
Rasa cemas sebenarnya juga menunjukkan kepedulian - Auraliv.
...༻∅༺...
"Sialan kau, Rin!" geram Zidan sembari menahan rasa sakit. Ia sampai membungkukkan badan karena berusaha bertahan.
"Kau yang sialan!" balas Zerin. Dia segera beranjak meninggalkan Zidan.
Wajah Zidan masih meringis. Ia menyandarkan diri ke dinding. Memejamkan mata sambil memegangi bagian tubuh yang terasa sakit.
Dengan langkah pelan, Zidan masuk ke toilet. Sebagai calon dokter, dia tahu apa yang harus dilakukan. Terutama jika organ intimnya mendapat serangan. Zidan hanya perlu menunggu rasa nyeri mereda. Setidaknya sampai 30 menit hingga satu jam lamanya.
Untung saja serangan Zerin tadi tidak mengakibatkan sakit yang fatal. Sebab rasa sakitnya berhasil mereda setelah sekian menit. Zidan lantas keluar dari toilet. Dengan ekspresi yang cemberut tentu saja.
Zidan tidak akan melupakan apa yang dilakukan Zerin terhadapnya. "Sepertinya dia ingin mengajak berperang. Baiklah kalau itu yang dia mau," gumamnya bertekad.
Langkah dilajukan Zidan. Dia hendak bergabung dengan Ernest dan Jaka. Saat itulah Zidan melihat Zerin bersama ketiga temannya. Lelaki tersebut tersenyum ketika Kinar menyapa dengan lambaian tangan.
Zidan memutuskan untuk menghampiri Kinar. Hal itu sontak membuat mimik wajah Zerin berubah langsung cemberut.
"Zidan! Sini gabung bareng kami. Kamu bisa duduk di sebelah aku," seru Kinar kegirangan. Dia memberi ruang kosong untuk Zidan duduk.
"Makasih. Tapi aku ke sini cuman pengen ajak Kinar bicara sebentar," ujar Zidan ramah. Sikapnya berubah drastis saat dia hanya berduaan dengan Zerin.
"Mau ngapain?!" belum sempat Kinar menjawab, Zerin sudah lebih dulu bicara. Bahkan dengan ekspresi wajah serta nada sinisnya.
"Maaf, aku ngajak Kinar. Bukan kamu," sahut Zidan.
"Aku hanya berusaha melindungi temanku dari lelaki jahat," balas Zerin tak ingin kalah. Namun dia mendapat tatapan heran dari Kinar, Astrid, dan Gita.
"Rin, kamu kenapa ngomong begitu?" tegur Kinar. Ia jadi merasa malu kepada Zidan. Mengingat dirinya sangat menyukai lelaki tersebut. Kinar tentu tidak suka melihat Zerin bersikap begitu.
"Ah, jadi begitu pandangan kalian terhadapku. Kalau begitu ya sudah. Aku akan pergi." Zidan berpura-pura mengalah. Dia segera beranjak dari hadapan Zerin dan kawan-kawan.
"Rin, kamu kok tega ya! Aku tuh nggak pernah bersikap sinis sama lelaki yang dekatin kamu. Sekarang apa? Jangan bilang kau merasa iri sama aku? Karena Zidan lebih memilih ingin dekat denganku dibanding kamu!" pungkas Kinar.
Astrid dan Gita sama-sama bungkam. Mereka sebenarnya heran sekaligus penasaran dibalik sikap aneh Zerin tadi.
__ADS_1
"Nggak! Bukan begitu, Nar. Aku cuman..." Zerin berusaha memperbaiki kesalapahaman. Namun perkataannya terhenti, karena Kinar terlanjur pergi. Temannya itu terlihat mengejar Zidan.
Zerin lantas hanya bisa mematung. Menatap nanar punggung Kinar yang kian menjauh.
"Kinar benar. Kamu kenapa begitu, Rin? Itu tadi kasar banget tahu nggak. Iyakan?" imbuh Gita sembari menyenggol Astrid dengan siku.
"Iya, nggak biasanya kau begitu." Astrid sependapat dengan Gita. Mereka menatap Zerin penuh tanya. Menanti jawaban lebih lanjut.
Zerin terdiam sejenak. Dia berpikir. Jika dirinya mengatakan yang sebenarnya, pasti Zidan tidak akan tinggal diam. Ia tahu lelaki tersebut bukanlah lawan yang mudah mengalah. Alhasil Zerin hanya mengucapkan alasan seadanya.
"Aku cuman berfirasat aja. Aku merasa kalau Zidan bukan lelaki baik-baik," ungkap Zerin.
"Jadi hanya karena firasat buruk doang?" Astrid merasa tak percaya. Begitupun Gita. Keduanya reflek saling bertukar pandang.
"Kalau begitu, sebaiknya kita lihat aja dulu gimana nantinya. Kalau benar Zidan bukan lelaki baik, nanti pasti ketahuan kok," ucap Gita.
Zerin mengangguk. Dia mengukir senyuman kecut.
"Tapi menurutku Zidan lelaki baik. Secara dia adalah anaknya Pak Wira Dirgantara," cetus Astrid yang langsung dianggukkan oleh Gita. Mereka lagi-lagi sependapat.
Zerin hanya bisa mendengus kasar. Dia benar-benar cemas kalau Zidan melakukan hal buruk kepada Kinar.
Langkah Zidan terhenti ketika Kinar memanggil. Dia berseringai puas. Dirinya memang sudah menduga kalau Kinar pasti akan mengejar.
"Aku minta maaf atas nama Zerin. Omongannya tadi pasti membuatmu tersinggung," kata Kinar. Mengerutkan dahi samar.
"Iya, itu memang membuatku tersinggung. Karena dia blak-blakan bilang aku lelaki jahat. Padahal aku sama sekali nggak kenal dengan dia," ucap Zidan.
"Maaf ya. Kamu mau maafin kan?" Kinar meraih salah satu tangan Zidan. Lalu menggenggamnya dengan lembut.
Zidan tersenyum tipis. Dia mengangguk dan berucap, "Aku akan maafin karena dia temanmu."
"Makasih ya." Kinar tersenyum senang. "Oh iya, katanya tadi kamu mau ngomong sesuatu sama aku. Apaan?" tanya-nya. Meneruskan pembicaraan.
"Ini mengenai ciuman yang terjadi tadi pagi," jawab Zidan seraya memasang ekspresi serius.
"Terus?" Kinar tidak sabar menunggu penjelasan Zidan.
__ADS_1
"Aku tidak mau itu terjadi tanpa status. Maksudku..."
"Kau dan aku... Pacaran?" tebak Kinar dengan nada meragu. Ia menggigit bibir bawahnya. Takut terkaannya salah.
"Ya, itu maksudku. Kamu mau kan jadi--"
"Tentu saja mau!"
Belum sempat Zidan selesai bicara, Kinar sudah lebih dulu memberi jawaban. Dia tidak bisa membendung rasa bahagianya. Gadis itu bahkan nyaris saja berteriak nyaring. Akan tetapi Kinar lekas-lekas membekap mulutnya sendiri. Lalu tertawa kecil bersama Zidan.
Waktu sudah menunjukkan jam tiga sore. Zerin baru saja beranjak dari kampus. Kebetulan kala itu dia dijemput oleh Adi. Mereka akan berangkat berbelanja ke sebuah mall.
Zerin masuk ke mobil Adi. Duduk di samping lelaki yang telah menjadi kekasihnya itu.
"Akhirnya kita bisa kencan lagi. Maaf ya kemarin aku nggak bisa karena hari itu ada banyak pasien untuk ditangani," ucap Adi seraya menjalankan mobil.
"Nggak apa-apa, Sayang. Yang penting kita tetap bisa jalan sekarang," tanggap Zerin. Jujur saja, wajahnya terlihat gelisah. Dia masih memikirkan perihal kedekatan Zidan dan Kinar. Terlebih Zerin baru saja mendapatkan kabar dari grup chat bahwa Kinar dan Zidan resmi berpacaran.
Hening menyelimuti suasana. Adi akhirnya sadar kalau ada yang berbeda dengan Zerin. Perempuan itu lebih pendiam dari biasanya.
"Zerin? Kamu kenapa? Apa ada masalah yang kau pikirkan?" celetuk Adi. Memastikan keadaan Zerin.
"Aku nggak apa-apa. Cuman kepikiran sama tugas kuliah yang belum selesai," kilah Zerin sambil mengusap tengkuk tanpa alasan.
Zerin sangat mencemaskan Kinar. Dia takut temannya itu akan mendapat perlakuan yang tidak-tidak oleh Zidan. Terutama mengenai hobi lelaki tersebut yang gemar mengambil foto wanita telanjang.
Tanpa berpikir lama, Zerin mengambil ponsel. Dia mengirim pesan kepada Kinar. Menanyakan keberadaan temannya itu.
Kinar hanya membalas satu kata. Dia menuliskan kata 'cafe' untuk merespon pesan Zerin.
'Apa dia di cafe bersama Zidan?' benak Zerin bertanya-tanya. Dia lantas menanyakan hal tersebut kepada Kinar. Tanpa diduga, Zerin langsung mendapat telepon dari Kinar.
"Kinar, kamu..."
"Rin! Kamu itu kenapa? Kamu khawatir sama aku atau cemburu sih? Kalau suka sama Zidan bilang aja!" Kinar menimpali dari seberang telepon. Dia memotong ucapan Zerin begitu saja.
"Enggak, Nar. Bukan begitu. Aku cuman pengen kamu hati-hati aja..." sahut Zerin menciut. Dia jadi merasa tidak enak.
__ADS_1
"Aku bukan anak kecil lagi, Rin. Aku bisa jaga diri aku sendiri!" Kinar mengakhiri panggilan lebih dulu.