
Semua orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Tapi bagaimana dengan sebaliknya? - Auraliv.
...༻∅༺...
"Zerin?" Wira memastikan. Takut kalau telinganya salah dengar.
"Zerin anak Bi Lia?" tanya Arni.
Zidan tersenyum dan mengangguk. Arni dan Wira reflek bertukar pandang. Mereka sedikit terkejut. Keduanya tentu tidak akan menduga kalau perempuan yang telah membuat Zidan jatuh cinta adalah Zerin.
"Aku tidak bisa membantah. Zerin memang sangat cantik. Dia juga pintar dan sopan," ujar Arni. Dia jelas memberikan lampu hijau untuk hubungan asmara putranya.
"Maksudmu Zerin yang sering ke sini itu kan?" Wira bertanya kembali. Sebab dia belum sepenuhnya yakin.
"Iya, Pah. Siapa lagi dong," sahut Arni sembari melirik Zidan yang terlihat menikmati sarapan.
"Pantesan Zidan suka. Orangnya cantik banget begitu kok. Aku dengar dia salah satu mahasiswi berprestasi di kampus." Wira akhirnya ingat tentang sosok Zerin. Perempuan yang terlampau sering mengunjungi rumahnya bersama Lia.
"Zidan, jaga anak orang baik-baik ya. Bi Lia sayang banget loh sama Zerin. Oh iya, apa Bi Lia sudah tahu tentang hubunganmu dan Zerin?" pungkas Arni. Menatap Zidan penuh tanya.
"Sudah, Mah. Dia orang pertama yang tahu," jawab Zidan. Membuat raut wajah Arni dan Wira seketika cemberut.
"Tega banget kamu. Orang tuamu dikasih tahu belakangan," protes Arni.
Zidan terkekeh. "Bi Lia kan ibunya Zerin. Wajar dong kalau dia duluan tahu. Soalnya takut beliau nanti salah paham," jelasnya. Mencoba meluruskan.
"Eh tapi, Pah, Mah. Aku ingin ini dirahasiakan dulu dari orang lain. Aku sama Zerin ingin menjalani semuanya pelan-pelan. Aku kasih tahu kalian biar kami nggak salah arah," ucap Zidan lagi.
"Dih! Anak Papah ini jantan banget. Kamu itu ya! Selalu berhasil bikin Papah bangga." Wira menepuk pelan pundak Zidan. Tatapan penuh kekaguman dipancarkannya. Hal serupa juga dilakukan Arni.
"Papah sama Mamah nggak akan mempermasalahkan status Zerin kan?" tanya Zidan. Menatap Wira dan Arni secara bergantian.
"Ck, status itu bukan masalah untukku dan Papahmu. Yang terpenting orangnya baik dan bisa dipercaya," ungkap Arni.
"Makasih, Pah, Mah..." kata Zidan. Dia segera beranjak dari meja. Tepat setelah menghabiskan makanan.
__ADS_1
Kini hanya tinggal Arni dan Wira berduaan. Mereka segera bergosip membicarakan putra sendiri.
"Kalau begini ceritanya, aku merasa tidak tega membiarkan Bi Lia menjadi pembantu kita," imbuh Arni.
"Kau bicara seperti Zidan akan menikah saja. Dia kan masih berpacaran," tanggap Wira sambil geleng-geleng kepala. Dia tampak menyesap kopinya sampai tandas.
"Tapi tetap saja, Pah." Arni menepuk paha sang suami. Dia menghela nafas panjang.
Tak lama kemudian, Lia datang. Atensi Wira dan Arni otomatis menuju ke arahnya.
"Bi Lia, bisa duduk bareng kita sebentar?" ajak Arni ramah.
Lia yang terlihat heran, menurut saja. Dia segera duduk di salah satu kursi yang kosong.
Arni dan Wira langsung bercerita mengenai hubungan Zidan dan Zerin. Kabar itu membuat Lia kaget. Dia sekarang tahu kalau Zidan sudah memberitahu segalanya kepada Arni dan Wira. Sungguh, Lia merasa semakin kagum dengan Zidan. Selain karena Zidan menerima Zerin apa adanya, tetapi juga karena dia tidak malu terhadap status sosial yang ada.
Dari depan pintu, Zidan berdiri menyandar ke dinding. Sejak tadi dia mendengarkan pembicaraan kedua orang tuanya dan Lia. Senyuman tipis terukir di wajah Zidan. Apalagi setelah tahu segalanya berjalan lancar. Alhasil dia segera kembali ke kamar.
Selepas mandi, Zidan memberi kabar kepada Zerin lewat telepon. Perempuan tersebut tidak menyangka Zidan melakukannya begitu cepat.
"Justru sebaliknya. Mereka sangat senang. Aku--"
"Zidan!" Panggilan Wira dari luar, berhasil mengganggu obrolan Zidan di telepon.
"Papah memanggilku. Nanti kita bicarakan lagi." Zidan mematikan telepon setelah mendengar kata ya dari Zerin.
Pintu perlahan terbuka, sosok Wira muncul dengan setelan pakaian rapi. Dia mengajak Zidan untuk ikut kegiatan amal. Sebenarnya dia selalu melakukannya setiap minggu. Jika tidak bisa datang, terkadang Wira menyuruh Zidan untuk menggantikan. Tetapi sekarang sepertinya Wira ingin pergi bersama putranya.
Zidan dan Wira telah ada di mobil. Zidan menjadi orang yang bertugas menyetir. Sedangkan Wira duduk di sebelah.
"Sudah berapa lama kau dan Zerin berpacaran?" celetuk Wira. Memulai pembicaraan.
"Baru saja, Pah. Seumur jagung bahkan belum sampai," jawab Zidan. Dia terkekeh bersama Wira.
"Tidak perlu buru-buru. Jalani saja semuanya pelan-pelan. Masa depanmu dan Zerin masih panjang. Apalagi kalian kan sama-sama berkuliah di jurusan kedokteran. Proses pendidikannya lebih panjang dari pendidikan lain." Wira berujar seraya menatap ke arah depan.
__ADS_1
"Iya, Pah. Aku kan sudah bilang kalau kami akan menjalaninya pelan-pelan." Zidan menjawab tenang. Selang sekian menit, dia dan Wira tiba di tempat tujuan. Kedatangan mereka disambut oleh orang banyak. Terutama dari kalangan pejabat dan pebisnis.
Kebetulan orang besar seperti Wira juga dekat dengan banyak pejabat. Tidak jarang dia ditawarkan untuk terjun ke dunia politik. Akan tetapi Wira masih enggan untuk berkarir di dunia yang berkaitan dengan pemerintahan itu.
Zidan berusaha bersikap ramah seperti biasa. Di saat tertentu, dia lebih memilih memisah dari Wira. Zidan menyapa anak-anak yatim piatu yang hadir. Lelaki tersebut memang sering bersikap nakal, tetapi dia juga manusia bukan? Zidan tentu mempunyai sisi baik dalam dirinya.
Jujur saja, Zidan sering memberikan uang tanpa pamrih kepada anak-anak yatim piatu. Sekarang saja dia memberikan uang seratus ribu rupiah kepada mereka. Zidan menyuruh petugas amal untuk membagikan uang yang sudah disiapkannya. Dia tentu mendapatkan terima kasih dari anak-anak. Punggung tangannya mendapatkan ciuman oleh anak-anak secara bergantian.
Zidan mendengus kasar. Sedari tadi sebuah kamera dipegang oleh satu tangannya. Yaitu kamera berukuran kecil yang harganya puluhan juta. Zidan menggunakan kamera tersebut untuk mengambil gambar. Dia mencoba membuat foto biasa untuk melupakan kebiasaan buruknya.
"Boring..." keluh Zidan. Mengambil foto yang biasa-biasa saja bukanlah kesukaannya. Dia suka hal yang menantang dan berkesan. Alhasil Zidan berjalan sendirian ke belakang bangunan. Dimana di sana terdapat jalanan beraspal yang sepi.
Dari kejauhan, Zidan bisa menyaksikan ada seorang gadis yang jatuh dari motor. Karena jalanan sepi, jadi tidak ada yang menolong gadis tersebut.
Zidan bergegas menghampiri. Dia segera membantu mengangkat motor gadis itu.
"Terima kasih..." ucap sang gadis. Dia tidak lain adalah Amira. Pupil matanya membesar ketika menyaksikan sosok Zidan.
"Apa kau terluka?" tanya Zidan.
"Hanya sedikit." Amira memperlihatkan luka lecet di mata kakinya. Itu tampak mengeluarkan sedikit darah.
"Luka sedikit begitulah yang memberikan nyeri," ujar Zidan. Sejak tadi dia tidak menatap wajah Amira. Saat mengangkat kepala untuk melihat wajah gadis di hadapannya, barulah Zidan sadar kalau dia Amira. Adiknya Zerin.
"Kau Amira kan? Adiknya Zerin?" Zidan memastikan.
"Iya, Tuan." Amira mengangguk sambil tersenyum. Dia memperbaiki kacamata berulang kali. Wajah Amira juga tampak tersipu malu. Nampaknya pernyataannya mengenai kekaguman terhadap Zidan bukanlah candaan.
"Tolong jangan panggil Tuan lagi. Panggil saja Kak Zidan, kan lebih enak. Ayo kita obati lukamu." Zidan menaiki motor Amira. Siap membonceng gadis itu ke tempat terdekat. Tepatnya ke lokasi yang bisa mengobati luka Amira.
..._____...
Catatan Author :
Tenang aja readers. Di sini gak bakalan ada yang namanya pelakor atau pebinor. Amira cuman selipan untuk jadi konflik kecil berikutnya.
__ADS_1