
Semuanya tidak selalu berjalan mulus - Auraliv.
...༻∅༺...
Waktu menunjukkan jam satu siang. Zidan dan Zerin segera kembali ke hotel. Takut kalau keluarga mereka akan mencari. Keduanya juga mendapat telepon dari keluarga masing-masing.
Zerin baru saja tiba ke kamar. Wajahnya terlihat begitu cerah. Dia memang sedang berbunga-bunga.
"Kemana saja, Rin? Pergi kok nggak bilang-bilang?!" timpal Lia dengan dahi yang berkerut dalam.
"Aku cuman keliling sekitar sini, Bu..." jawab Zerin lembut.
"Keliling? Harusnya Amira juga diajak dong. Jalan mau sendiri saja!" omel Lia. Kemarahannya sebenarnya karena merasa khawatir. Sebagai orang tua, dia tentu mencemaskan keberadaan Zerin yang mendadak hilang.
"Sudahlah, Bu. Mungkin Kak Zerin jalan berduaan sama Kak Zidan. Orang pacaran emang serunya kalau jalan berduaan," cetus Amira.
"Mir! Siapa bilang aku pergi sama Zidan. Tadi cuman ketemu sebentar," jelas Zerin yang sedikit gelagapan.
"Mau ketemu atau enggak, harusnya kamu izin dulu kalau mau pergi!" balas Lia. Dia segera masuk ke kamar mandi.
Zerin dan keluarganya makan siang bersama yang lain. Termasuk keluarga Dirgantara. Mereka makan di restoran yang ada di hotel. Kebetulan hotel tersebut berada tidak jauh dari pintu menuju pantai.
Setelah makan, Arni mengajak semua orang untuk jalan-jalan ke pantai. Zerin dan Zidan yang menjadi bagian dari rombongan, tentu akan ikut.
Hanya Wira yang tidak ikut. Kebetulan dia tidak sengaja bertemu dengan rekan kerja lamanya. Wira ingin membicarakan bisnis lama yang sempat tertunda.
Zidan berjalan sambil memegangi kamera. Ia mengambil foto semua orang secara bergantian. Mereka tampak menikmati kegiatan seolah sedang berlibur.
Puas bersenang-senang, Arni mengajak Lia dan yang lain untuk menikmati es kelapa. Kini semua orang berjalan menuju kedai es kelapa.
Zerin berjalan paling belakang dibanding yang lain. Tanpa sepengetahuannya, Zidan mengikuti. Lelaki itu meraih tangan Zerin. Lalu memisah dari rombongan.
"Zidan! Nanti aku dimarahi Ibuku lagi loh," protes Zerin sembari menyamakan langkah dengan Zidan yang berjalan lebih dulu.
"Oke. Mending sekarang kamu kirim pesan sama Ibumu kalau kita jalan-jalan berdua sebentar," ujar Zidan.
"Ibuku tidak punya ponsel. Tapi aku akan mengirim pesan pada Amira," tanggap Zerin yang langsung berkutat dengan layar ponsel.
"Apa? Ibumu tidak punya ponsel? Kenapa kau tidak membelikannya?!" Zidan kaget mendengar fakta bahwa Lia tidak memiliki ponsel.
__ADS_1
"Aku sudah membujuknya. Tapi dia terus menolak untuk dibelikan ponsel!" sahut Zerin. Atensinya masih terpaku pada ponsel. Sampai sebuah ide terlintas dalam benaknya. "Ah benar, bagaimana kalau kau yang membelikan ibuku ponsel? Aku yakin dia tidak akan menolak," ucapnya.
"Aku baru saja berpikir begitu." Zidan setuju. Dia mengajak Zerin menjauh dari hotel. Keduanya mendatangi sebuah toko pakaian da-lam.
"Mau ngapain ngajak ke sini? Jangan melakukan yang aneh-aneh lagi ya?!" tukas Zerin.
"Enggak! Aku cuman mau belikan kamu baju renang yang bagus," jawab Zidan. Dia terlihat sudah memilih-milih pakaian yang ada di toko.
"Cih! Bilang saja mau lihat aku pakai bikini. Iyakan?" tebak Zerin.
Zidan tidak kuasa menahan senyum. Meskipun begitu, dia fokus mencarikan setelan renang yang cocok untuk Zerin.
"Nih! Langsung pakai!" titah Zidan. Dia memilihkan setelan renang berwarna putih tulang untuk Zerin.
"Nggak seksi amat ternyata pilihanmu," komentar Zerin.
"Aku pilih ini karena nggak mau punya saingan!"
"Dih! So sweetnya..." Zerin merasa gemas. Ia mencubit salah satu pipi Zidan. Kemudian segera mengenakan pakaian yang dipilihkan Zidan.
Walau mengenakan baju renang, Zerin tetap mengenakan kain pantai agar pakaiannya tidak terlalu terbuka. Ia mengikat kain tersebut ke pinggul. Selanjutnya, dia dan Zidan segera melangkah menuju pantai.
Zerin dan Zidan bermain di air laut dalam beberapa saat. Saling bercanda gurau dan tertawa. Setelah itu, mereka memilih salah satu posisi nyaman untuk duduk.
Zerin menjadikan kain yang terikat dipinggul sebagai alas duduk. Dia dan Zidan duduk bersebelahan menghadap pantai.
"Zidan! Buka bajumu! Tidak adil jika hanya aku yang berpakaian minim," imbuh Zerin seraya sedikit memanyunkan mulut.
"Bukain. Aku lagi sibuk cek foto-foto tadi," kilah Zidan sambil berlagak sibuk dengan kameranya.
Zerin menghela nafas kasar. Dia segera membuka kancing baju Zidan. Lelaki itu lantas menanggalkan bajunya. Hingga tampilan Zidan sekarang tampak bertelanjang dada.
Untuk yang kesekian kali, Zerin mendengus kasar. Dia memperhatikan hamparan laut yang luas di depannya.
"Zerin..." panggil Zidan lembut. Membuat Zerin sontak menoleh. Zidan mengambil kesempatan itu untuk mengambil foto Zerin. Ia tergelak geli ketika usahanya sukses besar.
Ilustrasi foto candid Zerin :
__ADS_1
"Zidan! Kenapa selalu nggak bilang-bilang kalau mau foto?!" geram Zerin. Dia mencoba merampas kamera Zidan. Akan terapi lelaki tersebut sigap menjauhkan kamera dari jangkauan Zerin.
"Biarin! Aku suka yang natural," balas Zidan. Dia menjulurkan lidah untuk mengejek Zerin.
Lidah Zerin berdecak kesal. Dia mencoba berjalan menjauh dari Zidan. Akan tetapi lelaki itu sigap menghentikan.
Zerin yang hendak berdiri, otomatis kembali terduduk. Perempuan itu duduk dalam posisi membelakangi Zidan.
Tangan Zidan perlahan melingkar untuk memeluk. "Jangan ngambek, aku tadi sempat mengambil fotomu saat tertawa. Dan ini sangat natural dan cantik," ungkapnya sembari memperlihatkan foto yang dimaksud.
Ilustrasi foto natural Zerin :
"Bagus banget. Aku minta ya," ucap Zerin Ia memegang lembut jari-jemari Zidan. Lalu menyandar kan kepala ke belakang. Tepat ke pundak Zidan. Keduanya bertukar tatapan lekat.
Zidan segera menyatukan bibirnya dengan Zerin. Mereka berciuman lembut.
Dari arah kanan, Wira dan rekan kerjanya berjalan sambil mengobrol. Dari kejauhan Wira dapat menyaksikan dua pasangan yang asyik berciuman.
Deg!
Jantung Wira berdebam keras. Bagaimana tidak? Lelaki yang sekarang sibuk berciuman adalah putranya sendiri. Mata Wira membulat sempurna. Dia mematung di tempat. Merasa tidak percaya dengan kelakuan Zidan. Wira semakin terkejut saat memastikan perempuan yang bersama Zidan adalah Zerin.
"Wir? Kamu kenapa?" rekan kerja Wira yang bernama Timo memanggil. Dia heran menyaksikan aksi Wira yang tiba-tiba terdiam. Timo lantas ikut menoleh ke tempat yang sama dengan Wira.
"Tim, ayo kita minum es kelapa! Sepertinya pantai tidak cocok denganku." Wira dengan cepat membalikkan badan Timo. Agar temannya tersebut tidak melihat apa yang dia lihat. Sebagai orang tua, Wira tentu melakukan yang terbaik untuk sang putra. Termasuk menjaga aibnya.
"Baiklah kalau begitu." Walau terheran, Timo menurut saja dengan ajakan Wira. Mereka beranjak jauh dari posisi Zidan dan Zerin.
Karena melihat kelakuan tidak senonoh putranya, Wira memutuskan berhenti membahas bisnis dengan Timo. Dia memilih pergi ke kamar dan langsung menelepon Zidan.
"Zidan! Cepat temui aku ke kamar," ujar Wira. Dia berusaha menahan amarah.
"Ada apa, Pah?" jawab Zidan dari seberang telepon.
"Tidak usah banyak tanya! Cepat ke sini!" bentak Wira.
"I-iya, Pah!" Zidan tergagap. Dia tentu takut mendengar sang ayah tiba-tiba marah.
__ADS_1