidan!!" pekik Wira. Dia mengepalkan tinju di kedua tangan. "Kau pikir kemarahanku adalah candaan?!"


"Mungkin... Karena Papah hanya peduli kepada reputasi. Bukankah begitu?" tanggap Zidan. Membuat kemarahan Wira semakin memuncak.


"Pah, sudahlah..." Arni bergegas menenangkan.


"Anak ini sudah mulai berani!" ujar Wira.

__ADS_1


"Papah tenang saja. Aku dan Zerin akan berhati-hati. Toh, kami juga akan menikah."


"Tapi aku hanya tidak mau kau seperti..." Wira tidak meneruskan ucapannya.


"Seperti Kak Rena maksudmu?" tebak Zidan. Menyindir perihal kakak perempuannya.


Rena sendiri adalah kakak kandung Zidan yang telah lama pergi. Dia pergi dari rumah karena lebih memilih menikah dengan lelaki yang sangat dibenci Wira. Bagaimana tidak? Lelaki yang dicintai Rena tersebut adalah seorang kriminal. Parahnya, Rena kabur dari rumah setelah membawa uang milyaran rupiah bersama kekasihnya.


Hingga sekarang, tidak ada kabar mengenai Rena. Wira dan Arni juga hampir tidak pernah membicarakannya. Mereka hanya bisa menanggung malu atas kelakuan anak sendiri.


"Pah, percayalah. Aku tidak akan melakukan apa yang dilakukan Kak Rena terhadapmu dan Mamah," tutur Zidan seraya memegang lembut pundak Wira. Upayanya berhasil membuat perasaan ayahnya sedikit tenang. "Aku dan Zerin tidak akan melakukannya lagi sampai menikah nanti. Kami sudah sepakat akan fokus belajar," tambahnya.


"Bagus kalau begitu." Arni menyahut. Dia mengusap puncak rambut Zidan.


...***...


Satu bulan berlalu. Restoran yang dikerjakan oleh Arni dan Lia sukses besar. Zerin dan keluarganya bahkan telah tinggal di rumah mewah pembelian Zidan.


Zerin dan Zidan juga telah merampungkan persiapan untuk acara pertunangan. Mereka sering bertemu di rumah masing-masing secara bergantian.


Kabar rencana pernikahan Zerin dan Zidan juga tersebar kemana-mana. Baik di kampus maupun media. Mengingat Zidan merupakan bagian penting keluarga Dirgantara.


Hari pertunangan tiba. Zerin sudah siap dengan kebaya berwarna merah muda. Dibalut kain batik berwarna cokelat yang melilit rapi di pinggangnya.


Sementara Zidan, dia mengenakan baju batik yang sama dengan kain batik milik Zerin. Keduanya tampak serasi saat berdiri saling berdampingan.


Acara pertunangan sendiri dilakukan di restoran baru milik Lia dan Arni. Tampilannya juga sangat mewah. Properti bunga hias yang ada di sana bukan kaleng-kaleng. Semuanya merupakan bunga alami yang dirangkai sedemikian rupa.


Seluruh keluarga dan kerabat dekat berdatangan. Menyaksikan pertukaran cincin yang dilakukan Zerin dan Zidan.


Setelah acara selesai, semua orang beristirahat. Termasuk Zerin. Dia baru masuk ke ruangan ganti. Perempuan itu bercermin sambil tidak berhenti tersenyum. Ia hari ini merasa diperlakukan seperti puteri oleh semua orang.


Zerin memeriksa ponsel. Dia menemukan ada pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.


'Kau terlihat bahagia hari ini. Tapi sepertinya calon mertuamu tidak tahu siapa jati dirimu. Aku kasihan dengan mereka. Apakah perlu aku memberitahu mereka?' begtulah bunyi pesan yang dibaca Zerin. Matanya langsung membulat. Zerin bergegas menghubungi nomor tak dikenal tersebut. Nihil, nomornya justru tidak aktif.


Tangan Zerin gemetaran. Dia mencoba menelepon berkali-kali.

__ADS_1


__ADS_2